ilustrasi (gambar: blogspot) |
Cerita Bijak "Sebab Musuh" - Di dalam mobil,
sang istri melihat suaminya membuang sampah tepat di depan rumah Pak Jono, yang
tak lain tetangga mereka sendiri. Sesampainya di rumah, tepat saat suami istri
tersebut keluar dari mobil, sang istri bertanya kepada suaminya yang baru saja
mengunci pintu mobil.
“Kenapa kamu
selalu buang sampah dari dalam mobil di rumah Pak Jono? Selalu kamu lakukan
itu, hampir saban hari. Sudah tiga bulan ini kamu begitu.”
“Loh, apa
salahnya kita melawan musuh dengan cara licik? Bukannya selama ini Pak Jono
kita anggap musuh. Dia kan selalu menggosipi keluarga kita ke masyarakat. Dia
kan selalu mencela kita di hadapan ibu-ibu tetangga komplek. Dia kan pernah
mengempesi ban mobil kita. Dia kan yang mengaliri air selokan ke taman halaman
kita. Malah, setahun yang lalu, dia memfitnah saya. Dia tebar fitnah ke kantor,
tempat kerjaku,” ungkap sang suami.
“Kamu tahu
tidak, gara-gara fitnah itu, atasan kamu jadi semakin sering memperhatikan
kamu. Karena sering diperhatikan atasan, enam bulan yang lalu kamu naik jabatan
kan?”
“Iya, benar.
Terus kamu bela dia?”
“Bukan berarti
bela dia. Kamu suamiku, ya berarti aku bela kamu. Artinya pula apa yang aku
bilang ini adalah pembelaanku untuk berpihak ke diri kamu.”
“Ya sudahlah.
Lagian Cuma sebatas sekantong sampah.”
“Iya, sekantong
sampah. Sekantong kalau setiap hari jadi banyak.”
“Lebih baik kamu
bikini aku teh hangat sana. Daripada celoteh demi tetangga kamu itu,” kata si
suami.
“Aku ingin
mengingatkan, mohon besok tidak buang sampah lagi ke depan rumah Pak Jono.
Musuh tak seutuhnya menyebabkan kita bobrok atau buruk. Musuh juga berperan
dalam perkembangan diri kita. Ia ibarat ujian, tanpa Pak Jono kamu tak bisa
membeli mobil kreditan ini. Sebab musuh punya peran baik yang tersembunyi.
Hanya orang-orang bijak yang melihat peran baik yang tak tampak itu,” tutur si
istri.
Sepuluh menit
kemudian mereka duduk santai di beranda belakang rumah sambil menikmati suguhan
teh hangat.
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.