ARTIKEL PINTASAN
Showing posts with label soeratin. Show all posts
Showing posts with label soeratin. Show all posts

Monday, September 23, 2013

September Soeratin (II)




Baca Sebelumnya, "September Soeratin (I)"

timnas U-19
September Soeratin: Ulasan AFF U-19 - Mari kita tinggalkan sejenak soal Soeratin. Kita maju pada lembaga persepakbolaan Indonesia kekinian. Pada bulan ini kabar yang cukup menyenyakkan telinga datang dari prestasi si cabai rawit Indonesia. Seperti cabai itu pula anak-anak yang tergabung di dalam SSB Tugu Muda Semarang. Mereka mampu menjadi bumbu yang membuat rasa menjadi pedas nan nikmat. Begitu kira-kira ungkapan yang tepat bagi kepulangan si cabai rawit. Setelah mengikuti ajang Danone Cup 2013 di London, Inggris, papan nama Indonesia berada di jajaran sepuluh besar, kedelapan, suatu peringkat yang cukup elit.
Lagi lagi, seperti tahun-tahun sebelumnya, generasi cabai rawit dalam persepakbolaan Indonesia menjadi cibiran. “Muda berprestasi, tua mikirin nasi.” Begitulah pengandaian atas kondisi pemain muda Indonesia.
Bulan ini pula, tim muda Indonesia berkompetisi di ajang AFF U-19. Pada laga pembuka tim nasional Indonesia U-19, si Merah Putih U-19 menghadapi tim nasional Brunei. Tidak tanggung-tanggung, Merah Putih U-19 mampu melahap 5 gol ke gawang Brunei. Sebuah sinyal adanya lilin di tengah kegelapan. Setidaknya pada tim muda (timnas U-19) inilah Indonesia mampu berharap atas kehausan prestasi tim nasional Indonesia di kancah internasional.
Ini bisa menjadi momen bagi tim nasional Indonesia pada bulan kelahiran pendiri PSSI, Soeratin. Harapan prestasi tiap periode tentu merupakan cita-cita pendiri PSSI terdahulu. Tidak ingin anak-anak pribumi kalah saing dengan pihak NIVB (persatuan sepakbola Belanda di Nusantara). Kini Soeratin telah 54 tahun meninggalkan lembaga yang ia dirikan. Ukiran prestasi pada September ini dapat menjadi kenangan tersendiri bagi hari lahir “pahlawan sepakbola tanah air”. Setelah tim si cabai rawit, kini tinggal menunggu tim U-19 mengukir prestasi di kancah sepakbola ASEAN, demi September Soeratin.



11 September 2013

September Soeratin (I)




September Soeratin: Ulasan Piala AFF U-19 - Konsep Indonesia baru saja digagas, 1928. Pemuda-pemudi kala itu, dari beberapa kelom Jong, berkumpul mendeklarasikan apa yang kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Dua tahun setelah itu, tepatnya 1930, pemuda lain berkumpul. Pemuda lain itu merupakan kelompok pemuda yang memiliki kesamaan visi dan kegemaran sepakbola.
Dengan genggaman Belanda di Indonesia, pemuda dari Jakarta, Surabaya, Madiun, Bandung, Magelang, dan Surakarta, berkumpul di suatu tempat dekat alun-alun Yogayakarta. Mereka tidak membicarakan politik atau ekonomi. Apa yang mereka bicarakan ialah atas dasar kesamaan olahraga itu, sepakbola.
19 April 1930 merupakan waktu peristiwa perkumpulan mereka. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang patut digembar-gemborkan kala itu. Sebagai anak pribumi, meski dengan rasa ketakutan politik, dari pertemuan mereka lahirlah suatu lembaga persatuan sepakbola. Kala itu masih bernama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia. Belanda tentu tidak tenang, sebab Belanda telah memiliki sendiri lembaga persatuan sepakbola Belanda di Nusantara.
Cita-cita mereka hanya satu, mengakomodasi bakat sepakbola anak negeri. Tentu pula cita-cita besar mereka tidak lain adalah unjuk aksi dengan klub sepakbola nonpribumi.
Di balik kegigihan itu, pembentukan lembaga sepakbola, Soeratin adalah dalang segalanya. Usianya baru 32 kala mengadakan pertemuan di Yogyakarta tersebut. Bukan seperti dalang di balik layar, melainkan seumpama kayu di balik kobaran api. Ia ikut terbakar. Karena ada kayu, api pun berkobar. Pada tahun pertama persatuan sepakbola tersebut, Soeratin menjadi ketua. Selain pelopor, Soeratin juga menunjukkan dirinya sebagai tokoh garda depan dalam lembaga. Begitulah kira-kira gambaran peran Soeratin di balik gejolak kehausan pemuda dalam apresiasi sepakbola kala itu.

Soeratin adalah tokoh yang lahir pada 17 September 1898. Ia hidup di tengah-tengah keluarga mampu secara ekonomi. Ia mampu menempuh studi hingga meraih gelar insinyur (Ir). Intelektualitasnya cukup dipandang kaum Belanda kala itu. Sebagai arsitektur, Soeratin sangat sering berinteraksi dengan orang-orang Belanda, bila dibandingkan pemuda-pemuda lainnya.

 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes