ARTIKEL PINTASAN
Showing posts with label resensi film. Show all posts
Showing posts with label resensi film. Show all posts

Monday, September 28, 2015

Film Leviathan: Relasi

Kolya (Leviathan. Blogspot)
Seorang politikus, selaku walikota di Barents, Pesisir Utara Rusia, berambisi memenangi pemilihan umum di masa usainya era kepemimpinannya. Ia berencana memperluas kekuasaan tanahnya sebelum memasuki masa pemilu. Rencananya, ia akan membangun sebuah apartemen di kawasan Barents.
Tak mudah baginya menguasai kawasan tepi laut. Kolya, salah seorang warga –tokoh utama film Leviathan- berusaha mempertahankan tanah berserta rumahnya. Tanah yang menjadi tempat tinggal turun-termurun dari kakek-neneknya itu tak ingin dirampas sang walikota. Kolya dan sang politikus, Vadim.
Meski sebatas warga di Desa Barents, Kolya melawan lewat adu meja hijau. Kolya maju didampingi kuasa hukumnya, yang tak lain sahabatnya sendiri, Dmitri.
“Kenapa Kolya, apakah kau tak bias melawanku sendiri?” angkuh Vadim kepada Kolya di beranda rumah, sesaat melihat Dmitri, yang asing bagi Vadim. Vadim sempoyongan karena bir, dengan didampingi bodyguard. Kedatangannya ke rumah Kolya untuk menegaskan penggusuran yang telah memasuki babak perseteruan di meja hijau. “Aku akan melawanmu, persetan!” balas Kolya.
Perseteruan membuat Vadim geram. Semakin geram ketika mengetahui Dmitri merupakan pengacara dari Moskow yang memiliki relasi luas. Dmitri membawa berkas-berkas ke meja kerja Vadim. Dengan santai Vadim membaca berkas tersebut.
“Aku hampir mati membaca berkas-berkas itu!” tutur Vadim kepada rekan-rekannya, seperti polisi, pengacara, dan pejabat penting. Obrolan emosional Vadim itu terlontar di dalam ruangan, tak berapa lama Dmitri berkunjung ke kantornya untuk memberi berkas-berkas rahasia keburukan Vadim.
Film Leviathan ini bukan film yang menyuratkan keistimewaan rakyat di hadapan politikus ambisius yang menjabat walikota. Bukan pula film yang mengistimewakan pejabat korup. Kolya hanya laki-laki emosional, yang menghadapi persoalan pelik dengan penguasa. Emosi yang membuat dirinya tak mampu menyayangi istrinya dengan cinta, hingga Lilya selingkuh dengan Dmitri.
Emosi membawa Kolya ke jeruji besi karena dituduh membunuh istri mudanya, Lilya. Rumah tangga semakin pelik, ia dipenjara sementara anak satu-satunya diasuh sahabat Kolya. Rumah Kolya kosong. Sebelumnya, Kolya hidup bersama anak dan Lilya. Kendaraan alat berat merubuhkan rumah Kolya. Vadim menang. Bukan menang di meja hijau, tetapi menang dengan politik, memanfaatkan daya kekuasaannya.
Siapa sangka kerusakan rumah tangga Kolya dimotori Vadim? Meski tak tersurat di tutur dalam film Leviathan, alurnya menyiratkan Vadim adalah politikus ambisius, tak ubahnya mahluk berupa iblis yang hidup di laut. Rakyat tak mungkin menyangka kehancuran rumah tangga Kolya dan penggusuran rumah Kolya dirancang oleh seorang walikota yang dekat dengan seorang pendeta.
Di akhir kisah film unggulan Cannes Festival 2014 ini, Vadim keluar dari gereja beserta keluarganya. Ia ramah dengan sesame jemaat gereja lainnya. Wajahnya sumringah.


Judul: Leviathan
Sutradara: Andrey Zvyagintsev
Pemain: Aleksei Serebryakov (Kolya), Vladimir Vdovichenkov (Dmitri), Elena Lyadova (Lilya), Roman Madyanov (Vadim)

Rilis: 2014

Thursday, September 18, 2014

Pemilik Kemenangan



The Mecanic (Foto: Blogspot)

Ulasan Film The Mecanic: Pemilik Kemenangan - Kecerdasan dan mental adalah dua aspek penting mencapai kemenangan. Siapa saja yang tidak menyiapkan diri untuk kemenangan sudah barang tentu akan terjebak pada kemenangan semu. Melakukan sesuatu dengan dadakan hanya membawa pada kegagalan. Begitu pesan tersurat di dalam film The Mecanic, oleh sutradara Simon West.
“Kemenangan milik orang yang siap.” Begitu bunyi pesan di sebuah pistol mewah di bagian akhir film yang dibintangi Jason Statham ini.
Arthur adalah seorang pembunuh professional. Ia mendapat pekerjaan dari seorang pimpinan bisnis gelap. Ia dibayar mahal, berapa pun ia memaminta bayaran tetap dibayar. Ia mendapat pesanan dari pimpinan tersebut, tiap-tiap calon korban memiki karakter tersendiri. Ia harus memiliki banyak waktu, tempat, dan data untuk menganalisis dan merancang strategi pembunuhan. Pembunuhan tidak dilakukan dengan cara amitiran. Ia merancang bagaimana pembunuh terlihat “seolah-olah”. Ia punya banyak pengalaman, banyak korban, banyak upah, dan banyak cara, sehingga mental dan pengalamannya membentuk siapa ia sesungguhnya.
Salah seorang korbannya ialah orang yang ia kenal. Seperti biasa, ia tega membunuh orang tersebut meski sempat merasakan kegelisahan. Misi pembunuhan tetap dilangsungkan. Semua dilakukan cara professional dan “seolah-olah”.
Dengan scenario yang tidak matang, yang memunculkan banyak fragmen plot paksaan, Arthur merekrut rekannya untuk menjadi tumbal atau perantara pembunuhan. Sejak itu ia berinisiatif mendidik rekannya tersebut untuk menjadi pembunuh yang professional seperti apa yang ia kerjaan. Namun, rekan itu tidak lain adalah anak salah seorang korban yang ia kenal.
Seperti senjata makan tuan. Begitu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan Arthur dalam merekrut rekannya. Rekan menjadi musuh, karena dendam terhadap Arthur yang diketahui sebagai pembunuh bapaknya. Hingga akhirnya, Arthur menjadi “korban” rencana pembunuhan. Dengan pistol dan tangki bensin, Arthur dirancang sebagai orang yang akan mati di saat mobil yang ia tumpangi melakukan pengisian bensin. Mobil meledak, di saat Arthur berada di dalam mobil. Sedang rekannya tersebut berada di luar.
Arthur paham situasi bagaimana keluar dari ancaman. Dengan tanpa sengaja mengetahui keberadaan pistol di tubuh rekannya, Arthur paham situasi dan kondisi. Ternyata sekian detik sebelum mobil meledak, Arthur bergerak cepat ke luar mobil.

Sementara dalam potongan lainnya, Arthur telah menyiapkan strategi ledakan di rumah yang ia sewa untuk merancang pembunuhan. Di kala merasa menang karena berhasil meledakkan mobil yang ditunggangi Arthur, rekannya tersebut kembali ke rumah dan memainkan piringan musik yang telah dirancang mengandung “alat peledak”. Seketika itu pula rekan Arthur tewas akibat ledakan. Sedang Arthur masih bebas menghirup udara. Begitulah ia melangkah menyambut kemenangan, “Kemenangan milik orang yang siap.”


Trailer The Mecanic di saluran Youtube:

Friday, September 12, 2014

Pahlawan Muncul dari Situasi Kritis


 
Soren, dalam salah satu adegan legend of the Guardians (blogspot)
Legend of the Guardians: Pahlawan Muncul dari Situasi Kritis - Pahlawan (heroisme) muncul dari situasi yang tidak terduga. Pahlawan muncul dari situasi kritis. Dengan situasi klritis itu, individu yang tidak memiliki bakat sekali pun mampu tumbuh dan menciptakan unsure-unsur pembentuk heroisme di dalam diri.
Begitulah hikmah yang dapat diambil dari kisah perjalan Soren, si burung hantu di dalam Legend Of The Guardians. Soren tidak hidup dari keluarga burung yang tanggung mengarungi samudera. Soren tidak tumbuh di tengah keluarga burung hantu yang unggul.
Bermula dari permainan, kedua remaja burung hantu terjatuh dari pohon. Dari dahan yang menahan mereka. Mereka tidak bisa terbang selayaknya burung hantu dewasa. Akibat bermain-main itu, mereka terjatuh ke tanah dan tak bisa kembali ke atas, ke dahan. Di tanah mereka menemui ancaman. Namun, golongan burung hantu lainnya menolong kedua burung hantu tersebut dari ancaman.
Kedua remaja burung hantu tersebut, Soren dan Tytos, ternyata diculik oleh gelongan burung hantu Tytos, kelompok yang ingin menjadi penguasa burung hantu. Mereka dibawa ke kerajaan Tytos. Mereka dihipnotis terlebih dahulu untuk memudahkan konstruksi pikiran dan karakter prajurit Tytos. Dari sinilah Soren mulai merasa tersiksa.
Soren tak mampu terbang. Ia tidak mampu kabur dari wilayah kekuasaan Tytos. Tak ada kekuatan dan tak ada kecerdasan untuk kabur. Salah seorang prajurit Tytos yang memiliki hasrat melawan raja Tytos mengamati Soren. Dia menganggap dari gerak-gerik, Soren memiliki keinginan kabur. Soren dibawa ke suatu ruangan dan diajarkan terbang agar mampu kabur. Soren mengikuti perintah tersebut, belajar terbang demi melepaskan diri dari jeratan kuasa Tytos.
Akhirnya Soren mampu terbang. Ia kabur. Ia berusaha mengikuti saran si prajurit tersebut, untuk pergi ke The Guardian. Tidak bagi Kludd, karena Kludd telah berhasil dibrainstorming menjadi prajurit unggulan di Tytos.
Di The Guardian terdapat seorang legenda yang sudah, bernama Lyze of Kiel. Dengan kemampuan dan keinginannya berkumpul bersama keluarganya kembali, Soren mampu bertemu tokoh legenda di The Guardians, Lyze of Kiel. Tokoh legenda itulah yang mampu member petaka bagi Tytos.

Soren terus berproses. Soren terus berusaha. Akhirnya, Soren mampu menjadi seorang pahlawan. Ia menjadi seekor burung hantu yang lihai dalam duel di udara. Ia menjadi burung hantu petarung. Kemampuan itulah yang membawa Soren mampu membunuh penguasa Tytos, meski pembunuhannya terjadi secara tidak sengaja. Soren mampu menjadi legenda, menggantikan pahlawan Lyze of Kiel. Seperti pernyataan Pramoedya Ananta Toer, bahwa pahlawan itu bias saja selalu kalah, tetapi kekalahan itu adalah guru yang mahal bagi dia. Tetapi meski kalah, selama dia disebut pahlawan, dia tidak akan pernah menyerah. Begitulah Soren, si burung hantu yang dungu yang berubah menjadi pahlawan, si peraih gelar Legend Of The Guardians.


Lihat trailer Legend of the Guardians di Youtube: 

Thursday, July 3, 2014

Kemenangan Demi Kenangan Andreas Escobar


 
Fullback Kolombia era 1990-an, Andreas Escobar (foto: blogspot)
Kemenangan Demi Kenangan Andreas Escobar - Awal Juli ini rakyat Kolombia mengenang kematian pahlawan lapangan hijau mereka, Andreas Escobar, pemain fullback tim nasional Kolombia era 90-an. Kenangan itu bertepatan pada lolosnya timnas Kolombia ke fase perempat final Piala Dunia 2014 di Brasil. Tuan rumah Brasil adalah batu sandung bagi Kolombia di fase KO perempat final ini.
Jika Kolombia mampu menghempaskan tuan rumah, bukan tidak mungkin rakyat Kolombia bergembira bak menjuarai Piala Dunia. Kolombia akan jadi tim unggulan. Gemuruh rakyat Kolombia era Andreas Escobar akan terulang.
Kala itu, Andreas Escobar Cs mampu menembus fase final di Piala Dunia 1994. Rakyat Kolombia bersorak-sorai merayakan kejayaan timnas mereka. Konflik Kolombia beristirahat sejenak, karena rakyat saling rangkul dan duduk bersama menyaksikan timnas mereka. Namun, pertandingan yang berlangsung di Amerika Serikat itu jadi luka bagi Andreas Escobar. Ia melakukan kesalahan fatal. Bermaksud menghalau laju bola, ia justru menceploskan bola ke gawang sendiri.
Kisah Andreas Escobar tersebut diangkat ke sebuah film dokumenter, The Two Escobar. Film persembahan ESPN ini mengenang heroisme Andreas Escobar, yang secara kebetulan besar di klub yang didirikan Pablo Escobar, Atletico National, yang jadi sarana cuci uang bagi Pablo Escobar.
Film yang digawangi Jeff dan Michael Z ini dimulai dengan paparan tentang Pablo Escobar. Pablo Escobar adalah kartel narkoba, gembong bisnis narkoba di Kolombia. Sosoknya bak mata uang, hidup dari kejahatan tapi mampu menghidupi manusia di sekitarnya. Ia dikenal murah hati untuk kehidupan di sekitarnya, tapi ringan tangan pula untuk siapa saja yang menghalangi bisnisnya.
Kehidupan rakyat Kolombia kala itu tidak kondusif. Kekerasan, kerusahan, dan pembunuhan terjadi di banyak tempat. Tumbuhnya bisnis narkoba diduga jadi dalang banyaknya pembunuhan di Kolombia. Kengerian itu sejenak terhenti kala timnas Kolombia melenggang mulus di Piala Dunia, bahkan di fase kualifikasi mampu menumbangkan Argentina dengan mudah. Pendapat legendaris Pele pun jadi legitimasi rakyat Kolombia, dan dunia umumnya, bahwa Kolombia merupakan kandidat kuat juara Piala Dunia 1994.
Sampailah pada perjudian kartel narkoba. Judi bola mampu memutar uang. Para pelaku kartel ini berani bertaruh untuk timnas Kolombia.
Pada akhirnya, Kolombia gagal di final. Gol satu-satunya di putaran final datang dari kaki Andreas Escobar. Namun, sentuhan bola Andreas Escobar justru melukai gawang sendiri. Pupus sudah harapan rakyat Kolombia. Pupus pula harapan Presiden Kolombia Cesar Gaviria, yang hadir pada putaran final itu. Remuk sudah harapan judi kartel narkoba.
Tak lebih dari hitungan sebulan, tepatnya 2 Juli, setelah pertandingan tersebut, Andreas Escobar mati diberondong peluru. Tak diketahui apa motif penembakan tersebut, meski pelaku telah ditangkap kepolisian Kolombia.
Dua puluh tahun telah berlalu, kematian Andreas Escobar mungkin jadi pecutan bagi James Rodriguez Cs. Semangat Escobar ada di timnas Kolombia. Mereka akan mendedikasikan kematian Escobar dengan kemenangan. Kemenangan untuk Andreas Escobar. "Laga ini mungkin akan ada banyak gol," kata pelatih Kolombia, Pekermen.


-Jogja, sehari jelang Brasil vs Kolombia, 3 Juli 2014

Tuesday, June 3, 2014

Tentara Belanda Mahir Bahasa Indonesia




Adegan film Oeroeg, Oeroeg (berpeci) dan Johan. (Foto: blogspot)
Review Film OeroegTentara Belanda Mahir Bahasa Indonesia - Salah seorang tentara Belanda bisa mengucapkan kata “Merdeka” secara fasih. Tidak seperti orang Belanda biasanya. Ucapan fasih tersebut membuat salah seorang temannya bertanya, “Mengapa kau bisa fasih mengucapkan ‘merdeka’?”
“Aku lahir di Indonesia,” jawab tentara yang fasih mengucap bahasa Indonesia itu.
Lantas ia bercerita. Dahulu, sebelum ia bergabung tentara Belanda di Indonesia, ia adalah orang Belanda yang lahir di Indonesia. Tepatnya di Kebon Jati, Jawa Barat. Berlatar pada 1896, seperti tertera di salah satu sudut dinding pekarangan rumahnya.
Ia adalah Johan. Anak salah seorang pemimpin perkebunan Belanda, Hendrik, di Kebon Jati, Jawa Barat. Johan hidup hanya bersama sang ayah. Sehari-hari ia bermain bersama orang pribumi, Oeroeg, anak pembantu Hendrik.
Meski hidup bersama-sama, Hendrik tidak menyukai anaknya terus berinteraksi bersama Oeroeg. Kebersamaan itu akan membuat keterpengaruhan. Hendrik khawatir anaknya terpengaruh cara berpikir Oeroeg yang dianggap terbelakang, tidak logis, dan kumuh. “Kamu adalah anak Belanda, Johan!” ucap Hendrik mengingati anaknya.
Kebersamaan tersebut mulai dikhawatirkan Oeroeg ketika ayah Oeroeg tenggelam kala menolong Johan di telaga. Johan bertanya kepada ayahnya, mengapa ayah Oeroeg meninggal. Namun, ayah Johan menutupi perihal kematian ayah Oeroeg. Meski begitu Oeroeg dan Johan masih terus bersama, bermain sehari-hari.
Setelah Johan dewasa, Johan dipindahkan ke Belanda untuk menempuh studi. Setelah studi, Johan kembali lagi ke Indonesia dan bergabung bersama pasukan Belanda di Indonesia pasca-kemerdekaan Indonesia.
Johan kembali ke Indonesia. Banyak hal yang telah berubah. Semua menjadi misteri. Termasuk perubahan sikap perempuan pengasuh Johan kala kecil. Perempuan Belanda itu telah berada di pihak Indonesia, dan menyebarkan isu-isu pro kemerdekaan Indonesia kepada tentara Belanda melalui saluran radio. Misteri semakin bertambah ketika Johan mendapati ayahnya mati di rumahnya.
Atas dasar misteri-misteri itu, Johan berupaya mencari jawabannya. Ia ingin mendapati kepastian. Saat menelusuri sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada orang-orang terdekatnya dahulu, Johan terjebak oleh perangkap tentara Indonesia. Johan ditangkap. Disekap di sebuah tempat terpencil. Saat berada di dalam sekapan, seorang perempuan yang mengasuhnya dahulu itu mendatangi Johan. Perempuan yang juga mengasuh Oeroeg itu menceritakan apa yang ingin diketahui Johan. Perihal kematian ayahnya, perihal sikap perempuan itu, perihal kematian ayah Oeroeg, perihal keberadaan Oeroeg, dan perihal tentara-tentara Jepang dan tentara Indonesia.
“Oeroeg tidak membunuh ayahmu. Oeroeg ditahan sejak enam bulan lalu. Ayah Oeroeg mati karena mengambil jam ayahmu yang tenggelam setelah menolong dirimu kala itu. Hanya saja, ayahmu menutupi kebenaran karena demi harga diri keluargamu,” kata perempuan itu.
Johan, sebagai tahanan, lantas ditukar dengan 12 orang Indonesia yang ditahan tentara Belanda. Satu orang Belanda ditukar 12 orang tentara Indonesia. Pertukaran ternyata mempertemukan Oeroeg dan Johan, yang tidak pernah bertemu setelah Johan datang dari Belanda. “Ini jam, jagalah baik-baik,” kata Johan kepada Oeroeg.
Sekitar 1950-an, Oeroeg, sebagai dokter, meninggal karena kecelakaan dalam masa baktinya sebagai dokter di perkampungan. Sementara Johan meninggal pada tahun 1980-an. Di Belanda, Johan hidup sebagai arsitektur sampai akhir hayatnya.


Sutradara: Hans Hylkema
Produser: Budiarti Abiyoga (Indonesia), Paul Voorthuysen (Belanda), Erwin Provoost (Belgia), Helga Bahr (Jerman).
Aktor: Martin Schweb sebagai Oeroeg (dewasa), Rik Laurspach sebagai Johan (dewasa), Ayu Azhari sebagai Satih (saudara Oeroeg), Tuti sebagai Ibu Oeroeg.

Lulus Sensor Film pada tahun Agustus 1999.

Thursday, May 29, 2014

Alibi dan Cinta


 
cover film Suspect X (foto: blogspot)
Review Film Suspect X: Alibi dan Cinta - Seorang ibu dan anaknya membunuh seorang pria. Pembunuhan bermula dari ancaman yang dilakukan oleh si korban kepada kedua perempuan itu. Akibat perlawanannya, ibu dan anak itu akhirnya mengikatkan tali ke leher si korban hingga si korban tidak bernafas.
Cerita pembunuhan berkembang karena pembunuhan tersebut diketahui oleh tetangga. Si tetangga, ahli matematika yang mengajar di sebuah universitas, awalnya hanya mendengar kegaduhan di kamar tetangganya. Suara itu menarik perhatiannya, hingga ia menanyakan langsung.
“Siapa?” tanya Hanaoka ketika mendengar ketukan pintu, begitu fase awal film Suspect X ini. “Saya Ishigami, tetangga sebelah,” jawab sang tetangga. Selanjutnya Ishigami bertanya perihal kondisi di dalam kamar, apakah semua baik-baik saja atau ada kegaduhan yang benar-benar membutuhkan pertolongan.
“Hanya kecoa,” kata Hanaoka. Namun, dengan keyakinannya, karena melihat wajah Hanaoka berantakan, Ishigami mengintai dan memastikan, “Itu bukan kecoa,” kata Ishigami.
Guna membantu Hanaoka, menghilangkan jejak pembunuhan, Ishigami membangun alibi. Alibi dibangun secara cermat dan rapi.
Dengan kemampuannya berpikir matematis, Ishigami mampu mengelabui investigator dari kepolisian. Setiap kali polisi melakukan penyelidikan perihal kematian korban dan setiap kali polisi menanyai Hanaoka polisi mengarahkan konklusi sesuai harapan Ishigami.
Ibarat pepatah “sebaik-baiknya menyimpan bangkai akhirnya akan tercium juga”. Alibi mulai tercium setelah ahli fisikawan, Masaharu Fukuyama, teman lama Ishigami, mulai terbawa arus penyelidikan kasus pembunuhan tersebut.
Fukuyama melihat tanda-tanda keanehan di dalam diri Ishigami. Mulai dari pernyataan Ishigami, “Aku iri melihat dirimu yang tampak awet muda”, “Naik gunung terakhir kalinya”, “Pengemis berada di luar lingkungan sosial umumnya meski berada di tengah-tengah”, dan pernyataan lainnya.
Fukuyama dan Ishigami menjadi dua orang yang berteman yang saling adu strategi. Ishigami berusaha menguatkan alibinya dengan kecerdasan membangun logika yang diterapkan di dalam ilmu matematikanya. Di sisi lain Fukuyama berusaha merusak dan mengetahui strategi itu dengan kecerdasan sinergisitas di dalam ilmu fisika. “Mana lebih sulit, menemukan masalah yang tak terpecahkan atau memecahkan masalah hingga menemukan jawaban?” kata Fukuyama kepada Ishigami, bermaksud ingin mengadu kecerdikannya.

Di akhir film berdurasi 2 jam ini semua persoalan diakhiri dan dijawab dengan mudah secara eksplisit. Ishigami akhirnya dipenjara. Hanaoka menyesali perbuatannya. Sementara Fukuyama menjadi pemenang dalam adu kecerdikan tersebut, setelah menceritakan analisisnya kepada Ishigami perihal alibi yang dibangunnya tersebut. “Siapa yang mengira dirinya mampu mencintai seseorang sedalam itu,” kata Fukuyama kepada salah seorang polisi, mengenang motif di balik usaha pembangunan alibi Ishigami. 

Friday, May 16, 2014

Review Film Libertarias: Perempuan Anarkis


 
cuplikan adegan Libertarias (foto: blogspot)
Review Film Libertarias: Perempuan Anarkis - Revolusi anarkis membahana di Spanyol, Juli 1938. Simbol-simbol kegamaan Kristen hancur. Salib-salib berantakan di jalanan. Tempat-tempat ibadah berantakan. Agamawan ketakutan.
Di sebuah gereja, para suster menapaki kakinya dengan cepat. Wajah mereka suram. Perempuan yang menghabiskan usianya untuk badi kepada Tuhan seutuhnya itu mencari celah penyelamatan diri.
Salah seorang suster di antara mereka, Suster Maria, takut akan situasi. Takut akan tindakan brutal kelompok-kelompok anarkis (anarko). Di antara kelompok itu terdapat kelompok gerilya perempuan. Perempuan menggunakan senjata, demi kebebasan dan kesetaraan.
Anarko mendatangi gereja-gereja dan merusak properti gereja. Bagi Suster Maria, tak ada cara lain menyelamatkan diri kecuali berusaha bersembunyi. Bersembunyi identitas, bersembunyi aktivitas, dan sebisa mungkin bersembunyi diri.
Suster Maria gagal menemukan persembunyian. Meski Suster Maria telah berusaha bersembunyi ke tempat prostitusi dan menjadi pelaku protitusi, ia tetap ditemui oleh kelompok gerakan anarkis.
Suster Maria dipaksa ikut bergabung. Tanpa negosiasi. Tanpa pola kaderisasi. Ia dipaksa bertransformasi pikiran, dari hubungan manusia-Tuhan menjadi manusia-manusia, dari transendental menjadi realistik, dari religiusitas menjadi materialisme.
Di tengah-tengah pertempuran dengan kelompok antikomunis, di Zaragoza, Suster Maria harus berhadapan dengan kenyataan. Kekerasan terjadi di mana-mana. Pembunuhan berdarah. Gedung-gedung rusak. Bahkan, prostitusi juga terjadi di tengah-tengah gerilyawan gerakan anarkis.
Peristiwa inderawi (pengalaman) Suster Maria seperti itu justru semakin menguatkan batinnya untuk kembali kepada Tuhan. Tanpa peribadahan. Tanpa simbolik. Penguatan hanya dilakukan di dalam batinnya sendiri.

Batin itu terus berlanjut sampai kelompok gerakan anarkis kalah. Sampai orang kepercayaannya di kelompok tersebut tewas. Suster Maria bergumam, berdoa, di sisi jenazah, tentang keberadaan Tuhan.

Wednesday, April 2, 2014

The Message, Memahami yang Hakikat





sampul 
Ulasan The Message, Memahami yang Hakikat - Para budak didoktrin, semacam pemaksaan menerima pemikiran tanpa ada proses pemahaman. Budak-budak menjadi suruhan para “pejabat” Mekkah. Ke mana pun pejabat itu pergi, para budak harus mengiringi, memayungi. Budak harus mengikuti perintah tuannya. Bila tidak mengikuti, ia akan mendapatkan hukuman cambuk.
Para budak, yang didapatkan dengan cara pembelian, hidup tanpa kebebasan, tak bebas berpikir dan tak bebas menentukan pilihannya. Semua segi kehidupannya telah ditentukan oleh tuannya, yang membeli dan memberi makan.
Pengagungan berhala, menyembah patung, terjadi di mana-mana. Tuhan disosokkan menjadi sebuah patung berbagai ukuran. Sementara hukuman, seperti hukuman cambuk dan sebagainya dibuat manusia. Para penguasa menggiring pikiran rakyat dan para budaknya bahwa hukuman tersebut berasosiasi dengan “perintah tuhan”, tanpa memahami hakikat hukuman.
Di sanalah, seorang Nabi muncul. Ia mengajak umat kerajaan untuk mengikutinya sebagai perintah Allah. Bermula dari pesan yang disampaikan oleh tiga lelaki ke tiga kekerajaan, dua di antaranya Kerajaan Persia dan Kerajaan Alexandria.
Nabi tersebut ialah Muhammad. Bagian dari Arabia, dibesarkan oleh pamannya. Ketika namanya mulai didengar sebagai Nabi pembawa pesan Tuhan ke kerajaan-kerajaan, Muhammad merupakan pasangan hidup Khadijah. Muhammad pergi ke Gua Hira, Khadijah mengkhawatirkan keberadaan Muhammad.
Penyebaran pesan dari Muhammad terus berlanjut. Dari budak satu ke budak lainnya. Membeaskan budak satu ke budak lainnya. Dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Hingga akhirnya membentuk suatu kelompok, Islam, yang kemudian ditakuti oleh kerajaan-kerajaan.
“Manusia sama di hadapan Tuhannya,” begitulah prinsip yang tersebar. Seorang budak, yang mendapat siksaan cambuk dan timbunan batu akibat menolak perintah tuannya, dibeli oleh pengikut Nabi Muhammad demi membebaskan sang budak.
Pembelian itu menunjukkan bahwa budak tidak patut disiksa atas hukuman yang dibuat oleh penguasanya semata. Pengikut Muhammad lantas memerangi perbudakan, dan mengajak untuk mengabdi kepada Allah (Yang Maha Besar).
Begitulah film  The Message ini mengisahkan kemunculan Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Film yang diperani oleh Anthony Quinn, Irene Papas,dan lainnya ini tidak memunculkan raga Muhammad. Di awal pun dibuka dengan pesan:
Para ilmuan dan sejarawan Islam Universitas Al-Azhar di Cairo, kongres Islam Shiatul di Lebanon telah menyetujui akurasi dan ketepatan film. Pembuat film menghormati tradisi Islam, yang menyatakan bahwa peniruan atas nabi menyinggung perasaan atas semangat spritual di dalam Islam. Untuk itulah, sosok Muhammad tidak akan ditampilkan.
 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes