Kapitalisme
Menyelamatkan Seni?
![]() |
ilustrasi Kapitalisme (foto: blogspot) |
FAO
(Organisasi Pangan dan Pertanian) berkeluh kesah tentang kiris pangan dunia.
FAO menganggap kondisi dunia saat ini sedang dalam fase krisis pangan, sehingga
pembicaraan itu penting dilakukan, yang dilakukan dalam pertemuan FAO pada 2011
kemarin. Krisis pangan ini dianggap sedang mengancam negara-negara miskin,
khususnya di bagian Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Januari 2012 diadakan
pertemuan WEF (World Economy Forum). Para pelaku bisnis dan politisi berkumpul
dalam pertemuan WEF, di Davos, Swiss. Perbincangannya ialah semacam reaksioner
krisis atas dampak krisis 2009 yang berkelanjutan. Jauh sebelum dua wujud
krisis legacy ini, krisis global
telah membuat pelaku bisnis dan pemimpin negara bak kebakaran jenggot.
Abad
milenium, pasca-1999, ditandai MDG’s dan perjanjian pasar bebas, krisis multisektor
semakin parah, yang kini mobilisasinya melalui siklus globalisasi. Apa yang
disebut sebagai komoditas, tidak lagi terdistribusi merata akibat sistem
kepemilikan melalui medium uang. Distribusi hanya bermuara pada
kelompok-kelompok ekonomi menengah ke atas. Krisis di Afrika, khususnya Utopia,
dibiarkan begitu saja hingga banyak yang mati kelaparan. Di Amerika Serikat,
20% pertumbuhan kekayaan dan pendapatan hanya dirasakan oleh orang-orang kaya
sejak 1983 (Edward Wolff,
Economics Institute, Bard College). The United Nations Human
Development Report melaporkan, pada 1999, bahwa seperlima orang kaya
mengonsumsi ketersediaan komoditas (barang dan jasa) dan orang miskin tidak
lebih dari satu persen.
Globalisasi
telah mengubah dunia. Memang kapitalisme, seperti apa yang menjadi paradigma
berpikir Camille Paglia, telah mengeluarkan kehidupan manusia dari
keterkungkungan aristokrat. Kapitalisme membuat ide-ide tereksplorasi ke
ruang-ruang publik, dan semakin kreatif. Individu-individu, yang terinfluens
pemahaman (neo)liberalisme, merasa merdeka setelah keruntuhan aristokrasi. Bagi
kehidupan seni, dalam arti sempit, seperti dikatakan Camille Paglia dalam
tulisannya yang berjudul “How Capitalism Can Save Art”, bahwa kapitalisme itu menyelamatkan
seni.
Capitalism
has its weaknesses. But it is capitalism that ended the stranglehold of the
hereditary aristocracies, raised the standard of living for most of the world
and enabled the emancipation of women. The routine defamation of capitalism by
armchair leftists in academe and the mainstream media has cut young artists and
thinkers off from the authentic cultural energies of our time.
Dengan
gaya gramatika yang mengandung unsur pesimismenya, Camille mengawali tulisannya
dengan nada skeptif-pesimistik itu mengenai masa depan seni. Bagaimana masa
depan seni? Kurang lebih begitu. Namun, paparan selanjutnya, dipaparkan
keterkaitan kapitalisme terhadap dunia seni. Baginya, kapitalisme telah
menyelematkan dunia seni.
Seni
tidak bisa terlahir dari ruang yang bukan ruang senimannya. Karya seni yang
diciptakan seniman akan bergantung pada lingkungan senimannya. Dahulu kala
orang-orang San menciptakan seni guratan (lukis) berbentuk Eland di gua, di
Eropa terjadi hal yang sama tetapi objeknya berbeda, yakni Bison. Suku San melukis
dari imajinasinya terhadap Eland karena kehidupan suku San dikelilingi Eland,
begitu juga dengan imajinasi terhadap Bison. Di Indonesia prakemerdekaan,
misalnya, estetika yang berkembang didominasi oleh gaya estetik yang mirip
pepohonan, guratan batang, maupun batu. Guratan tetunanan seperti guratan
batang pohon, ornamen rumah tanggan dan ornamen tubuh pun mengandung
garis-garis berbentuk kotak atau lingkaran.
Kini
kita lebih sering melihat karya seni lukis berobjek tubuh seksi. Seniman
seakan-akan terkungkung atas keindahan tubuh, terlebih-lebih pada eksploitasi
tubuh perempuan. Fakta ini bukan hanya pada seni lukis, melainkan juga pada
seni bahasa (sastra), tari, musik, teater. Seni yang mengandung sensualitas
atau seksualitas lebih cepat berterima publik.
It's
high time for the art world to admit that the avant-garde is dead. It was
killed by my hero, Andy Warhol, who incorporated into his art all the gaudy
commercial imagery of capitalism (like Campbell's soup cans) that most artists
had stubbornly scorned.
Andy Warhol hidup di zaman awal pergerakan masif
kapitalisme Amerika Serikat, 6 Agustus 1928 - 22 Februari
1987. Dahulu ada Sekolah Seni Rupa Institut Teknologi Carnegie di Pittsburgh,
Pennsylvania. Kini dikenal Carnegie Mellon University. Di sanalah Warhol
belajar seni. Setelah itu, sekitar tahun 1940-an, Warhol bekerja di sebuah
majalah. Di sinilah industri seninya mulai berkembang. Imajinasinya tumbuh atas
keadaan sekitar, seperti benda-benda komersil (komoditas) dan sebagainya.
Pikirannya tereksplorasi ke ranah komersialisasi. Warhol pun menghasilkan
karya-karya yang, menurut Camille, dicemooh seniman pada zamannya.
Karya-karyanya seperti kaleng Campbell’s, pisang, dan tokoh-tokoh yang menjadi
figur kejayaan komersialisasi.
Ketika
saya kuliah, saya temui adanya berkas internal fakultas tempat saya kuliah.
Berkas itu menunjukkan adanya kesepakatan petinggi kampus untuk mengarahkan
mahasiswanya mampu bersaing di dunia bisnis. Kampus menginginkan adanya
penyesuaian keinginan pasar dengan keilmuan yang diterapkan di kampus.
Singkatnya, mahasiswa sastra diarahkan mampu menjadi enterpreneur. Hal ini
senada dengan ungkapan Camille, seorang pengajar di University of the Arts in
Philadelphia, artists should learn to see themselves as entrepreneurs. Bila Camille beranjak dari anak didiknya
yang merupakan seorang pemahat, lalu bagaimana dengan sastra? Ya, bekerja sama
dengan perusahaan-perusahaan iklan, seperti apa yang dilakukan Warhol semasa
kariernya. Seniman dipaksa harus mampu mengolah komoditas yang bernilai rendah
menjadi komoditas yang bernilai tinggi agar mendapat penambahan nilai.
Industri
seni tidak berprioritas pada estetikanya, melainkan pada penambahan nilainya (value). Dalam industri seni, sesuatu
yang tidak estetik pun harus laku di pasaran. Musik, misalnya, yang belakangan
paling masif menggerakkan industri seni, tidak lagi mengutamakan unsur
kenikmatan jiwa, melainkan sekadar “easy listening” (tentunya karena dampak
produksi massal, sehingga subjek yang sejujurnya tidak suka menjadi suka).
Musik-musik
Wagner kalah saing dengan musik-musik pop nan
melow. Musik-musik Jhon Lennon kalah saing dengan musik-musik Britney Spears.
Bahkan, karakter seni musik tidak tertata dengan baik. Musik berirama cepat
berpadu dengan lirik kepedihan, misalnya. Irama dan lirik seperti itu
jelas-jelas tidak sesuai. Dalam estetika pakaian, misalnya, seakan-akan
pendesainnya kehabisan akal untuk mengeksplorasi estetika berpakaian, sehingga
selalu mengandung unsur keseksian tubuh sebagai daya tarik, bukannya estetika
pada pakaian itu yang dikembangkan sebagai daya tarik. Teater-teater yang
dikemas dalam paradigma industri pun hanya mengangkat tema-tema keremajaan,
demi penegakan unsur industrialisasi.
Bila
sudah seperti ini, estetika kapitalisme dikembangkan dan seniman (harus)
berkepribadian dua (seniman-pebisnis wiraswasta), maka karya seni tidak lagi
mampu mencapai estetika adiluhung yang mampu diresapi hingga ke jiwa
penikmatnya, sehingga tidak mampu menjadi bahan refleksi dan kontemplasi bagi
penikmatnya. Akhirnya jadilah kedangkalan estetika. Pada akhirnya, dunia seni
dalam industrialisasi akan mengalami krisis parah juga, seperti krisis pangan.
*pernah ditayangkan di Kepadamu(dot)com
Respon atas esai Camille Paglia, “How Art Can Save Art”, (http://online.wsj.com/article/SB10000872396390444223104578034480670026450.html).
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.