Mark Zukenberg dan Bahasa Indonesia - Tahun 2004
seorang mahasiswa yang tidak disiplin dalam aturan perkuliahan membuat gempar
dunia seputar internet. Mahasiswa tersebut tak lain ialah Mark Zukenberg. Ia
menciptakan teknologi media sosial di internet. Awalnya media sosial tersebut
dinamai Thefacebook. Karena pertimbangan efisiensi branding, salah seorang
pengusaha yang bertemu Mark di sebuah cafe menyatakan bahwa nama Thefacebook
tidak lebih baik dari Facebook.
Semula Mark
menamai media sosial tersebut sebagai “The Face Book” karena konsepnya
merupakan suatu konsep pertemanan tatap muka melalui dunia internet. Tatap muka
bukan berarti bertatap antarmuka, melainkan tatap muka dan foto wajah. Mark
menginginkan pertemanan antarmahasiswa di Harvard terjalin lewat media sosial
Thefacebook. Begitulah sedikit cuplikan film The Social Media, sebuah film yang
mengisahkan ihwal terbentuknya media sosial Facebook.
Kini Facebook
telah tersebar ke berbagai negara. Indonesia merupakan negara pengguna
tertinggi ke empat dunia. Melihat fakta ini tentu mengkhawatirkan karena
keberadaan Facebook sangat berdampak terhadap kelangsungan bahasa Indonesia.
Salah satu sebab kekhawatiran itu muncul atas pergulatan bahasa, yakni
pergeseran secara perlahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing. Di dalam media sosial Facebook terkandung bahasa
asing, bahasa Inggris. Tingginya pengguna Facebook di Indonesia tentu
menandakan semakin tinggi pula daya pergualatan bahasa Indonesia terhadap
bahasa asing melalui Facebook.
Anand Tilak,
Kepala Facebook wilayah Indonesia, menyatakan, jumlah pengguna Facebook di
Indonesia per tengah tahun 2014 telah mencapai 69 juta pengguna. Sebelumnya,
jumlah pengguna Facebook di Indonesia pada 2013 hanya 65 juta pengguna.
Artinya, dalam setengah tahun pengguna Facebook Indonesia mampu naik 6 persen.
Facebook adalah
ruang realitas yang tidak realitas. Seperti apa yang disampaikan Yasraf, teknologi
komputer merupakan bentuk pemindahan tugas-tugas saraf manusia ke medium yang
lebih kecil. Pemindahan dari ruang yang besar menjadi persegi empat (baca:
komputer). Jika mengacu pada pandangan tersebut, Facebook dapat dipahami
sebagai ruang interaksi dari realitas ke ruang segi empat. Yang mulanya ada di
ruang-ruang publik real bergeser ke ruang publik tidak real.
Ruang
nirrealitas dan realitas menjadi bias. Facebook sebagai nirrealitas berada di
tengah-tengah realitas itu sendiri. Begitu pula halnya penggunaan bahasa, mana
bahasa realitas dan mana bahasa nirrealitas. Kini akan sulit membedakan konteks
dalam berbahasa. Berbeda pada zaman dahulu, ketika orang Indonesia berbicara di
negara Amerika tentu orang Indonesia akan berusaha mendekatkan diri pada bahasa
di Amerika, bahkan menggunakan bahasa setempat. Begitu juga sebaliknya, orang
Turki di Malaysia tentu berusaha mendekatkan diri pada pendekatan bahasa melayu
Malaysia.
Seperti uraian
di awal, pendiri Facebook pun menamainya media sosial yang ia ciptakan dengan
istilah Inggris. Istilah Inggris menjadi lebih dekat dengan penutur bahasa
Indonesia. “Facebook” berarti tatapan di ruang maya (internet). Jika
diterjemahkan secara harfiah, “facebook” berarti wajah buku. Hal ini dilihat
dari segi penamaan saja. Belum lagi istilah-istilah yang terkandung di dalam
Facebook itu sendiri.
Hampir seluruh
kerangka Facebook menggunakan bahasa Inggris. Meski berbahasa Indonesia, upaya
penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia baru dilakukan maksimal
2-3 tahun belakangan. Penerjemahan pun tidak menyeluruh. Tombol “home” berubah
menjadi “beranda”, “message” menjadi
“pesan”, “wall” menjadi “dinding”, “profile” menjadi “profil”, “reply” menjadi
“balas”, “setting” menjadi “pengaturan”, dan sebagainya.
Facebook adalah
penanda adanya ancaman terhadap bahasa Indonesia. Penutur bahasa Indonesia
secara perlahan akan bergeser sesuai habitus (kebiasaan) bahasa yang terkandung
di dalam Facebook. Dengan demikian, melestarikan bahasa Indonesia harus dimulai
dari kebiasaan dari penggunaan teknologi, dalam hal ini media sosial.
Post a Comment
Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.