ARTIKEL PINTASAN

Thursday, October 30, 2014

Mark Zukenberg dan Bahasa Indonesia


Mark Zukenberg dan Bahasa Indonesia - Tahun 2004 seorang mahasiswa yang tidak disiplin dalam aturan perkuliahan membuat gempar dunia seputar internet. Mahasiswa tersebut tak lain ialah Mark Zukenberg. Ia menciptakan teknologi media sosial di internet. Awalnya media sosial tersebut dinamai Thefacebook. Karena pertimbangan efisiensi branding, salah seorang pengusaha yang bertemu Mark di sebuah cafe menyatakan bahwa nama Thefacebook tidak lebih baik dari Facebook.
Semula Mark menamai media sosial tersebut sebagai “The Face Book” karena konsepnya merupakan suatu konsep pertemanan tatap muka melalui dunia internet. Tatap muka bukan berarti bertatap antarmuka, melainkan tatap muka dan foto wajah. Mark menginginkan pertemanan antarmahasiswa di Harvard terjalin lewat media sosial Thefacebook. Begitulah sedikit cuplikan film The Social Media, sebuah film yang mengisahkan ihwal terbentuknya media sosial Facebook.
Kini Facebook telah tersebar ke berbagai negara. Indonesia merupakan negara pengguna tertinggi ke empat dunia. Melihat fakta ini tentu mengkhawatirkan karena keberadaan Facebook sangat berdampak terhadap kelangsungan bahasa Indonesia. Salah satu sebab kekhawatiran itu muncul atas pergulatan bahasa, yakni pergeseran secara perlahan dari bahasa Indonesia ke bahasa asing. Di dalam  media sosial Facebook terkandung bahasa asing, bahasa Inggris. Tingginya pengguna Facebook di Indonesia tentu menandakan semakin tinggi pula daya pergualatan bahasa Indonesia terhadap bahasa asing melalui Facebook.
Anand Tilak, Kepala Facebook wilayah Indonesia, menyatakan, jumlah pengguna Facebook di Indonesia per tengah tahun 2014 telah mencapai 69 juta pengguna. Sebelumnya, jumlah pengguna Facebook di Indonesia pada 2013 hanya 65 juta pengguna. Artinya, dalam setengah tahun pengguna Facebook Indonesia mampu naik 6 persen.
Facebook adalah ruang realitas yang tidak realitas. Seperti apa yang disampaikan Yasraf, teknologi komputer merupakan bentuk pemindahan tugas-tugas saraf manusia ke medium yang lebih kecil. Pemindahan dari ruang yang besar menjadi persegi empat (baca: komputer). Jika mengacu pada pandangan tersebut, Facebook dapat dipahami sebagai ruang interaksi dari realitas ke ruang segi empat. Yang mulanya ada di ruang-ruang publik real bergeser ke ruang publik tidak real.
Ruang nirrealitas dan realitas menjadi bias. Facebook sebagai nirrealitas berada di tengah-tengah realitas itu sendiri. Begitu pula halnya penggunaan bahasa, mana bahasa realitas dan mana bahasa nirrealitas. Kini akan sulit membedakan konteks dalam berbahasa. Berbeda pada zaman dahulu, ketika orang Indonesia berbicara di negara Amerika tentu orang Indonesia akan berusaha mendekatkan diri pada bahasa di Amerika, bahkan menggunakan bahasa setempat. Begitu juga sebaliknya, orang Turki di Malaysia tentu berusaha mendekatkan diri pada pendekatan bahasa melayu Malaysia.
Seperti uraian di awal, pendiri Facebook pun menamainya media sosial yang ia ciptakan dengan istilah Inggris. Istilah Inggris menjadi lebih dekat dengan penutur bahasa Indonesia. “Facebook” berarti tatapan di ruang maya (internet). Jika diterjemahkan secara harfiah, “facebook” berarti wajah buku. Hal ini dilihat dari segi penamaan saja. Belum lagi istilah-istilah yang terkandung di dalam Facebook itu sendiri.
Hampir seluruh kerangka Facebook menggunakan bahasa Inggris. Meski berbahasa Indonesia, upaya penerjemahan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia baru dilakukan maksimal 2-3 tahun belakangan. Penerjemahan pun tidak menyeluruh. Tombol “home” berubah menjadi “beranda”,  “message” menjadi “pesan”, “wall” menjadi “dinding”, “profile” menjadi “profil”, “reply” menjadi “balas”, “setting” menjadi “pengaturan”, dan sebagainya.
Facebook adalah penanda adanya ancaman terhadap bahasa Indonesia. Penutur bahasa Indonesia secara perlahan akan bergeser sesuai habitus (kebiasaan) bahasa yang terkandung di dalam Facebook. Dengan demikian, melestarikan bahasa Indonesia harus dimulai dari kebiasaan dari penggunaan teknologi, dalam hal ini media sosial.

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes