ARTIKEL PINTASAN

Monday, August 25, 2014

Jilboobs Perspektif Patriarki




ilustrasi bukan jilboobs (foto: blogspot)
Jilboobs Perspektif PatriarkiFenomena jilboobs bermula dari dunia maya. Tapi tampaknya sulit melacak awal mula jilboobs di dunia nyata secara detail. Terlepas dari awal muncul dan golongan mana yang sentimentil terhadap jilboobs, mari singgung jilboobs dari sudut budaya patriarki.
Yang jelas, kemunculan fenomena jilboobs bermula dari foto-foto syur pengguna jilbab. Objek foto, perempuan, tampak dieksploitasi dari sudut salah satu jender. Mengerikan memang, jika perempuan pengguna internet justru tidak berempati terhadap jendernya sendiri ketika dieksploitasi besar-besaran.
Istilah jilboobs berasal dari dua padanan kata, jilbab dan boobs (dada perempuan). Dari penggabungan itulah muncul istilah jilboobs, yang berarti pengguna jilbab yang masih menampakkan lekukan dada.
Jika melihat foto-foto jilboobs, rata-rata fokus ataupun objek sorotannya tertuju pada dada. Tentu pertanyaan muncul, mungkinkah perspektif foto seperti itu merupakan perspektif perempuan? Mungkinkah mereka yang bangga mengapresiasi (melihat) foto seperti itu adalah perempuan? Tentu tidak, karena laki-lakilah yang sangat berperan. Laki-lakilah yang merasa bangga (baca: puas) atas foto-foto seperti itu. Laki-lakilah yang aktif (subjek) atas penciptaan foto-foto itu. Sedang perempuan hanya duduk atau berdiri manis sambil bergaya menjadi objek foto.
Fenomena jilboobs tak lain hasil (representasi) budaya patriarki kapitalisme. Laki-laki selalu berperan penting dalam realitas tubuh perempuan. Inilah permainan ideologi di tengah budaya yang diperankan kapitalisme. Seperti apa yang dinyatakan Yasraf A Piliang sebagai ekonomi-politik hasrat. Tubuh perempuan dijadikan objek kepuasan laki-laki di tengah permainan komoditas.
Jadi, jilboobs dari perspektif budaya tak lain hanya ulah-ulah sepenggal laki-laki yang "mempermainkan" tubuh perempuan. Mungkin saja perempuan berjilbab yang menampakkan lekukan tubuh tidak akan jadi masalah jika laki-laki tidak memiliki "kepentingan jender".

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes