![]() |
ilustrasi (foto: blogspot) |
Ketika saya membaca
petunjuk jalan “Awas ada lubang!” tentu saya akan hati. Sebelum melihat lubang,
saya tak akan tahu seperti apa kondisi lubang tersebut. Apakah lubang itu
kecil, besar, membahayakankah, atau hanya seukuran telapak kaki.
Dalam memahami maksud
keberadaan sebuah kata, tentu harus paham asal-muasal terbentuknya kata
tersebut. Dengan kata lain, untuk apa kata itu dibuat. Kalau tidak, yang
terjadi hanya mereka-reka.
Keseimbangan antara
pemahaman tekstual dengan kontekstual itu perlu. Bayangkan jika saya hanya
paham teks petunjuk jalan tadi. Apa yang terjadi? Ya, saya hanya mereka-reka
besaran lubang dan posisi lubang. Sebaliknya, jika saya menitikberatkan pada
makna, maka saya jadi phobia.
Hal ini tak ubahnya
pada kasus nama “Tuhan” yang belakangan marak diperbincangkan netizen. Hanya gara-gara seseorang
bernama “Tuhan”, lantas orang tersebut disamakan dengan Tuhan sesungguhnya.
Tak cuma netizen, sekelas Ketua MUI Din Syamsudin
pun angkat bicara. Tokoh yang katanya intelektual di bidang agama itu
menyarankan agar nama tersebut diganti saja atau dibubuhi kata lain. Bukankah
pergantian atau perubahan nama orang menyebabkan hal ihwal administrasi juga
berubah? Lantas, bagaimana repotnya ia harus mengubah kartu tanda penduduk
(KTP), surat izin mengemudi (SIM), akta kelahiran, surat nikah, surat
kepemilkan rumah, tanah, kendaraan, hingga harta embel-embel lainnya. Mungkin
Din Syamsudin lupa hal ini semua.
Naif bila orang bernama
“Tuhan” itu disamakan dengan Tuhan sebenar-benarnya. Penyamaan tak ubahnya
akidah ke-Islaman seseorang dipertanyakan. Penyamaan tak ubahnya ilmu tauhid
ke-Islamannya juga layak dipertanyakan.
Dalam sejarah
Nusantara, kata “Tuhan” berarti sifat kebaikan. Sebaliknya, “Hantu” bersifat
keburukan. Kata ini perpaduan dari dua suku kata, “Tu” dan “Han”. Dua kosakata
ini merupakan bagian dari kehidupan umat Kapitayan di masa Jawa kuno. “Tu”
dimaknai sebagai hal kemagisan atau hal yang bersifat kuat. Karena itu, dalam
paparannya pada suatu diskusi, sejarahwan Islam Nusantara, Agus Sunyoto,
menejaslakan, di Jawa kuno banyak ditemui kosa kata yang berawal “Tu” untuk
menunjukkan kekuatan, seperti “batu”, “tugu”, atau “tuban”.
Jika ditelisik dari
pendekatan Islam, abad keenam masehi kata “Allah” telah digunakan banyak suku
dan golongan di Arab Jazirah, baik di Madinah maupun pesisir Persia. Sebagian
umat mengenal kata “El” untuk memaknai Tuhan. Penggunaannya banyak dipakai
orang-orang Yahudi. Begitu pula dengan “Al” yang kini banyak digunakan umat
Islam dan Kristen. Kata “Al” berarti esa. Di bahasa Inggris, kata tersebut
sepadan dengan kata “The”.
Sesungguhnya kata
“Tuhan” bukanlah “milik” umat Islam, melainkan umat Kapitayan. Jika saya
mempertahankan nilai sakralitas kata “Tuhan” berarti saya mempertahankan nilai
sakralitas umat Kapitan. Dengan demikian, tidak tepat mempertahankan nilai
sakralitas kata “Tuhan” demi menjaga kesucian agama Islam atau pun Kristen.
Apalagi, bagi umat Islam, kata “Allah Swt” merupakan dua kosakata yang
digunakan di dalam kitab suci.
Sungguh saya iba dengan
orang bernama “Tuhan” tadi. Dalam wawancara di televisi, ia tampak sopan dan
santun berbicara. Lantas saya berpikir bertanya, bagaimana pula dengan
orang-orang yang bermana “Muhammad” atau “Ahmad”.
Saya memperkirakan, doa
orangtua si “Tuhan” tadi ingin anaknya mendekati sifat-sifat kebaikan Tuhan,
asmaul husna. Orangtuanya bukan bermaksud mempersyirik keberadaan anaknya. Tak
ubahnya orangtua menamai anaknya dengan “Muhammad”. Mungkin orangtua tersebut
ingin anaknya memiliki sifat-sifat kebaikan, kemurahhatian, kedermawanan Nabi
Muhammad.
Begitulah memahami
nama “Tuhan” tak ubahnya memahami petunjuk jalan tadi. Jika terlalu berat
sebelah, yang mungkin terjadi saya akan phobia sebelum melewati lubang atau
saya akan terjerumus ke lubang.
Opini dimuat di harian Analisa (Medan)
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.