ARTIKEL PINTASAN
Showing posts with label reportase. Show all posts
Showing posts with label reportase. Show all posts

Thursday, November 19, 2015

Mudji Sutrisno: Kita Bukan Father Land, tapi Ibu Pertiwi

Mudji Sutrisno (Foto: blogspot Kabar Nusa)
Di sela-sela acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2015, 12 November kemarin, saya berkesempatan wawancara Romo Mudji Sutrisno untuk kepentingan bahan berita di tempat saya bekerja, Merahputih.com. Selaku budayawan sekaligus salah satu pendukung BWCF, Romo Mudji layak untuk diwawancara.
Tapi, dari sekian banyaknya bahan rekaman, setelah ditranskrip, saya pilah-pilih bahan mana yang relevan maupun layak sesuai "warna" pemeritaan Merahputih.com. Nah, akhirnya jadinya beberapa berita saja. Saya kira, banyaknya bahan yang sudah ditranskrip baik dan berguna juga bila dipajang di blog pribadi.
Hm, beginilah transkrip yang sudah saya ketik dari rekaman wawancara Romo Mudji di Yogyakarta, 12 November 2015.




Apakah ini (Borobudur Writers and Cultural Festival 2015) sejalan dengan nawacita?

Ini sebenarnya mau mengongkretkan bahwa selama ini jalan yang kita tempuh hanya jalan politik saja. Jalan politik contohnya, semua DPR ini berantem semuanya kan. Politik itu memecah kita. Sana kawan, sini lawan. itu jalan politik. Kalau politik tanpa moralitas jadinya kayak sekarang ini. Kemudian, ditempuhlah pembangunan ekonomi, jalannya Soeharto dengan segala macamnya. Kita lupa bahwa selama 32 tahun itu kita direduksi menghargai Anda semuanya dengan duit, duit, duit. Materi, materi, dan materi. Maka, jalan kebudayaan adalah jalan yang menghidupi tiap orang dengan harkatnya. Dan tiap orang bisa memaknai dan menamai hidupnya. Itu sama-sama membentuk yang sebenarnya nusantara ini sudah kultural sekali. Hanya ketika 17 Agustus 45 itu menjadi politik kan. Tapi awalnya itu kultural sekali. Coba, gak mungkin kita bisa hidup bersama dengan kekayaan perbedaan kalau kita berantam terus kan. Tapi ada teposeliro. Ada yang dirumuskan waktu zaman sunyinya Bung Karno di Pulau Ende itu waktu dia dibuang no body itu, tahun 34 38 dia merumuskan itu. Pancasila itu ketuhanan. Bayangkan, dahsyat sekali jalan renungannya. Soekarno yang bukan agitator yang di Jakarta semuanya, dia perenung. Dia menyiapkan pancasila itu dengan ketuhanan yang berkebudayaan dan berbudipekerti serta saling hormat menghormati. Kenapa begitu? Karena ketika sunyi itu, dia ketemu orang-orang lain agama, yang rakyat biasa. Dan Soekarno sebagai manusia biasa, dan ketemu juga dengan para misionaris di sana yang belajar semuanya sampai akhirnya dia menyebut, kemarin waktu Taufiq Kiemas kemarin memperingatinya, itu adalah di bawah pohon sukun itu. Jadi ini adalah jalan kebudayaan yang sebenarnya tiap orang kita itu mengalami keasingannya ketika mereka sehari-hari mencari makan makna hidup semuanya, tukang becak kerja keras semua. Lalu dihabiskan oleh apa? Oleh para koruptor itu loh. Mereka kan semua habis juga itu.



Lalu revolusi mental itu sudah jalan atau belum?

Sebenarnya nawacita itu adalah perwujudan dari jalan kebudayaan yang kita perjuangkan. Kita sudah melaksanakan hampir empat tahun ini. Laku budaya itu. Tetapi nawacita ini sebenarnya menjadi ukuran, apakah jalan kita menuju peradaban atau kembali ke zaman kebiadaban. Apakah jalan kita menuju peradaban mengorangkan orang beda agama beda suku atau kita memperalat mereka untuk kepentingan kita untuk tujuan hidup kita sendiri. Nah kalau jalan kita masih begitu kayak sekarang ini, nawacita harus menjadi semacam pengukur, harus jadi semacam pandu, maka dalam Indonesia Raya kan jelas sekali, pandu ibuku. Kita semua saling memandu. Orang mengalami krisis, tidak mau percaya kanan kiri semuanya. Lalu tidak saling memandu. Padahal kalau kita kembali ke jalan kebudaya coba kita saling memandu kan.Coba lihat, semua kekerasan terjadi ketika semua ekses materialistis sekali. Ketika hidup ini kita perkecil dengan alat kamu bisa menguntungkan saya atau tidak. Nah itu, jadi kamapnye revolusi mental itu jangan sloganistis. Kalau hanya slogan akan parah.
Kalau kita belajar situs-situs kita akan mensyukuri. Gunung merapi misalnya, setiap kali memuntahkan api, yang kita sebut negatif dengan bencana, tapi sebenarnya ini menjadi kekuatan kita, yang kuat sekali. 



Di tengah masifnya globalisasi, lantas seperti apa wujud konkret jalan kebudayaan itu?

Anda bertanya seperti ini berarti Anda sedang menjalankan jalan kebudayaan. Ini Anda tidak seperti orang-orang lainnya semuanya. Hayat menghayati hidup, begitu saja. Banyak yang tidak bertanya, di balik semua itu ada apa. Kita hanya hidup di permukaan saja. Hanya hidup tidak pernah keheningan. Kehidupannya habis di putar oleh waktu. waktu untuk apa? Ya times is money. Lalu bisa happy. Orang tidak pernah menyediakan dirinya untuk berhenti sejenak, untuk mengunyah pengalaman hidupnya menjadi berharga. Lembu dan sapi aja setelah dia makan berhenti kok. Masa orang lebih rendah dari itu. Jadi yang lebih penting itu bukan banyaknya pengalaman, tapi mengolah pengalaman. Lantas memaknainya hubungan dengan Sang Pencipta.



Apakah menurut Romo terkait Gunung, terkait mitologi, apakah ini sudah jauh ditinggalkan masyarakat saat ini, sehingga begitu pentingnya tema ini diangkat (di BWCF 2015)? 

Nah, pola pikir Anda ini jangan memberikan bahwa Anda anak zamannya yang tidak pernah diajari atau dibawa pendidikan yang namanya penyedaran diri. Penyadaran itu apa? Artinya ketika kita di atas gunung, dengan seluruh bencana yang ada, kita selalu menganggap itu bencana, yang merugikan, padahal kita tidak pernah lihat betapa gununga merapi itu memberi kesuburan sampai kita makan yang bagus sekali kan. Kita tidak pernah lihat bahwa air, laut, segala macam itu, dengan seluruh Tanah Air ini. Kita baru memaki-maki setelah para cukong mengambil semua dari tanah kekayaannya dan air semua, hingga kita semua tidak punya tanah dan air. Dan hanya di Indonesia kita punya tanah dan air. Ibu Pertiwi itu. Kita bukan father land, tapi ibu pertiwi. 




Wujud kemanusiaan apa yang sebaiknya dilakukan politikus-politikus saat ini?

Mereka ini tidak tahu bahwa mereka pernah dipilih. Saya pernah jadi anggota KPU. Tahun 2000 sampai 2003, itu supaya saya mengatur partai politik. Politik memang harus dilakukan untuk membuat kesejahteraan. Mereka lupa ini anggota DPR ini bahwa mereka kita pilih. Sekarang mereka menjadi tuan-tuan masa melupakan rakyatnya. Nanti jangan pilih lagi mereka itu. Kalau pemilihan mereka membutuhkan kita, menaiki kepala kita, setelah menaiki kepala kita sampai ke atas lalu ditendang ke luar semuanya. Nah ini politik semacam ini, coba bayangkan. Seharusnya bagaimana seorang tokoh dari DPR mau ngomong memberi penernungan mengenai hari pahlawan dan semacamnya. Sekarang orang lihat, contohnya mana? Itu terbalik semua kan. Dan di situ dibutuhkan gerak-gerak kebudyaaan seperti ini, yang mereka bertemu penyairnya, penulisnya, pemuda, dan mereka yang terus tanpa kata secara sunyi itu menghidupkan terus. Karena kebudayaan yang kita hidupkan adalah pro life culture. Life culture. Jadi kebudayaan yang membela kehidupan. Sementara yang berantem terus itu adalah dead culture. Yang mematikan itu sendiri.
Kalau Anda tidak bisa membantu, untuk Jokowi dan kita semua yang mau melakukan jalan peradaban ini, tolong jangan menganggu. Kalau tidak bisa membantu, ojo ngerusui. Dan tolong yang kedua, wujudkan nawacita sebagai barometer untuk perjalanan peradaban ini, sehingga permainan kekusaaan segala macam yang akan mencelakakan kita tiada lagi.

Wednesday, September 9, 2015

Dari Operasi Klub hingga Pablo Escobar

Operasi BNN Cirebon, Sabtu (22/8/2015), di salah satu klub elit, Jalan Cipto, Cirebon. (Dok. BNN Kota Cirebon)
Sabtu (22/8) tengah malam, saya ikut serta operasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cirebon. Target operasi malam itu ialah salah satu klub (semacam tempat diskotik) elit di kawasan CSB, Jalan Cipto, Kota Cirebon.
Seluruh petugas BNN mulai menuju target operasi sekira pukul 00.30 WIB malam. Tentu, bagi penulis, yang sejatinya bukan petugas BNN, mereka-reka bagaimana operasi berlangsung karena ini pengalaman pertama ikut gerebek-menggerebek.
Sebelum sampai di lokasi, saya bingung dan khawatir. Bingung, apa yang akan saya perbuat jika kericuhan terjadi saat penggeledahan berlangsung. Khawatir akan ada orang yang cuap-cuap mengancam sembari membawa senjata tajam atau pisau selayaknya film-film Hollywood. Masa iya saya jadi superhero dengan menendang dada orang tersebut seperti film IP Man. Atau juga, masa iya saya cuma nonton mematung seperti adegan film Casino di depan meja judi.
Tak berapa lama, saya dan para petugas BNN tiba di lokasi. Singkat cerita, semua petugas BNN mengeluarkan alat tes urine dan hal ihwal yang berkaitan.
Singkat cerita lagi, karena kalau saya ceritakan di sini, akan banyak kalimat yang harus disensor. Semua pengunjung dan wanita-wanita pelayan berhasil dites urinenya. Hasilnya, 5 orang dinyatakan positif.
Oh iya, ada peristiwa unik saat penggeledahan ruangan. Salah satu petugas BNN awalnya curiga dengan satu ruangan. Merasa penasaran, lantaran di depan ruangan tersebut berdiri dua orang wanita celingak-celinguk. Saat dipaksa buka, eng eing eng. Hasilnya, wanita-wanita pelayan berjajar jongkok. Sebanyak 15 orang. Uniknya lagi, ruangan itu bukan sembarang ruangan. Di ruangan yang tingginya tak sampai semeter itu berisi jenset. Luas ruangan pun tak seberapa. Jadi, kebayang juga ya ke-15 wanita itu jongkok-jongkok cari kehangatan. Seakan-akan, tak ada pria hidung belang, jenset pun jadi.
Selanjutnya, ke-5 orang tadi digiring ke kantor BNN Kota Cirebon di Jalan Sunyaragi. Entah apa yang ditanyai petugas BNN kepada ke-5 wanita itu, yang jelas mereka diinterogasi. Istilah kepolisian, mereka di-BAP.
Di akhir, ya saya pulang. Karena waktu sudah menunjukkan hampir waktu subuh. Di jalan menuju pulang, benak saya teringat ujaran ketua tim petugas operasi itu, Dwi. "Lokasi klub ini dipilih karena banyak laporan warga. Tempatnya dicurigai ada banyak narkoba," ujarnya.
Lantas saya bergeming, kalau kecurigaan untuk pemberantasan konsumen, upaya operasi ini memang berhasil. Di lain hal, kalau untuk pemberantasan narkoba hingga bersih, mengapa tidak produsennya saja diincar? Saya jadi teringat film tentang kartel narkoba Kolombia, Andreas Escobar. Bukankah film ini mengajarkan saya, Anda, dan semua penontonnya untuk melihat realitas produksi-distribusi-konsumsi narkoba?

Monday, March 16, 2015

Mahatma Gandhi Kembali ke Inggris


Patung Mahatma Gandhi (Foto: MKGandhi(dot)org
Inggris meresmikan patung Mahatma Gandhi di Lapangan Parlemen London, Sabtu (14/03) waktu setempat. Peresmian tersebut sebagai bentuk mengenang pejuang kemanusiaan India itu. Inggris memilih waktu peresmian pada 14 Maret 2015 untuk memperingati 100 tahun kembalinya Mahatma Gandhi ke India dari Afrika.
“Patung ini merupakan persembahan kami untuk mengenang perjuangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perpolitikan dunia. Dengan menempatkan Mahatma Gandhi di lapangan ini, kami memberinya kenangan yang kekal di negara ini (Inggris)," ucap Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, seperti dinukil dari Sky News, Minggu (15/3).
Selain dihadiri PM Inggris, Menteri Keuangan India Shri Arun Jaitley, Bollywood Amitabh Bachchan, dan cucu Mahatma Gandhi, Gopalkrishna Gandhi.
Patung tokoh yang bernama lengkap Mohandas Karamchand Gandhi itu dibuat seniman Philip Jackson. Tingginya mencapai 2,7 meter. Biaya pembuatannya mencapai 1 juta poundsterling atau sekira Rp20 miliar. Dananya berasal dari sumbangan berbagai sumber, yang dikumpulkan oleh Yayasan Gandhi Statue Memorial Trust.
Seperti diketahui, di dalam sejarah Mahatma Gandhi merupakan pejuang nasionalisme India. Pria kelahiran 2 Oktober 1869 itu mengusung gerakan anti-kekerasan dalam melakukan perlawanan terhadap kolonial Inggris. Gerakannya dikenal dengan istilah Satyagraha. 30 Januari 1948 akhirnya Mahatma Gandhi tewas dibunuh oleh pendukungnya yang kecewa terhadap keberpihakan pada agama lain.
Pada masa kehidupannya, Gandhi memiliki musuh sekaligus sahabat. Dia adalah Tagore, sastrawan India sekaligus pejuang bangsa India. Sahabat karena keduanya sama-sama memiliki cita-cita pembebasan dari penjajahan. Menjadi musuh ketika keduanya berhadapan mengenai strategi. Mari baca seonggok ulasan tentang Tagore: klik http://fredywp.blogspot.com/2014/07/pragmatisme.html


Wednesday, December 3, 2014

Santri, Sastra, dan Seni Wayang

"Ngaji Wayang" di Pesantren Kaliopak
Santri, Sastra, dan Seni Wayang - “Apa hubungan sastra dengan wayang?” begitu si pembawa acara bertanya kepada penyair muda yang tampil di awal kesempatan.
“Perntanyaannya menjebak ini,” jawab si penyair.
Pernyataan itu seakan mewakili kegelisahan atas keberlangsungan apresiasi seni sastra di tengah kegiatan Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Dunia, di Pondok Kaliopak, Jumat (28/11) malam. Kegelisahan mereka yang wara-wiri mempertanyakan kegiatan semacam ini ditambah dengan situasi latar panggung yang bernuansa mistis. Panggung selebar kurang lebih 6 meter dihiasi latar tetumbuhan bambu. Rerimbunan, yang sebagiannya baru saja ditebangi untuk keperluan tata panggung. Tak jauh dari rerimbunan, sekira 7 meter dari panggung, salah satu sungai terpanjang di Yogyakarta menghampar, Kaliopak –sebuah  sungai bersejarah dalam perjalanan salah satu Walisongo, Sunan Kalijaga.
Di panggung terpampang banner “Ngaji Wayang”. Sehari sebelum panggung digunakan sebagai ruang apresiasi sastra, panggung digunakan sebagai ruang pembukaan pameran wayang “Ngaji Wayang”.
Peresmian itu pun tak luput dari pertanyaan pengunjung. Mereka bertanya-tanya, mengapa wayang bisa diapresiasi kelompok religi yang disebut sebagai kelompok pesantren. Dalam kata sambutan, pendiri Pesantren Kaliopak, Jadul Maula, melontarkan kegelisahan pengunjung yang menancap tepat di telinganya. Pertanyaan, mengapa pesantren mengapresiasi wayang? “Apa salahnya pesantren menyelenggarakan wayang?” kata Jadul Maula, bermaksud memberikan jawaban tak langsung atas pertanyaan tersebut, di hadapan pengunjung.
Mantan direktur LKiS itu memberi sambutan tepat di depan Aula Pesantren Kaliopak, ruangan yang digunakan untuk memamerkan rupa-rupa wayang, dari 17 seniman. Mulai dari wayang golek, wayang kulit, wayang sodo, lukisan wayang, hingga potongan komik wayang. Tepat di antara posisi beridirinya Jadul Maula dengan pintu masuk ruangan pameran berdiri gagah gunungan wayang setinggi 11 meter. Tergambar di bagian depan gunungan tersebut sosok yang menyeramkan, sosok berwajah merah dan bertaring putih.
“Ngaji wayang itu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wayang berarti bayang-bayang kita sendiri. Wayang-wayang seperti tubuh-tubuh kita. Jadi, wayang itu juga muhasabah, bagian dari mengenal diri kita sendiri,” papar pria asal Pekalongan itu, dengan mengenakan jarik khas Jogjakarta, sorjan, dan blangkon.
Bagi Jadul Maula, wayang merupakan salah satu cara menuju Tuhan, selain sebagai seni tradisi yang mengandung nilai estetika Nusantara. Salah satu cara mendekatkan diri kepada Yang Ilahi. Menyaksikan pagelaran wayang, menurut dia, sudah seharusnya melampaui hingga bagian terdalam dari sisi pemaknaan, bukan sekadar hiburan semata selayaknya cerita-cerita wayang yang ada di televisi yang belakangan ramai diperbincangkan. Di dalamnya terdapat nilai rohaniah yang mampu menjadi bahan ajaran, sebagai salah satu cara pendekatan diri kepada Tuhan tadi.
Selepas Jadul Maula, pembukaan dilanjutkan oleh perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang bertugas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di akhir kesempatan dalam sesi pembukaan, GBPH Yudhaningrat turut memberi wejangan pembuka, dengan menggunakan bahasa Jawa. Yudhaningrat pun membuka pameran wayang “Ngaji Wayang” secara simbolis melalui pemotongan pita berwarna merah. Selanjutnya, peserta dan tamu undangan bergilir memasuki ruangan pameran yang bakal dibuka hingga 30 November itu.
Di akhir acara pembukaan, pembawa acara menyampaikan bahwa sehari setelah pembukaan akan diadakan acara apresiasi sastra dari penyair muda hingga penyair berpengalaman. Penyair muda yang dimaksud di antaranya Retno D, Ali D Musrifa, dan lainnya. Sementara penyair berpengalaman ialah Mustofa W Hasyim dan Imam Budi Santosa.
Bagi Imam Budi Santosa, di lain kesempatan, ketika ditemui langsung dikediamannya, berujar bahwa puisi merupakan religiusitas. Ada semangat religius di dalam puisi, sehingga teks puisi harus benar-benar dipahami lebih jauh, bukan sekadar teks. Memahaminya tak hanya pada batas apa yang tampak semata, melainkan memahami lebih dalam tak ubahnya memahami pagelaran wayang yang harus dipahami pada titik dasar riligiusitasnya.


Tuesday, November 25, 2014

Akademisi: Menikmati Wayang Ada Tiga Tahap

ilustrasi (foto: aryofineart.blogspot.com)

Akademisi: Menikmati Wayang Ada Tiga Tahap - Akademisi dari Sanata Dharma, St Sunardi, menyatakan bahwa menikmati wayang bukan hanya pada tatanan kenikmatan seni semata. Dia menegaskan, untuk menikmati wayang perlu tiga tahap yang harus dilampaui.
“Pertama, tahap paling permukaam, menikmati wayang berdasarkan lakonnya. Bila telah melampaui tahap ini, selanjutnya ke tahap yang lebih dalam lagi,” kata pengajar Ilmu Religi dan Budaya Sanata Dharma itu, dalam diskusi “Epos Mahabarata”, Senin (10/11), di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.
Selanjutnya ialah tahap “raos”. Tahap ini merupakan tahap pemaknaan atau disebut “neges”. Penikmat wayang melakukan pemaknaan lebih luas dari apa yang ia ketahui perihal kehidupan.
Tahap terakhir, tambah penulis buku tentang estetika ini, ialah tahap beber. Pada tahap ini penikmat wayang membutuhkan refleksi yang lebih jauh dengan menghubungkan realitas dengan hasil pemaknaan. Kemudian hasilnya disebarkan hingga menjadi pemaknaan yang terus berkelanjutan.
Selain St Sunardi, dalam diskusi yang menjadi rangkaian “Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia: Pengukuhan UNESCO 2003-2014” ini juga menghadirkan filolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Wanu J Widya Saputra. Sejalan dengan Sunardi, akademisi UGM ini memaparkan bahwa bahasa merupakan pengemas nilai sakralitas. Tanpa bahasa asli, wayang akan sangat sulit terjaga nilai sakralitasnya, sehingga akan sulit pula mencapai tahapan yang lebih dalam.
Diskusi ini dilakukan dalam rangkaian “Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia: Pengukuhan UNESCO 2003-2014”. Kegiatan dilaksanakan Pesantren Kaliopak dan lokasi terpusat di Pesantren Kaliopak, Dusun Klenggotan, Piyungan, Bantul, sejak 10 November 2014 hingga 06 Desember 2014.



Berita Rilis
Tim Media Kaliopak

Sejarah Bangsa Indonesia Tidak Utuh

Agus Sunyoto dan Jadul Maula, Jumat (10/11), di Pesantren Kaliopak, Piyungan, Yogyakarta (Foto: Kaliopak)
Sejarah Bangsa Indonesia Tidak Utuh - Sejarah bangsa Indonesia tidak sepenuhnya utuh. Dalam ilmu sejarah kerap kali fase sejarah Walisongo diabaikan. Paparan sejarah selalu dimulai dari Hindu.
“Walisongo, spiritualitas, selalu tidak dibicarakan. Selalu meloncat dari Hindu ke Indonesia,” papar Agus Sunyoto, Jumat (21/11) malam, di Aula Pesantren Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta, dalam diskusi Pesantren, Wayang, dan Jatidiri Bangsa.
Menurut Agus, peran Walisongo sangat berpengaruh terhadap kebudayaan bangsa Indonesia. Di antaranya perkembangan wayang. Selain kebudayaan, Islam, sebagai agama dominan di Indonesia, juga tak terlepas dari peran Walisongo.
Agus menjelaskan, wayang sebelum masuknya Islam tidak mengenal cerita Ramayana dan Mahabarata. Penyebar Islam memasukkan cerita tersebut untuk menggantikan perihal ritual  pemanggilan arwah. Sebelumnya penyebaran Islam, masyarakat bergama Kapitayan menggunakan wayang untuk memanggil arwah. “Orang Belanda menyebut agama Kapitayan itu dengan sebutan Animisme Dinamisme,” kata Agus menambahkan.
Di dalam Islam Indonesia juga banyak menggunakan istilah-istilah Kapitayan. Di antaranya “sembahyang”, “bedug”, dan “bidadari”.  “Logika berfikir betul-betul kontekstual, tidak terperngkap oleh bahasa,” kata Agus.
Saat ini materi pelajaran sejarah di dalam dunia pendidikan jarang memasukkan fase sejarah perkembangan Islam oleh Walisongo. Bahkan kepercayaan asli Nusantara kerap kali disebut sebagai anismisme dinamisme, istilah yang digunakan Belanda.

Berita Rilis

Tim Relasi Media “Pekan Peringatan 11 Tahun Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia”

Tidak Ada Alasan Melupakan Wayang

Hasan Basri, Yahya Staquf, Jadul Maula, dan Prof Heddy Shri Ahimsa (foto: Kaliopak)
Tidak Ada Alasan Melupakan Wayang - Kendala bahasa tidak dapat dinyatakan sebagai kendala utama dalam memahami wayang. Meski wayang menggunakan bahasa Jawa yang sulit dipahami remaja, ungkapan-ungkapan wayang masih dapat dipahami melalui ekspresi lakon, alur cerita, dan teks pembanding seperti komik wayang. Demikian disampaikan Jadul Maula, salah satu pembicara dalam seminar “Wayang dan Krisis Manusia Nusantara”, Senin (17/11), di Ponpes Kaliopak, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.
Menurut Jadul, selama ini remaja dan masyarakat yang enggan belajar memahami wayang justru terlena dengan tradisi di luar dirinya. Tradisi rohani diri sendiri mestinya menjadi alat memahami kerohanian diri sendiri karena tiap manusia memiliki seribu cara menuju Tuhan.
“Ini tidak adil lagi terhadap tradisi sendiri. Ingkar pada tradisi sendiri. Kita punya tradisi rohani dan tidak mau mengarah kesitu. Kita malah keluar. Krisisnya itu. Jatidiri,” papar pengurus wakil ketua PWNU itu.
Pembicara lainnya, KH Yahya Staquf, menyatakan, wayang adalah cara berdialog antara Jawa dan Islam. Selama ini, ladang peradaban Jawa selalu mengolah seni wayang. Dengan demikian, menurut mantan Juru Bicara era Presiden Abdurrahman Wahid itu,  wayang merupakan bagian dari Islam itu sendiri.
“Ada hadis, Rasul, menyeru, bahwa Islam menyempurnakan ahlaq. Menyempurnakan di sana, secara maknawi bahasa Arabnya, berarti sempurna secara kualitatif,” kata Yahya.
Sementara itu, pembicara yang berasal dari kalangan akademisi, Heddy Shri Ahimsa, menyatakan bahwa masyarakat Indonesia selayaknya bersyukur karena hidup di tengah tradisi wayang. Menurut dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM itu, dalang merupakan pelaku seni yang sangat menarik dibanding pertunjukan seni lainnya. “Tidak ada pertunjukan yang seperti dalang pertunjukan di dunia ini. Berdasarkan pengalaman saya, dalang itu harus melatih banyak jenis vokal, harus memadukan gerak, dan mengharmonikan visual serta suara dengan para pemain gamelannya,” ungkap dia.
Seminar ini diadakan dari bagian “Pekan Peringatan Pusaka Dunia (UNESCO 2003-2014)” yang diadakan oleh Pondok Pesantren Kaliopak dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Gelaran ini akan diadakan hingga 6 Desember 2014. Keseluruhan acara diadakan di kawasan Ponpes Kaliopak.

Berita rilis

Tim Media Pesantren Kaliopak

Monday, November 3, 2014

Pesantren Kaliopak Peringati Pengukuhan Wayang


Poster Wayang Pusaka Kemanusiaan Dunia (Gambar: Naw-art)

Berita Pers "Pesantren Kaliopak Peringati Pengukuhan Wayang" - Wayang merupakan tradisi nusantara yang telah ada sejak sebelum kolonial masuk ke Nusantara. Di dalam wayang sejatinya mengandung nilai-nilai moralitas yang cukup tinggi dan nilai spiritualitas. Karena lamanya keberlangsungan tradisi dan nilai yang terkandung di dalamnya, wayang mendapat apresiasi positif melalui pengukuhan dari lembaga PBB yang menaungi bidang kebudayaan, UNESCO.
Untuk memperingati pengukuhan tersebut, Yayasan Pesantren Kaliopak mengadakan rangkaian kegiatan wayang. Kegiatan ini bertujuan mendekatkan kembali wayang kepada masyarakat, khususnya kaum muda. Bentuk pendekatan yang dilakukan berupa penelaahan sejarah, ajaran-ajaran, hikmah, dan spiritualitas wayang sebagai pembentuk karakter manusia nusantara dan jatidiri budaya bangsa.
“Namun demikian, pengukuhan oleh UNESCO itu terasa ironis, karena pada saat yang sama penghayatan dan pemahaman, bahkan pengenalan, terhadap wayang di tanah air sendiri sebetulnya mempunyai kecenderungan merosot. Dan bahkan menyempit, untuk tidak menyebut meluntur,” papar Jadul Maula, Pengasuh Pesantren Kaliopak, beberapa hari yang lalu, Piyungan, Yogyakarta.
Di satu sisi, menurut Jadul, penetrasi budaya modern yang terjadi melalui berbagai media menyebabkan tumbuhnya kesenjangan antara anak muda dan tradisinya. Sementara di sisi lain, keterpisahan yang semakin lebar antara budaya dan agama juga memberi kontribusi besar terhadap gejala ini. “Dalam hal ini, arus formalisasi agama yang selama ini terlalu kencang telah melahirkan pandangan keagamaan yang sumir terhadap kebudayaan, dan wayang khususnya,” ujar pengurus PWNU Yogyakarta ini.
Bentuk-bentuk kegiatan ini berupa diskusi sarasehan, seminar nasional, kelompok belajar, pameran wayang, lomba, pentas seni tradisional dan tradisi modern, dan pagelaran wayang. Kegiatan mulai diadakan pada 10 November, melalui diskusi sarasehan, di Rumah Budaya Nusantara Kaliopak, Dusun Klenggotan, Piyungan, Bantul, Yogyakarta.
Seperti diketahui, pada 7 November 2003 UNESCO mengukuhkan wayang kulit sebagai  diberikan lembaga kebudayaan PBB (UNESCO) terhadap Wayang Kulit sebagai “Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity”. Pengukuhan ini melengkapi pengukuhan dua tradisi nusantara lainnya, yakni batik dan keris.

Narahubung
Kepanitiaan:       M Imamul (085740103111)
Zahid S (08977974344)
 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes