ARTIKEL PINTASAN
Showing posts with label pop culture. Show all posts
Showing posts with label pop culture. Show all posts

Friday, July 11, 2014

Indonesia Penikmat Piala Dunia

ilustrasi penikmat Piala Dunia (foto: Street Art Utopia)

Indonesia Penikmat Piala Dunia - Setiap perhelatan Piala Dunia masyarakat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling antusias. Selain paling antusias, Indonesia juga tak pernah menjadi peserta perhelatan akbar sepak bola ini, kecuali di masa penjajahan Belanda. Pemerintah Indonesia belum melihat hal ini sebagai masalah. Padahal, dari sisi sosial, hal ini merugikan masyarakat Indonesia dan negara secara umum.
Antusiasme tersebut tak lain karena adanya rekayasa sosial. Rekayasa sosial sepak bola disambut positif oleh masyarakat dominan Indonesia. Spanduk-spanduk yang terpasang di ruang publik, iklan-iklan televisi bertema sepak bola, hingga komentar-komentar di linimasa media massa menjadi stimulan masyarakat. Dari apa yang tampak di ruang-ruang publik tersebut lantas memengaruhi kehidupan masyarakat (realitas). Stimulasi pikiran masyarakat dari berbagai dimensi tersebut menyebabkan masyarakat seakan-akan lupa realitasnya sendiri. Hiperrealitas memasuki ranah realitas berupa apresiasi sosial, dari linimasa dan program-program televisi terbawa ke ruang-ruang publik tradisional, seperti warung-warung kopi hingga sekolah.
Ada beragam apresiasi, di antaranya nobar (nonton bareng), pemakaian seragam (jersey) tim nasional yang didukung, opini publik di berbagai ruang, hingga apresiasi negatif seperti perjudian. Demi semangat dukungan, apresiasi bisa seolah-olah harus dilakukan. Tanpa apresiasi, Piala Dunia dianggap seumpama sayur tanpa garam.
Berbagai nilai pun terabaikan, selayaknya pernyataan "sepak bola adalah agama". Nilai moral terabaikan demi perjudian. Nilai tradisi negeri sendiri terabaikan demi melaksanakan nobar, yang jelas-jelas waktu antara negara penyelenggara dan waktu di Indonesia jauh berbeda.
Piala Dunia di Brasil tahun ini, misalnya, antara Indonesia dan Brasil memiliki retan waktu sekitar 10-11 jam. Perbedaan waktu tentu menyebabkan perbedaan jam-jam aktivitas pula. Indonesia memiliki jam aktivitas siang saat di Brasil sedang berada pada jam-jam istirahat. Begitu pula sebaliknya. Masyarakat Indonesia mencari nafkah saat masyarakat Brasil sedang beristirahat (malam). Bila dipaksakan, masyarakat kita mengikuti jam-jam aktivitas Brasil, dampaknya tentu akan buruk pula. Masyarakat Indonesia menjadi minim istirahat, atau tanpa istirahat sama sekali.
Banyak dimensi terganggu. Di antara instansi pemerintah dan swasta, lembaga pendidikan, hingga perputaran ekonomi. Tak sedikit pekerja negeri maupun swasta rela menghabiskan waktu malamnya demi menyaksikan dan mengekspresikan kecintaannya terhadap sepak bola. Pukul berapa pun tayangan sepak bola, mereka siap menyaksikan. Jam istirahat terganggu, sehingga jam reguler kerja tidak optimal. Hasil pekerjaan juga terganggu, tidak optimal.
Gangguan tersebut secara tidak langsung memberi dampak terhadap optimasi perekonomian Indonesia. Kinerja terganggu, sehingga laju ekonomi tidak stabil. Meski dugaan adanya gangguan ini tidak terekspose sama sekali -karena sifat budaya massa lebih menyenangi hal-hal ekspresionis.
Pemerintah harus berani mengambil langkah. Paling tidak, mulai memikirkan hal yang dianggap sepele ini menjadi suatu hal yang perlu dibicarakan. Penikmat Piala Dunia ini tidak jauh menguntungkan negara. Secara kompetitif, negara harus berani mengambil langkah menjadi tuan rumah atau masuk menjadi peserta perhelatan yang kerap memengaruhi bursa saham global itu. Jika tidak, pemerintah harus mengevaluasi tradisi penikmat Piala Dunia ini. Misal, dengan membuat kebijakan otoritatif demi membatasi dampak negatif perekonomian dan kebiasaan masyarakatnya.

Wednesday, July 2, 2014

Gaya Video Kampanye



ilustrasi Dhani-Nazi (foto: blogspot)

Gaya Video Kampanye Dhani - Dari kemarin, Rabu (25/06), hingga hari ini para pengguna media sosial beramai-ramai mencerca video kampanye Prabowo-Hatta yang dibawa oleh Ahmad Dhani beserta tiga finalis Indonesian Idol. Cercaan semakin meluas akibat pemberitaan media-media internasional, seperti BBC dan Time. Publik media sosial mencerca gaya Nazi yang ditampilkan Ahmad Dhani. Selain itu, juga keplagiatan musik hingga unsur ideologi Nazisme itu sendiri.
Gaya Ahmad Dhani yang berkostum ala Nazi itu dinilai sebagai ancaman di Indonesia. Pasalnya, Ahmad Dhani dikenal sebagai artis pendukung Prabowo-Hatta. Lagu tersebut juga mengampanyekan Calon Presiden (Capres) dari Partai Gerindra dan koaliasinya. Lagu yang digubah dari lagu "We Will Rock You" itu mengandung ideologi fasisme Nazi, karena konstruksi gaya (keseharian) dan bahasa tubuh Prabowo.
Fasisme dan ahumanis adalah nilai ideologi yang dikritik publik secara menyeluruh melalui kostum ala Nazi Ahmad Dhani di dalam video yang disebar kali pertama lewat Youtube itu.
Video kampanye tersebut hanyalah sebatas video klip yang mengandung kampanye politik pemilihan presiden. Artinya, menilai video tersebut harus menempatkan pada dua sisi. Pertama, video musik sebagai karya pop. Kedua, video kampanye sebagai produk politik.
Video musik sebagai karya pop tidaklah membawa nilai ideologi-ideologi tertentu, kecuali nilai keberlangsungan kapitalisme. Video klip populis tak bertujuan membentuk ideologi nonkapitalisme. Tujuannya semata mencari sensasi agar meraih simpati massa sebanyak-banyaknya. Kuantitas jadi yang utama. Sementara kualitas terabaikan.
Brand (merek) dan kepuasan individu lebih prioritas, seperti apa yang dinyatakan Adorno, fetisisme komoditas. Konsumen mengonsumsi merek. Konsumen mengutamakan kepuasan diri. Tak ada konstruksi lebih dalam. Begitu pula video-video klip umumnya yang kini sering tampil di layar televisi. Penonton maupun konsumen merasa puas atas siapa artis dan bagaimana rasa musik didengar.
Atas tujuan video seperti itulah, artis Ahmad Dhani hanya mencari sensasi. Ia memakai kostum ala Nazi, yang sifatnya ahistoris (mengabaikan nilai sejarah fasisme Nazi), hanya untuk menyasar kuantitas. Kuantitas menuju kuantitas. Penyebaran video ke publik (kuantitas produksi) untuk mencari kuantitas penonton.
Selanjutnya bagaimana dengan sisi politis video kampanye tersebut? Secara politik maupun konstitusional, paham fasisme tidak dilarang di Indonesia. Fasisme sebagai paham negeri asalnya pun berbeda dengan fasisme ala Indonesia, jika sekelompok orang/komunitas berasas fasisme. Fasisme Jerman berorientasi pada kekuasaan global, melawan gerakan kelompok gereja dan antiras non-Jerman. Sementara, bila memahami fasisme hanya sekadar kekerasan, pemaksaan, dan pembunuhan ras hanyalah pemahaman nilainya tanpa kontekstualitas. Begitulah nilai fasisme dari ideologi politik, yang jelas-jelas belum pernah dilakukan di Indonesia sejak kemerdekaan 1945.
Sementara itu, konstitusi pelarangan fasisme Nazi hanya berlaku di Jerman. Di Indonesia, pelarangan ideologi hanya untuk Marxisme/Komunisme, yang hingga kini masih diskriminatif .
Memang pelarangan fasisme Nazi di Jerman karena traumatik sejarah di Jerman. Fasisme di Jerman sangat tidak menusiawi, dengan membunuh maupun memberangus ras Yahudi. Tapi, apakah kita punya traumatik sejarah fasisme Nazi? Pemberangusan ras di Indonesia hanya dilakukan terhadap kelompok penganut Marxisme/Komunisme yang tergabung maupun berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Tujuan pemberangusan massal di Jerman dan di Indonesia itu tentu berbeda. Fasisme Nazi ingin menguasai dunia, dengan cara menjadi ras unggul. Sementara di Indonesia bertujuan stabilitas nasional dan politik nasional semata, atas lawan-lawan politik penguasa di masa itu.
Simpulannya, video kampanye "Indonesia Bangkit" hanyalah video populer yang tidak memiliki pesan ideologis yang menakutkan, kecuali kapitalisme itu sendiri. Video tersebut hanya mengandung pesan persuasifitas politik pragmatis. Terlebih gaya Nazi yang ditampilkan Ahmad Dhani, tak ubahnya gaya-gaya setan yang dibawakan Lady Gaga selama ini.

Saturday, December 10, 2011

Mencipta Kultur



Stasiun acara televisi sekarang ini layaknya panggung akrobat ataupun sirkus. Acara televisi beragam menyajikan panggung-panggung yang mengatasnamakan seni. Seni musik, seni tari, hingga seni (konon katanya) tradisional. Penonton dibentuk pasif, tetapi aktif dalam mengapresiasi melalui tepuk tangan dan sorak-sorai. Bukan semata apresiasi dari penonton yang tampak di dalam televisi, secara tidak sadar pun penonton di luar televisi dibentuk untuk mengikuti apresiasi penonton di dalam televisi tersebut.

Lihat saja, penonton-penonton acara musik pada pagi hari. Beberapa stasiun televisi menyajikan penonton ‘bentukan’ seperti itu, yang secara tidak langsung membentuk penonton di luar televisi mengikutinya. Lihat pula acara-acara komedi maupun acara show. Ada penonton yang sengaja dibentuk untuk menambah suasana seakan-akan meriah.

Pertanyaannya adalah, siapakah penonton itu? Ya, tidak lain penonton seperti itu merupakan penonton yang diajak dari luar. Terlepas apakah penonton seperti itu benar-benar dibayar atau tidak (dari pengalaman diskusi saya dengan beberapa teman, penonton seperti itu dibayar. Tetapi saya belum dapat memastikan kebenarannya), yang pasti bahwa penonton itu adalah remaja. Ya, kalangan remaja diajak dengan bujukan akan masuk televisi, seakan-akan televisi mampu menjadi mediumnya untuk menjadi terkenal seperti artis-artis, atau paling akan bertemu dengan artis idolanya. Ada fakta yang saya alami sendiri mengenai hal itu.

Pertama, seorang teman dekat saya, yang bercerita setelah keluar dari kelembagaan dan bercerita dengan nada penyesalan, pernah bercerita tentang pengalaman kelembagaan mahasiswa yang diikutinya. Pada suatu waktu kelembagaan mahasiswanya mengikuti acara show di stasiun televisi Metro TV. Mereka pun pergi menuju Jakarta, dari Jatinangor, dengan menggunakan bus. Mereka diajak untuk memeriahkan acara tersebut dengan cara memberi tepuk tangan sesuai arahan. Di dalam proses acara itu ada seorang kru yang mengarahkan atau memberi aba-aba kapan dan bagaimana saat bertepuk tangan dimulai, bagaimana cara merespon teriakan, dan sebagainya. Setelah acara usai, mereka diberi makan gratis. Makanan yang diberi oleh pihak stasiun televisi dapat dikatakan cukup mewah bagi kalangan mahasiswa. Usailah semua acara tersebut, kemudian mereka kembali ke Jatinangor. Ya, mereka hanya mengikuti acara itu untuk memeriahkan semata agar tampak apresiatif dan berkesan eksekutif karena dihadiri oleh mahasiswa.

Kedua, tidak jauh berbeda dari hal yang pertama, seorang adik angkatan saya bercerita bahwa lembaga perhimpunan jurusan akan menghadiri suatu acara komedi di stasiun Trans7, komedi yang sempat naik daun dan sempat membuat roadshow ke beberapa kota. Dengan bangganya mereka akan berangkat dari Jatinangor ke Jakarta dengan menyewa bus. Mungkin kita semua sudah tahu bahwa penonton yang ada di dalam acara tersebut merupakan penonton yang ‘bentukan’ untuk tertawa, tepuk tangan, dan merespon komedian yang ada di panggung studio.

Kedua fakta di atas menampakkan bahwa mahasiswa kini telah menjadi panggung televisi yang dibentuk oleh pihak televisi. Seperti yang saya singgung di atas, bahwa remaja merupakan ‘kroban’ televisi untuk dijadikan penonton bentukan. Klasifikasi remaja itu, salah satunya, ialah kalangan mahasiswa, yang seharusnya menjadi kalangan yang kritis atas realitas televisi.

Mahasiswa telah kehilangan daya kritisnya dalam kultur seperti itu, kultur yang dibentuk oleh corong budaya pop dan corong konsumtif (televisi). Mahasiswa hanya bisa ikut dipanggung kelompok mahasiswa gerakan semata-mata ingin ‘gaya’, ingin menapak ke jenjang yang lebih baik (batu loncatan) dalam karir politiknya setelah lulus kuliah, dan ingin mengambil sikap pragmatis saja (apakah dapat keuntungan finansial dan keuntungan kedudukan atau tidak) Secara periodik perlahan-lahan pun kelompok gerakan mahasiswa redup.

//

Coba kita perhatikan beberapa kolom opini di media massa. Rata-rata penulisnya berlatar dari dunia kampus (mahasiswa), meski sesungguh itupun bagian dari instruksi dan kebijakan pihak media massa demi mendapatkan nilai jual ke pasar. Melihat fenomena itu dalam waktu sekejab kita patut bangga, karena mahasiswa (seakan-akan) telah berguna bagi kehidupan bangsa dan negaranya, atau secara esensi dikenal sebagai intelektual publik.

Meski tidak semua, kebanyakan tulisan itu mengalami kendala bagi masyarakat luas. Pertama, kendala kebahasaannya. Bahasa yang digunakan terlalu tinggi, dan secara tidak langsung ingin menyatakan bahasa rendah merupakan bahasa murahan bagi mahasiswa. Kedua, referensi tulisannya memuat buku-buku yang sulit diakses dan didapatkan oleh masyarakat.

Penulis-penulis seperti itu kebanyakan hanya mengejar nilai tambah semata. Nilai tambah yang dimaksud ialah nilai tambah uang dan nilai tambah reputasi. Nilai tambah uang ini tidak sepenuhnya disalahkan, terkait dengan cara survive seorang mahasiswa dalam menggunakan daya intelektualitasnya. Nilai tambah reputasi digunakan untuk mencari reward dalam meningkatkan ‘nilai jualnya’ kepada suatu instansi, seperti instansi tertinggi di bidang pendidikan, agar memberikan peluang untuk menaikkan tingkat/golongannya sehingga secara otomatis pula gaji naik.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana tradisi ini terbentuk. Ben Anderson1 pernah mengulas hal ini, mengkritisi peran-peran intelektual publik yang mengaktualisasi ide-ide dan gagasannya di kolom-kolom opini media massa dan panggilan televisi. Semua itu dilakukan oleh intelektual publik (dalam hal ini saya setarakan dengan mahasiswa-mahasiswa yang sering mengisi kolom-kolom opini di media massa) karena tidak adanya perhatian serius dari pemerintah terhadap intelektual seperti itu. Akibatnya, cara pintas seperti itu dilakukan semata-mata demi mempertahankan hidup.

-2011-
 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes