ARTIKEL PINTASAN

Saturday, June 29, 2013

Nginggris di Kediri




ilustrasi (foto: wordpress)
Banyak rekan saya yang terbilang sukses dalam meraih cita-cita mampu berbahasa Inggris. Mereka menyatakan bahwa belajar bahasa Inggris harus didukung oleh lingkungan. Seumpama kita berada di Inggris selama sebulan, pastilah kita mampu berbahasa Inggris, meski hanya sedikit. Berbeda halnya bila kita belajar di Indonesia. Dari itulah, beberapa rekan saya menyarankan saya belajar bahasa Inggris ke Kampung Inggris, tepatnya di Kampung Pare, Kediri, Jawa Timur.
***
Suasana sepi dan udara dingin. Saya mencari toilet. Saya temui toilet, gratis dan cukup bersih, bahkan tidak bau seperti toilet umum pada umumnya. Tepat di depan pintu masuk tertulis “Stasiun Kediri”. Di depan stasiun berjejer becak dayung. “Mas, saya minta tolong. Tolong antarkan saya ke bus yang menuju Pare, Kampung Inggris.” Cukup sekitar sepuluh menit saja perjalanan becak dari stasiun menuju bus yang dimaksud. Upah pendayung becak tersebut sebesar 15 ribu.
Busnya tidak besar. Jenis cary. Mobil pribadi yang dijadikan kendaraan umum. Perjalanan menuju Kampung Inggris daerah Pare memakan waktu sekitar setengah jam. Upah atau ongkosnya sebesar 20 ribu.
Sepi dan belum banyak aktivitas. Begitulah suasana yang menyambut saya sesampainya di Kampung Inggris.
Karena tiap-tiap lembaga mengajar baru memulainya pada tanggal 10, pagi itu saya, yang datang pada tanggal 9, hanya mencari tahu seputar lembaga beserta keunggulannya. Saya bertanya mengenai Mahesa Institute, selembaga yang saya tuju atas rekomendasi teman.
Akhirnya, atas pertimbangan sana-sini serta akibat keterbatasan quota peserta tiap-tiap lembaga, Mahesa Institute tetap jadi pilihan saya sebagai tempat belajar bahasa Inggris.
Di Mahesa, ada dua pilihan pekat. Pekat reguler dan paket holiday. Dalam Paket holiday ada reguler mata ajaran serta berlibur ke suatu tempat dan diberi kaos. Sedangkan paket reguler hanya ada paket mata ajaran, sama seperti mata ajaran yang terdapat di dalam paket holiday. Biaya paket reguler sebesar Rp380.000, sementara paket holiday sebesar Rp450.000. Dan, biaya tiap-tiap lembaga di Kampung Inggris tidak jauh berbeda. Tiap ajaran dimulai pada tanggal 10 dan tanggal 25. Tiap-tiap lembaga memberikan durasi ajaran selama sebulan dan dua minggu.
Tiap-tiap lembaga ada keunggulan masing-masing. Ini bergantung pada kebijakan owner dan pengajar. Salah satu lembaga yang cukup dikenal dengan keunggulannya dalam mata ajaran speaking ialah Daffodil. Lembaga Kresna memiliki keunggulan dalam grammar. Elfast pun bisa dibilang unggul di grammar. Ada beberapa bagian mata ajaran, seperti grammar, speaking, vocab, toefl, dan lainnya.
Secara keseluruhan, lembaga yang ada di Kampung Inggris berjumlah 160 lembaga. Saya kira jumlah ini cukup menjanjikan bagi pengelola daerah atau pemda setempat. Namun, sayang sekali, menurut beberapa orang di sekitar, Kampung Inggris tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah setempat. Insfrastruktur yang ada di Kampung Pare bisa dikatakan kurang layak. Jalan-jalan di seputara Kampung Pare masih jauh dari standar kelayakan. Debu-debu jalanan bersahabat dengan makanan yang ada di warung-warung. Petunjuk-petunjuk jalan tidak memadai. Lubang-lubang kecil menjadi rintangan bagi pengguna sepeda.
Padahal, di Kampung Inggris banyak pengguna sepeda. Biaya untuk menyewa sepeda selama sebulan di Kampung Inggris sekitar 60 ribu – 90 ribu. Lubang-lubang itu tentunya menjadi kendala kenyamanan penyewa sepeda. Bila saja lubang-lubang itu tidak banyak, mungkin penyewa sepeda akan merasakan kenyaman. Sepeda biasanya digunakan untuk memudahkan akses dari kos (di Kampung Inggris biasa disebut camp) ke lokasi lembaga (campus).
Tiap-tiap kos di Kampung Inggris menyediakan program, meski tidak semua kosan. Program diadakan dua kali sehari. Pagi dan sore. Pagi itu tepatnya usai subuh, sementara malam itu tepatnya usai Isya. Salah satu programnya ialah diskusi menggunakan bahasa Inggris. Bahkan, banyak kosan yang membuat ketetapan english area, seperti kamar dan ruang tamu, khususnya pada waktu-waktu tertentu. Bukan berarti, seperti pandangan umum di luar Kampung Inggris, yang menyatakan bahwa masyarakat di Kampung Inggris diwajibkan berbahasa Inggris. Itu salah. Masyarakat pribumi masih menggunakan bahasa Jawa, sedangkan komunikasi di Kampung Inggris pada umumnya masih menggunakan bahasa Indonesia. Hanya di tempat-tempat tertentu dan waktu-waktu tertentu saja bahasa Inggris digunakan.
Meski begitu, ada beberapa pedagang yang mampu melayani pembeli dengan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini tentunya sangat mendukung bagi pelajar (orang yang belajar) bahasa Inggris. Selain itu, pelajar juga bisa menggunakan bahasa Inggris dalam rutinitas sehari-hari bersama teman, selama ada kesepakatan. Dan, satu hal yang perlu kita ketahui, bahwa berbahasa Inggris di tempat-tempat umum tidak dianggap tabu dan tidak dianggap aneh atau menjadi hal yang lumrah. Lingkungan sangat mendukung. Di Kampung Inggris, kita sebagai pelajar, bebas berbahasa Inggris sepuasnya tanpa ada dampak anggap sosial. Rata-rata pelajar menggunakan bahasa Inggris di tempat-tempat umum.
***
Kini saya paham, bahwa Kampung Inggris memang layak untuk dijadikan tempat belajar bahasa Inggris. Ketimbang harus memlilih belajar ke luar negeri demi mendapatkan suasana yang mendukung, akan jauh lebih efisien bila pilihan dijatuhkan pada Kampung Inggris. Seperti saya.


-2012-

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes