![]() |
Ilustrasi (Foto: Blogspot) |
Pengurus Divisi
Penanganan Terorisme Kepolisian Malaysia, Datuk Ayob Khan Pitchay, Senin
(23/02), seperti dilansir The Straits Times, menyatakan kekhawatirannya
atas intensitas terorisme Negara Islam Irak-Suriah (ISIS). Ayob Khan Pitchay
menyatakan bahwa kelompok ISIS memiliki cara perekrutan baru, yakni menghasut
melalui jejaring sosial, seperti Facebook dan Twitter.
Sebelumnya, pekan
lalu, tim antiteror di Negeri Jiran itu telah mengamankan seorang perempuan
yang dicurigai akan bergabung ke ISIS di Suriah. Berdasarkan penelusuran
kepolisian Malaysia, perempuan tersebut terpedaya atas tawaran nikah dari salah
seorang kelompok ISIS melalui jejaring sosial media.
Beberapa kali
kelompok pemberontak yang bermarkas di Suriah itu menjalankan kampanye publik
melalui media sosial. Berita pemenggalan seorang sandera, berita penyanderaan
jurnalis, hingga ritual keagamaan diunggah ke media sosial Youtube.
Di lain cerita,
akhir tahun kemarin, 2014, tersiar kabar “kematian” beberapa media massa cetak.
Ada media harian, mingguan, dwimingguan, hingga bulanan. Dari berupa koran
hingga majalah, di antaranya kabar “kematian” Jurnal Nasional (Jurnas) dan
majalah Fortune.
Dalam sebuah
diskusi di salah satu stasiun televisi swasta, Arianna
Huffington menyatakan, proyek digitalisasi adalah proyek besar dunia saat ini
karena pada masa ini manusia telah kecanduan smartphone. Dia menjelaskan, manusia membutuhkan smartphone sejak manusia bangun tidur
hingga tertidur kembali.
Dari paparan Arianna –pendiri Huffington Post-
ihwal kebutuhan älat digital” itulah dapat dipahami wajaran kabar “kematian” media-media
cetak tersebut.
Juggernaut
Media dalam hal
ini berwajah dua. Di satu sisi bertindak seperti pasar (market), sementara di sisi lain bertindak sebagai pengendali pasar
(market driven). Di satu sisi media massa adalah citra, di sisi lain bertindak
sebagai pengendali citra. Demi menjaga entitasnya sebagai pasar itu, tentu
media harus berinovasi dan mau bergelagat dinamis mengikuti kebiasaan –dalam pendekatan kebudayaan, Bourdieu
menggunakan istilah habitus- masyarakat sesuai zamannya.
Antara
peristiwa penggunaan media sosial ISIS dan “kematian” media-media cetak itu menunjukkan
pergeseran konvensional, ortodoks, maupun konservatif ke era baru. Benang merahnya
ialah new media (media baru), yang
disebut “internet” (lintas keterhubungan), melalui sistem ekonomi politik yang
berwadah globalisasi. Dengan kecepatan, transformasi “yang lalu” menjadi “yang
kini” begitu sangat cepat. Lintas keterhubungan membuat batas-batas geografis menjadi
tidak jelas
akibat skema ekonomi politik globalisasi. Kecepatan bagi subjek-subjek
merupakan prioritas kebutuhan. Di sinilah jurggernaut
(kendaraan ganas) –istilah Antony Giddens-
menjebak, merusak, ataupun menghardik hal ihwal yang bersifat konservatif.
Dengan meminjam
istilah juggernaut Antony Ginddens,
transformasi media massa yang berlandaskan kecepatan menunjukkan bahwa new media memang dibutuhkan guna
memenuhi kebutuhan di tengah kehidupan globalisasi saat ini. Di sisi lain
banyak risiko yang ditimbulkan juggernaut
tersebut. Juggernaut media massa
adalah kendaraan ganas yang digunakan media massa saat ini demi menjalani
proses produksi-sirkulasi informasi.
Semua subjek
ikut bergerak cepat. Tak ingin terlindas, tak ingin terpuruk, tak ingin
terbunuh oleh juggernaut. Institusi,
seperti Polisi dan Miiter (aparatus), harus bergerak cepat mengikuti
subjek pasar. Menteri dan Presiden pun tak menjadi apa-apa (liyan) di
tengah-tengah rakyat apabila kinerjanya bergerak lamban –begitu contoh yang
tampak belakangan ini, publik tampak “greget” karena penuh harap Presiden
Jokowi bergerak cepat atas peristiwa kisruh KPK-Polri dan isu-isu lainnya.
Informasi dan
teknologi, turunan wawasan pengetahuan dan pengetahuan sains, adalah objek yang
direproduksi subjek-subjek zaman. Keduanya menjadi ruh juggernaut, hingga pada akhirnya termanifestasi menjadi media
massa.
Ibarat kereta,
informasi dan teknologi yang berkembang pesat serupa kereta berbahan bakar
listrik. Bergerak cepat untuk mengakomodasi penumpang yang membutuhkan
kecepatan waktu. Sementara, sebelum kereta listrik berkembang, kereta berbahan
bakar batu bara dianggap fungsional. Setelah kereta listrik berkembang dan muncul
kereta-kereta dengan laju kecepatan tinggi, kereta berbahan bakar batu bara
dianggap tak fungsional lagi.
Begitu pun media, yang lambat dianggap tak fungsional. Media bergerak cepat tanpa ampun. Begitulah juggernaut yang mereproduksi antara kebenaran dan seduksi, yang
menyajikan antara hakikat dan ketampakan semata, menyajikan
antara ideologi (tendensius) dan pengetahuan (objektif), menyajikan antara kecerdasan dan kebodohan.
Semakin
bergerak cepat, juggernaut media akan
semakin disenangi pembacanya (user). Tak peduli ketepatan (validitas)
dan keberimbangan. Semakin modern suatu zaman, seperti dikatakan Jim Hall,
fungsi media massa semakin tampak interaktifitasnya (two way communication
and interpersonal communication). Interaksi menjadi satu indikasi kecepatan media.
Bayangkan, dahulu interaksi di media massa, antara pembaca dan pengelola media,
harus berkirim surat sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama. Kini hal itu
dianggap usang.
Pada akhirnya,
kemenangan jatuh pada “siapa yang lebih cepat”. Media yang cepat akan selalu
digandrungi pembaca, meski selalu menuai kritik atas dampak kecepatannya.
Bagi ISIS,
media sosial adalah alat juggernaut
mereka, meski bukan berarti sesungguhnya mereka menyenangi media sosial itu
seutuhnya. Paling tidak, kebutuhan kampanye ISIS dapat terakomodasi secara
cepat.
Fredy Wansyah
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.