ARTIKEL PINTASAN

Monday, April 20, 2015

Juggernaut Media

Ilustrasi (Foto: Blogspot)
Pengurus Divisi Penanganan Terorisme Kepolisian Malaysia, Datuk Ayob Khan Pitchay, Senin (23/02), seperti dilansir The Straits Times, menyatakan kekhawatirannya atas intensitas terorisme Negara Islam Irak-Suriah (ISIS). Ayob Khan Pitchay menyatakan bahwa kelompok ISIS memiliki cara perekrutan baru, yakni menghasut melalui jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter.
Sebelumnya, pekan lalu, tim antiteror di Negeri Jiran itu telah mengamankan seorang perempuan yang dicurigai akan bergabung ke ISIS di Suriah. Berdasarkan penelusuran kepolisian Malaysia, perempuan tersebut terpedaya atas tawaran nikah dari salah seorang kelompok ISIS melalui jejaring sosial media.
Beberapa kali kelompok pemberontak yang bermarkas di Suriah itu menjalankan kampanye publik melalui media sosial. Berita pemenggalan seorang sandera, berita penyanderaan jurnalis, hingga ritual keagamaan diunggah ke media sosial Youtube.
Di lain cerita, akhir tahun kemarin, 2014, tersiar kabar “kematian” beberapa media massa cetak. Ada media harian, mingguan, dwimingguan, hingga bulanan. Dari berupa koran hingga majalah, di antaranya kabar “kematian” Jurnal Nasional (Jurnas) dan majalah Fortune.
Dalam sebuah diskusi di salah satu stasiun televisi swasta, Arianna Huffington menyatakan, proyek digitalisasi adalah proyek besar dunia saat ini karena pada masa ini manusia telah kecanduan smartphone. Dia menjelaskan, manusia membutuhkan smartphone sejak manusia bangun tidur hingga tertidur kembali.
Dari paparan Arianna –pendiri Huffington Post- ihwal kebutuhan √§lat digital” itulah dapat dipahami wajaran kabar “kematian” media-media cetak tersebut.

Juggernaut
Media dalam hal ini berwajah dua. Di satu sisi bertindak seperti pasar (market), sementara di sisi lain bertindak sebagai pengendali pasar (market driven). Di satu sisi media massa adalah citra, di sisi lain bertindak sebagai pengendali citra. Demi menjaga entitasnya sebagai pasar itu, tentu media harus berinovasi dan mau bergelagat dinamis mengikuti kebiasaan –dalam pendekatan kebudayaan, Bourdieu menggunakan istilah habitus- masyarakat sesuai zamannya.
Antara peristiwa penggunaan media sosial ISIS dan “kematian” media-media cetak itu menunjukkan pergeseran konvensional, ortodoks, maupun konservatif ke era baru. Benang merahnya ialah new media (media baru), yang disebut internet (lintas keterhubungan), melalui sistem ekonomi politik yang berwadah globalisasi. Dengan kecepatan, transformasi “yang lalu” menjadi “yang kini” begitu sangat cepat. Lintas keterhubungan membuat batas-batas geografis menjadi tidak jelas akibat skema ekonomi politik globalisasi. Kecepatan bagi subjek-subjek merupakan prioritas kebutuhan. Di sinilah jurggernaut (kendaraan ganas) –istilah Antony Giddens- menjebak, merusak, ataupun menghardik hal ihwal yang bersifat konservatif.
Dengan meminjam istilah juggernaut Antony Ginddens, transformasi media massa yang berlandaskan kecepatan menunjukkan bahwa new media memang dibutuhkan guna memenuhi kebutuhan di tengah kehidupan globalisasi saat ini. Di sisi lain banyak risiko yang ditimbulkan juggernaut tersebut. Juggernaut media massa adalah kendaraan ganas yang digunakan media massa saat ini demi menjalani proses produksi-sirkulasi informasi.
Semua subjek ikut bergerak cepat. Tak ingin terlindas, tak ingin terpuruk, tak ingin terbunuh oleh juggernaut. Institusi, seperti Polisi dan Miiter (aparatus), harus bergerak cepat mengikuti subjek pasar. Menteri dan Presiden pun tak menjadi apa-apa (liyan) di tengah-tengah rakyat apabila kinerjanya bergerak lamban –begitu contoh yang tampak belakangan ini, publik tampak “greget” karena penuh harap Presiden Jokowi bergerak cepat atas peristiwa kisruh KPK-Polri dan isu-isu lainnya.
Informasi dan teknologi, turunan wawasan pengetahuan dan pengetahuan sains, adalah objek yang direproduksi subjek-subjek zaman. Keduanya menjadi ruh juggernaut, hingga pada akhirnya termanifestasi menjadi media massa.
Ibarat kereta, informasi dan teknologi yang berkembang pesat serupa kereta berbahan bakar listrik. Bergerak cepat untuk mengakomodasi penumpang yang membutuhkan kecepatan waktu. Sementara, sebelum kereta listrik berkembang, kereta berbahan bakar batu bara dianggap fungsional. Setelah kereta listrik berkembang dan muncul kereta-kereta dengan laju kecepatan tinggi, kereta berbahan bakar batu bara dianggap tak fungsional lagi.
Begitu pun media, yang lambat dianggap tak fungsional. Media bergerak cepat tanpa ampun. Begitulah juggernaut yang mereproduksi antara kebenaran dan seduksi, yang menyajikan antara hakikat dan ketampakan semata, menyajikan antara ideologi (tendensius) dan pengetahuan (objektif), menyajikan antara kecerdasan dan kebodohan.
Semakin bergerak cepat, juggernaut media akan semakin disenangi pembacanya (user). Tak peduli ketepatan (validitas) dan keberimbangan. Semakin modern suatu zaman, seperti dikatakan Jim Hall, fungsi media massa semakin tampak interaktifitasnya (two way communication and interpersonal communication). Interaksi menjadi satu indikasi kecepatan media. Bayangkan, dahulu interaksi di media massa, antara pembaca dan pengelola media, harus berkirim surat sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Kini hal itu dianggap usang.
Pada akhirnya, kemenangan jatuh pada “siapa yang lebih cepat”. Media yang cepat akan selalu digandrungi pembaca, meski selalu menuai kritik atas dampak kecepatannya.
Bagi ISIS, media sosial adalah alat juggernaut mereka, meski bukan berarti sesungguhnya mereka menyenangi media sosial itu seutuhnya. Paling tidak, kebutuhan kampanye ISIS dapat terakomodasi secara cepat.


Fredy Wansyah

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes