ARTIKEL PINTASAN

Friday, May 9, 2014

Antara Berdasi dan Adaptasi




 
ilustrasi (foto: blogspot)
Antara Berdasi dan Adaptasi - Pernakah kau memerhatikan seorang lelaki berdasi yang sedang berjalan sambil memegang buku atau tas jinjing? Pernahkah kau memerhatikan seorang lelaki berdasi duduk di sebuah kafe sambil memainkan telasen (telefon layar sentuh)? Jika tidak melihat, paling tidak visual yang demikian sudah sering kita temui di film-film.
Kesannya, mereka tampak cerdas dan kaya. Mereka mahir memainkan peranan di tengah-tengah sosial ekonomi-politik. Seakan-akan mereka bisa meraih kesuksesan materi karena mereka pintar mencari celah untuk menambah nilai-nilai ekonomi mereka.
Pernahkah kita memerhatikan mereka dengan detail. Berapa kopi yang mereka bayar ketika sekali duduk di kafe yang semakin nginggris namanya semakin mahal harga secangkir kopinya itu? Berapa harga jam tangan mereka yang mereknya berasal dari Prancis dengan tanpa gerai-gerai bajakan di Indonesia itu? Berapa harga jas mereka? Berapa harga celana dan kemeja mereka? Berapa harga kaos dalam mereka? Berapa harga sepatu mereka? Semakin bermerek mereka akan tampak lebih “eksmud” atau “elegan”. Berapa kali mereka menaiki taksi dalam seminggu? Berapa kali mereka makan di resto-resto yang semakin nginggris semakin mahal harganya itu? Berapa kali mereka perlu berwisata dalam sebulan?
Dulu saya begitu keras kepalanya memahami pendapatan seseorang. Tanpa kompromi saya memandang bahwa pendapatan seorang pekerja harus mengikuti UMR/UMK. Itu harga mati. Saya memandang, itu harga yang tidak bisa ditawar dan sudah pas untuk kebutuhan hidup. Sudah tidak bisa ditawar-tawar, bahwa itu adalah standar pendapatan. Absolut.
Suatu kali saya berbincang dengan seorang teman seprofesi. Dia sudah memiliki empat anak. Dia bekerja di sebuah media massa cetak nasional, yang berkantor di Kebon Sirih. Hanya seorang editor. Suatu kali kami berdiskusi di sebuah warung, diskusi tentang pendapatan dan pengeluaran. Saya berargumentasi berdasarkan ketetapan normatif, UKM/UMR. Dia menjawab argumentasi saya dengan bijak. “Kau tahu, pendapatan dan pengeluaran itu soal adaptasi. Penghasilan 10 juta belum tentu menjamin seseorang itu bisa kaya. Siapa sangka juga kalau ternyata orang-orang berpenghasilan 3 juta bisa menabung?” kata dia dengan tegas.
Selepas diskusi itu saya terus berpikir, benarnya UMK/UMR itu absolut dan sudah ketetap yang harus diikuti? Akhirnya saya menyimpulkan, persoalan UMK/UMR adalah persoalan ekonomi politik di tataran praktis. Persoal itu diteguhkan lewat ketetapan, sifatnya hukum. Rasanya tidak bijak memang memandang pendapatan dan pengeluaran berdasarkan standar hukum tersebut. Kebijaksaan sesungguhnya ada pada diri kita sendiri. Memulainya dari bagaimana kita memandang diri kita sendiri. “Mampukah saya beradaptasi dengan penghasilan sekian?” begitu saya bergumam.
Kalau saya memaksakan hidup seperti seorang berdasi sudah barang tentu saku saya terus digerogoti. Kalau Anda hidup berpenghasilan tidak melebihi dua kali lipat dari standar UMK/UMR, sudah barang tentu Anda akan jatuh miskin.

Islam memang tidak menyarankan kita untuk hidup miskin, tetapi Islam hanya tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan dalam harta.

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes