![]() |
ilustrasi kapitalisme (gambar: naw-art.blogspot.com) |
Ahok, Pilkada, dan Kapitalisme - Ribut-ribut sistem pemilihan kepala daerah (pilkada)
yang tertuang melalui RUU Pilkada yang berdampak pada pengunduran diri Basuki
Tjahya Purnama (Ahok) dari Partai Gerindra tidak lebih sebatas dagelan politik
saja. Dipicu persoalan sistem pemilukada, Ahok dan Partai Gerindra berbuntut
pada perselisihan antara Ahok dan pengurus partai.
Ibarat kolam ikan yang mengalami masalah pada air
hingga ikan pun kena imbasnya. Begitulah gambaran perselisihan antara Ahok dan
pengurus partai. Sesungguhnya perselisihan tersebut tidak sebatas dagelan,
karena hakekat persoalan tidak terletak pada perbedaan pandangan antara Ahok
dan pengurus partai terhadap sistem pilkada. Lebih jauh dari itu, persoalan
bermula dari perdebatan nilai demokratis di dalam dua pilihan sistem pilkada,
yakni pemilu langsung atau pemilu melalui anggota dewan (DPR). Pemilu langsung
dianggap menciptakan efek korupsi bagi kandidat kepala daerah. Sebaliknya,
pemilu melalui anggota dewan retan terhadap jual-beli suara. Pemilu melalui
anggota dewan juga mengabaikan hak politik suara rakyat.
Hakekat persoalan di dalam perdebatan nilai demokratis
tersebut sesungguhnya dampak atas penerapan sistem ekonomi kapitalisme.
Kapitalisme menempatkan nilai kekuatan, nilai kemuliaan, dan nilai kehormatan
pada materi. Kapitalisme tidak memandang nilai ketulusan, nilai kemulian, dan
nilai pengabdian. Dengan demikian, nilai demokrasi di tengah kapitalisme akan
mengabaikan nilai pengabdian, nilai kemuliaan, dan nilai ketulusan pejuang
demokrasi. Tak salah bila disebut “demokrasi itu mahal harganya”.
Baik pemilihan langsung maupun melalui anggota dewan,
keduanya sama-sama berpotensi terjadi transaksi materi. Transaksi materi pada
sistem pemilihan langsung terjadi antara calon (yang dipilih) dan masyarakat
(pemilih). Begitu pula dengan pemilihan melalui anggota dewan, antara calon dan
anggota dewan (pemilih).
Keduanya-duanya sama pula mengabaikan hal ihwal
kebaikan dan cita-cita calon. Calon yang memiliki rekam jejak yang bagus belum
tentu mampu memenangi kontetstasi pemilu kepala daerah. Calon yang memiliki
niat pengabdian kepada rakyat belum tentu dapat memenangi kontestasi politik.
Nilai ketulusan, nilai kemulian, dan nilai pengabdian calon hanya sebatas nilai
yang sifatnya biasa. Nilai-nilai ini tidak mampu menjadi daya tarik di tengah
kehidupan pramatisme politik.
Idealisme tanpa uang (materi) itu nihil. Begitulah
pandangan yang merasuki dunia yang kapitalistik. Kapitalisme yang telah masuk
ke berbagai sendi-sendi kehidupan selalu memandang nilai dan perbuatan tanpa
uang adalah keterbelakangan. Di sinilah letak dilematisnya, apakah kontestasi
politik yang demikian mengusung idealisme tanpa materi atau justru melangkah
berdasarkan materi.
Materi memiliki daya pesona tersendiri dibandingkan
nilai-nilai tersebut. Pemilih terperangkap pada pragmatisme, di tengah tuntutan
ekonomi kapitalisme. Materi dapat memenuhi kebutuhan ekonomi pemilih, paling
tidak membantu. Dengan demikian, materi mampu mengantarkan calon memenangi
kontestasi politik.
Pergualatan Ahok dengan pihak-pihak yang berseberangan
dapat dipahami sebagai dagelan politik yang tidak mempersoalkan sumber
permasalahan. Kedua belah pihak dapat dikatakan bertindak benar. Namun juga
sebaliknya, dapat dikatakan bertindak salah. Seperti analogi di atas, apa yang
dilakukan Ahok dan pihak yang berseberangan dengan Ahok merupakan dampak
semata. Ibarat ikan yang mati di kolam akibat kandungan yang tidak baik pada
air.
Menitikberatkan cara mana yang terbaik sama halnya
memahami dengan ikan mana yang baik menggantikan ikan-ikan yang mati di dalam
kolam tersebut. Bukankah perhatian seharusnya tertuju pada air dan sumber air.
Memahami air dan sumber air berarti memahami ihwal mengapa kecurangan materi di
dalam pelaksanaan pilkada sering terjadi. Dengan demikian, masyarakat
membutuhkan pemecahan masalah lebih jauh lagi dari perdebatan antara pilkada
langsung maupun tidak langsung, apalagi dagelan politik semata.
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.