News Trending

Televisi, Anak-anak, dan Wacana Kekerasan

iklan Mugirahayu Batik

Anak menonton TV
Oleh : Fredy Wansyah
Salah satu klasifikasi siaran televisi yang mengkhawatirkan bagi penonton adalah berita. Siaran berita adalah suatu penyajian yang menyampaikan fakta.
Fakta, realitas, dan aktualitas merupakan landasanya. Kejadian-kejadian atau isu maupun wacana yang dianggap penting oleh penyaji berita disajikan tanpa batas.
Hal ini terkait dengan sasaran "pemakai" televisi. Bila televisi ada di suatu rumah, maka tidak menutup kemungkinan seluruh anggota keluarga yang berada di dalam rumah menyaksikan sajian berita. Salah satu contoh yang sangat mengkhawatirkan adalah berita kekerasan agama. Sajian visual tampak "telanjang", interaksi kekerasan terjadi tanpa ragu-ragu penyaji menyampaikan berita yang menampakkan perilaku kekerasan (sosial).
Kekerasan pada berita seolah-olah merupakan suatu bentuk (wujud) representasi faktual. Representasi kekerasan tersebut disaksikan dan direkam oleh anak. Berbagai macam bentuk kekerasan yang terjadi, yakni kekerasan fisik, kekerasan simbolik, kekerasan verbal, hingga kekerasan lainnya yang bersifat merusak sifat-sifat kemanusiaan. Salah satu bentuk yang sering muncul ialah melalui visualisasi.
Visualisasi berita berorientasi pada landasan penyajian berita, yakni fakta. Sehingga, hal itu tidak ditutup-tutupi (tanpa sensor). Sajian-sajian visual seperti ini sering kita saksikan di televisi belakangan ini atas terjadinya kasus kekerasan yang terjadi. Seseorang memegang senjata tajam, seseorang memukuli seorang lainnya, hingga pengrusakan rumah yang dilakukan secara massal. Itulah bentuk-bentuk visual yang sering kita cerna atau terima belakangan ini.
Tidak ada batas usia, atau setidak-tidaknya, tidak ada yang menjamin orang tua dalam suatu rumah tangga mampu mengontrol sajian berita terhadap anak-anak. Orang tua yang sibuk secara rutin jelas tidak mampu mengontrol sajian-sajian berita kepada anaknya. Apalagi, berita dianggap suatu sajian yang faktual sehingga dianggap suatu sajian yang biasa saja. Kadang kita temui sajian-sajian televisi berlabel "khusus dewasa", tetapi bentuk pengkhususan ini hanyalah semu.
Anak-anak akan merekam visualisasi kekerasan yang tersaji melalui siaran berita di televisi. Rekam pikiran tersebut menjadi suatu potensi kekerasan yang baru bagi anak-anak. Rekam pikiran tersebut pun menjadi potensi kekerasan baru yang mungkin dapat dilakukan oleh sang anak.
Wacana kekerasan tidak hanya menimbulkan potensi kekerasan baru bagi anak-anak melalui visualisasi televisi semata, tapi melalui elemen-elemen lainnya seperti suara dan bahasa. Oleh karena itu, diperlukan sikap-sikap tegas terhadap wacana kekerasan yang tersaji di televisi. Tindakan mengantisipasi dan mewaspadai wacana-wacana kekerasan seperti ini tidak harus diantisipasi oleh masya rakat semata sebagai penonton televisi.
Proses praktik-praktik wacana kekerasan yang divisualisasi merupakan suatu proses yang membutuhkan pertimbangan batas usia. Dalam hal inilah peran pelaku praktik kewacanaan dibutuhkan untuk meminimalisir kemungkinan munculnya potensi kekerasan yang terinfiltrasi dalam kehidupan anak. Peran ini sangat efektif dibandingkan peran-peran orang tua.
Selain pertimbangan skala usia yang dilakukan oleh dua elemen tadi (pelaku wacana dan orang tua), pertimbangan efektivitas wacana perlu menjadi perhatian berikutnya. Proses-proses wacana kekerasan disajikan sebaik mungkin dengan penyajian yang minim terhadap visualisasi kekerasan, namun tujuan utamanya tetap tersampaikan. Tujuan utama suatu warta adalah informasi, sehingga penonton mampu menerima pesan informatif tersebut sebagai berita yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Televisi bagi anak anak bukanlah media informasi yang menciptakan potensi-potensi destruktif di dalam dirinya. Televisi merupakan media yang informatif, edukatif, dan hiburan.
Oleh karena itu, berita sebagai salah satu bentuk siaran televisi tidak hanya menyajikan informasi semata, melainkan aspek-aspek edukasi dan hiburan dalam berita pun perlu disajikan kepada anak agar anak dapat menerima dengan baik dan seperlunya wacana-wacana berita di televisi.***
Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia, dan aktivis sosial.

0 komentar:

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.