ARTIKEL PINTASAN

Wednesday, August 6, 2014

Andai Aku Ekstrimis




Andai Aku Ekstrimis - Senin (04/08) sore, di terminal Condongcatur, Yogyakarta, 4 perempuan belia beserta 1 orang pemuda menghampiri seorang pedagang roti. Keempat perempuan bercelana pendek itu ternyata bertanya alamat kepada si pedagang. "Mas, ke UGM dari ke arah mana ya?" tanya salah seorang di antara mereka, bersuara lembut. Si pedagang pun menjelaskan dengan benar dan lembut. Setelah mengetahui arah yang mereka tuju, kelima remaja itu meninggalkan si pedagang roti. 
Oh, ternyata si pedagang memerhatikan betul langkah kepergian kelima remaja tersebut, tampaknya tertuju kpd keempat perempuan. "Brrr...segeeerrr...!" teriak si pedagang, berusia kisaran 35 tahun, sembari meletakkan pandangannya ke kulit-kulit mulus keempat perempuan itu.
Apakah keempat perempuan salah? Tentu tidak. Mereka bergaya dengan benar, sesuai gaya hidup yang dipublish di media massa. Apakah si pedagang salah? Tentu tidak salah juga. Si pedagang punya naluri alamiah. Si pedagang punya kesibukan, yang berekonomi pas-pasan itu, sehingga tak punya kesempatan dan tak punya akses mendalami pengetahuan.
Seandainya aku penganut agama ekstrimis, sudah barang tentu kebenaran ada pada diriku, dan aku akan hukum keempat perempuan itu dengan hukuman cambuk karena memperlihatkan auratnya. Sudah barang tentu pula aku hukum juga si pedagang karena melacurkan pandangannya. Mereka bukan contoh kepribadian muslim (akhlakul kharimah). Mereka tidak menjalankan aturan (syariah) agama.
Aku abaikan rasionalitas (aqliyyah), bahwa keempat perempuan itu adalah bentukan lingkungan (enviromental) beserta kebiasaan lahiriah (behavior). Aku abaikan pula bahwa si pedagang merupakan orang yang tidak mampu secara ekonomi maupun tidak mampu secara pendidikan. Aku abaikan kebenaran yang relatif. Karena aku ekstrimis, aku punya kebenaran hakiki hingga jangan marah kalau kalian akan melihat keempat perempuan dan si pedagang aku hukum dengan siksaan di depan umum, entah itu aku cambuk ataupun aku siksa di depan umum ini.
Ah, untunglah, alhamdulillah, aku bukan ekstrimis.

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes