ARTIKEL PINTASAN

Saturday, May 10, 2014

Mungkin Pemilu...


 
ilustrasi ricuh (foto: blogspot)
Mungkin Pemilu... - Sehari setelah latihan pengamanan kericuhan pemilihan umum (Pemilu) oleh tim pengamanan di Jalan MH Thamrin, Jakarta, saya dan teman saya berbincang tentang kemungkinan Pemilu Presiden 2014. Di antara banyak topik yang kami singgung, seperti dagelan pencalonan Roma Irama, WIN-HT, pencalegan menteri-menteri menuju Senayan, kekosongan Presiden setelah Juli 2014 berlalu, hingga kemungkinan kerusuhan Pilpres 2014.
“Gua yakin pasti ricuh,” kata teman saya dengan nada meyakinkan, yang berprofesi sebagai wartawan di salah satu media daring.
Dengan menyinggung gejala-gejala menuju kericuhan, seperti persiapan pengamanan hingga ketidakjelasan hukum, teman saya merasa yakin prediksinya tepat. Menurut dia, seperti tidak ada celah kemungkinan Pilpres kali ini berlangsung secara aman dan tentram. “Udah dirancang ricuh kok,” kata dia menambal keyakinannya.
Beberapa bulan pembicaraan itu telah berlangsung, kini ketakutan perihal kemungkinan ricuh tersebut semakin mengerucut. Presiden didesak menyelesaikan persoalan hukum melalui Perppu. Kepolisian diminta mengupayakan kesiap-siagaan kericuhan. Pembelian suara Pileg 2014 kemarin terus dipersoalkan. Lembaga-lembaga hukum tertinggi, seperti MA dan MK, diminta segera mengantisipasi hukum. Koordinasi antarlembaga penyelanggara Pemilu dinilai tidak koordinatif dan tidak efektif.
Jika mengikuti gejala-gejala ini, anggaplah kemungkinan prediksi teman saya itu benar-benar terjadi. Pilpres ricuh dan kursi penguasa di Istana Negara kosong hingga akhir Oktober. Lantas bagaimana dengan perekonomian Indonesia akibat kericuhan tadi? Bagaimana stabilitas keamanan negara akibat kericuhan tadi? Mungkin saja nilai rupiah anjlok drastis, bahkan bukan tidak mungkin mendekati level terendah di era reformasi, ke level Rp17.000. Mungkin saja para investor asing hengkang. Laju produksi komoditas di pabrik-pabrik terhenti. Roda distribusi komoditas macet. Harga-harga kebutuhan pokok melonjak. Pendapatan (pemasukan) per kepala stagnan. Masyarakat menjadi emosional.
Kalau sudah begini, mau tidak mau demi kesehatan laju perekonomian negara harus meminta bantuan pihak asing. Miminta bantuan untuk menambal sulam “roda setan” perekonomian Indonesia. Meminta bantuan untuk kebutuhan pengamanan.
Ah, tapi kan itu cuma kemungkinan. Bagaimana kalau kita bicarakan kemungkinan dari sisi lainnya. Misalnya saja, di tengah pilpres yang aman mungkin saja capres terpilih kelak jatuh sakit mendadak lalu tampuk kekuasaan diserahkan ke wakilnya, wakil presiden terpilih.

Sesengit apa pun kemungkinan yang terjadi, yang jelas situasi dan kondisi ini baru dirasakan Indonesia kali pertama. Yang jelas pula, Joni, sebut saja begitu namanya, warga di desa pinggir pantai, masih bisa menikmati ikan-ikan hasil tangkapannya. Toh Joni masih bisa menikmati sayur-mayur dari hasil berkebumnya sendiri.

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes