ARTIKEL PINTASAN

Friday, April 19, 2013

Perempuan yang Menghormati Perokok


Judul Buku: Perempuan Berbicara Kretek

Penulis Buku: Abmi Handayani, dkk
Penerbit: Indonesia Berdikari
Cetakan: Januari 2012
Tebal: 320 halaman
ISBN-13: 978-620-99292-1-8 



Banyak stigma bagi perokok. Perokok dianggap kurang menjaga kebersihan. Perokok dianggap tidak peduli sekitar. Perokok dianggap tidak peduli kesehatan.
Stigma juga terkait dengan jender. Stigma terhadap perempuan perokok jauh lebih buruk ketimbang stigma terhadap laki-laki perokok. Stigma-stigma yang disebutkan di atas hanyalah stigma yang pada umumnya terarah pada laki-laki perokok. Perempuan perokok berbeda lagi. Perempuan perokok dianggap jalang, kerap mabuk-mabukan, amoral, dan sebagainya.
Buku Perempuan Berbicara Kretek ini memaparkan stigma terhadap perempuan perokok seperti itu. Narasi-narasi perempuan tertulis di dalam buku setebal 320 halaman ini. Pandangan, penilaian, pengalaman, dan sense dihadirkan melalui suara-suara perempuan yang kerap menjadi “korban” stigma perokok.
Bagi 21 (perempuan) penulis esai di buku ini, stigma berlebihan dan penghakiman (judge) saat melihat perempuan sedang merokok merupakan suata cara yang tidak adil. Ada beberapa faktor yang seharusnya lebih diutamakan dalam melihat perempuan perokok. Faktor psikologis, faktor ekonomis, dan faktor lingkungan.
Anis Mahesaayu, salah satu penulis, melihat dari segi sosio-histori, bahwa bagi perempuan perilaku merokok merupakan wujud perlawanan terhadap penjajah yang kerap memaksa perempuan –pada waktu itu, perempuan Nusantara kerap jadi kacung-kacung seks penjajah- untuk berbadan dan berwajah bersih. Perempuan Nusantara, bagi penjajah, dianggap tidak menarik berahi mereka. Salah satunya, dikisahkan Anis, Mak Pik, memberanikan diri tetap merokok meski pada masa mudanya perempuan perokok dianggap kotor, tidak menggairahkan, dan bahkan menjijikkan. Namun, karena rokoklah Mak Pik tidak masuk ke dalam lubang-lubang berahi penjajah, yang pada masa itu pula rokok sesungguhnya menjadi obat herbal bagi masyarakat di lingkungan Mak Pik.
Kretek, dalam perjalanan sejarahnya adalah warisan budaya dan media perlawanan perempuan, baik dalam bidang politik, ekonomi, bahkan sosial dan budaya (halaman 256). Kretek di sini dianggap berbeda dengan rokok filter putih atau rokok putih. Perbedaan berdasarkan ramuannya. Kretek, sorotan utama di dalam ulasan buku ini, merupakan salah satu ramuan asli Nusantara yang masih tersisa hingga masa kini. Haji Djamhari penemunya, pada masa abad 19.
Selain itu, stigma-stigma itu, ada peran-peran lain yang dicatat pula oleh perempuan-perempuan aktivis di dalam buku bercover warna cokelat ini. Poster-poster antirokok, slogan-slogan antirokok, maupun kampanye-kampanye pembencian rokok dengan mudah dapat kita temui di tempat-tempat umum, seperti angkutan umum, halte, maupun mall-mall. Dengan skeptis pula realitas seperti itu dipertanyakan. Mengapa harus (sangat) membenci rokok? Mengapa hanya rokok yang “disalahkan” akibat adanya penyakit paru-paru, jantung, kanker, dan sebagainya?
Realitas itu hanya bagian dari persaingan ekonomi global atau persaingan bisnis. Korporasi besar berada di balik poster-poster itu. Rokok, yang sejatinya hanya mengeluarkan zat-zat adiksi yang sifat kecil, kerap “disalahkan” melalui kampanye-kampanye yang tidak fair di dalam mengungkap realitas. Padahal, asap atau polusi kendaraan dan pabrik-pabrik yang bertebaran (tanpa terkontrol) jauh lebih berbahaya.
Salah satu penulis, Atika –pekerja media Kartini- memaparkan, dengan gaya tuturnya (narasi) yang sangat menarik, bahwa pernyataan polusi rokok menciptakan kanker paru-paru maupun penyakit-penyakit karena polusi lainnya hanya diakibatkan rokok merupakan penyesatan dalam pemahaman realita, khususnya polusi di Jakarta. Di Jakarta, setiap hari ada sekitar 1.500 unit kendaraan baru. Akibatnya, secara demografis kondisi Jakarta macet parah serta ditambah kondisi polusi yang tinggi karena kemacetan menyebabkan polusi tiap kendaraan semakin tinggi. Hal itu menyebabkan “serangan” terhadap otak manusia. Bila otak manusia tidak lagi baik, maka penyakit akan mudah menyerang, apalagi dengan kondisi udara di Jakarta yang tidak lagi bersih. Dengan sederhana, paparan Atika menyimpulkan, seharusnya arus kendaraan dan gas buang kendaraanlah yang ramai dikampanyekan? Mengapa mesti rokok yang ramai dikampanyekan di tengah-tengah buruknya kondisi transportasi publik?
Bagi Atika, perokok bukanlah orang yang mesti dihakimi dengan stigma. Rokok juga mampu memperlihatkan kepribadian si perokoknya. Dirinya kerap mengamati perokok untuk mendalami kepribadian si perokok, agar tidak terjebak pada keputusan memilih pasangan hidup. Perokok yang kerap berganti-ganti rokok, misalnya, kemungkinan besar akan memperlakukan pasangannya dengan cara seperti itu (tidak setia). Baginya, betapa bahagianya sang rokok diperlakukan secara terhormat (halaman 50).

Share this:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes