ARTIKEL PINTASAN

Thursday, November 26, 2015

Potret Borobudur Writers and Cultural Festival 2015



...

Tuesday, November 24, 2015

Komentator Sepak Bola kayak Dukun


ilustrasi tendangan bola ke gawang (foto: blogspot)


Mantera

lima percik mawar
tujuh sayap merpati
sesayat langit perih
dicabik puncak gunung
sebelas duri sepi
dalam dupa rupa
tiga menyan luka
mangasapi duka

puah!
kau jadi Kau
Kasihku

Wahai pembaca sekalian, pasti di antara kalian penggemar sepak bola. Entah itu Persib, Arema, Persebaya, Sriwijaya, atau yang lainnya. Entah mana pun itu klub sepak bola kesukaan kalian, yang jelas, kalau menonton klub kesayangan tanding dari TV sudah barang pasti ada dukun baca mantra.
Saya lagi gak membual, serius deh, karena saya bukan politisi penggalang suara. Coba tengok kutipan puisi Sutardji di atas, tertera diksi “puah!”. Kok sepintas gaya berpuisi Om Sutardji mirip gaya komentator sepak bola ya? Itu loh, komentator di ajang Piala Sudirman Cup. Sama-sama punya diksi tiruan bunyi. Di puisi itu ada “puah!” dan di TV kalian ada “cetar!” atau “jeder”.
Untuk Om Tardji, yang katanya Presiden Penyair, maaf ya disetarakan puisinya dengan komentator sepak bola. Bukan maksud merendahkan kok, Om. Serius deh, karena saya bukan simpatisan partai, saya jujur kok ini. Bukan maksud menyamakan harga jual puisi “Mantera” Om Tardji dengan harga kontrak komentator sepak bola. Semua juga udah tahu sih, di negeri ini, “karya” komentator sepak bola jauh lebih mahal berkali-kali lipat dibandingkan karya puisi.
Kalau Om Tardji membaca tulisan ini, sekali lagi maafkan saya ya, Om. Saya cuma bermaksud mengupas gaya bahasa komentator sepak bola kok, Om. Soalnya gaya komentarnya belum menunjukkan sikap revolusi mental, Om. Cuma ikut-ikutan gaya komentatornya almarhum Yopie, yang sering bilang “jeger” sampai sekarang dikenal “Yopie Jeger”. Eh, taunya, gayanya Yopie dijiplak meski Presiden udah ganti.
Udahlah jiplak, eh malah arti diksinya juga ngawur. Untuk membuktikan, cobalah tengok arti “cetar” di KBBI. Komentator pakai “cetar!” di kala pemain menendang keras bola ke arah gawang. Kalau cetar itu kan bunyi cambuk, masa sih dipakai untuk tendangan bola ke gawang lawan. Apa iya si pemain bawa cambuk untuk mengarahkan bola ke gawang lawan?
Itu hal ihwal “cetar”, belum lagi hal “jeder”. Di KBBI sih tak ada arti “jeder”. Di orang awam seperti anak Jokowi lima tahun lalu, “jeder” biasanya diartikan bunyi halilintar. Kalau begitu, apa iya para pemain sepak bola pakai jurus-jurus tokoh komik ciptaan Kosasih?
Di antara kalian pasti ada yang mengira bahwa gaya diksi itu supaya ramai. Kalian mengira, komentatornya menggelegar maka tontonan bola pun semarak. Itu semata-mata supaya bola ditonton tidak bunyi “krik..krik..” atau bunyi pantulan bola semata. Komentator sekelas FIFA di Liga Inggris sana, Jim Beglin aja tak begitu, tapi tontonan tetap semarak. Kalau ada gol, Jim cuma bilang “gol” dengan nada yang panjang, kira-kira jadi “gooool….!”
Ada lagi soal penalaran komentatornya. Soal penalaran ini, kalian pasti waswas. Bayangkan saja, komentator yang ditonton jutaan umat, melebihi umatnya Jonru di facebook tentunya, malah melontarkan cara pikir yang penalarannya jongkok bak kodok di samping tembok.
Begini kalimat, “seandainya saja gol tadi tidak dianulir, Persix akan menang.” Konteksnya begini, klub Persix kalah lebih dahulu. Lawan Persix unggul satu gol, tak berapa Persix menciptakan gol tapi dianulir wasit. Sepuluh menit kemudian, Persix ubah skor jadi 1-1. Sisa pertandingan 10 menit lagi. Sampai waktu habis, skor tetap 1-1. Nah, di akhir pertandingan itulah si komentator berujar seperti kalimat tadi.
Bukannya kalau gol yang dianulir itu tak dianulir malah mengubah segala kemungkinan? Mungkin saja gol kedua Persix tak ada. Mungkin saja si kipper Persix malah cidera. Mungkin saja si striker Persix malah ditekel keras oleh pemain lawan. Probabilitasnya sangat tinggi, soalnya di lapangan ada 11 pemain Persix dan 11 pemain lawan ditambah 1 wasit. Ke-23 orang sudah barang tentu membuat banyak kemungkinan. Ini hitung-hitungan matematis, sebelas mata dadu ketemu sebelas mata dadu probabilitasnya tinggi.
“Seandainya Jokowi tidak terpilih jadi Presiden, pasti ekonomi nasional tidak bobrok kayak begini.” Loh, kok bisa? Duh, komentator ya mbok belajar penalaran dulu sama guru filsafat, mungkin ke Romo Magniz atau ya sama Cak Nun juga bisa.
 Apalagi? Masih banyak hal remeh temeh yang tak penting. Misalnya, bola sudah keluar lapangan, eh komentatornya ikut berkomentar, “bola keluar lapangan.” Bukannya penonton tahu, kan lagi nonton. Komentator sepak bola di radio nyebut begitu masih wajar, kan pendengar tak lihat ke mana arah bola. Lah, ini TV loh, semua penontonnya lihat gerak bola, kecuali kameramennya lagi nge-shoot cewek cakep di tribun penonton.

Kalau kalian komentari komentator begitu, sepertinya cocok juga komentarnya begini, “ah, dasar dukun sepak bola, susah dimengerti orang awam.”

Thursday, November 19, 2015

Mudji Sutrisno: Kita Bukan Father Land, tapi Ibu Pertiwi

Mudji Sutrisno (Foto: blogspot Kabar Nusa)
Di sela-sela acara Borobudur Writers and Cultural Festival 2015, 12 November kemarin, saya berkesempatan wawancara Romo Mudji Sutrisno untuk kepentingan bahan berita di tempat saya bekerja, Merahputih.com. Selaku budayawan sekaligus salah satu pendukung BWCF, Romo Mudji layak untuk diwawancara.
Tapi, dari sekian banyaknya bahan rekaman, setelah ditranskrip, saya pilah-pilih bahan mana yang relevan maupun layak sesuai "warna" pemeritaan Merahputih.com. Nah, akhirnya jadinya beberapa berita saja. Saya kira, banyaknya bahan yang sudah ditranskrip baik dan berguna juga bila dipajang di blog pribadi.
Hm, beginilah transkrip yang sudah saya ketik dari rekaman wawancara Romo Mudji di Yogyakarta, 12 November 2015.




Apakah ini (Borobudur Writers and Cultural Festival 2015) sejalan dengan nawacita?

Ini sebenarnya mau mengongkretkan bahwa selama ini jalan yang kita tempuh hanya jalan politik saja. Jalan politik contohnya, semua DPR ini berantem semuanya kan. Politik itu memecah kita. Sana kawan, sini lawan. itu jalan politik. Kalau politik tanpa moralitas jadinya kayak sekarang ini. Kemudian, ditempuhlah pembangunan ekonomi, jalannya Soeharto dengan segala macamnya. Kita lupa bahwa selama 32 tahun itu kita direduksi menghargai Anda semuanya dengan duit, duit, duit. Materi, materi, dan materi. Maka, jalan kebudayaan adalah jalan yang menghidupi tiap orang dengan harkatnya. Dan tiap orang bisa memaknai dan menamai hidupnya. Itu sama-sama membentuk yang sebenarnya nusantara ini sudah kultural sekali. Hanya ketika 17 Agustus 45 itu menjadi politik kan. Tapi awalnya itu kultural sekali. Coba, gak mungkin kita bisa hidup bersama dengan kekayaan perbedaan kalau kita berantam terus kan. Tapi ada teposeliro. Ada yang dirumuskan waktu zaman sunyinya Bung Karno di Pulau Ende itu waktu dia dibuang no body itu, tahun 34 38 dia merumuskan itu. Pancasila itu ketuhanan. Bayangkan, dahsyat sekali jalan renungannya. Soekarno yang bukan agitator yang di Jakarta semuanya, dia perenung. Dia menyiapkan pancasila itu dengan ketuhanan yang berkebudayaan dan berbudipekerti serta saling hormat menghormati. Kenapa begitu? Karena ketika sunyi itu, dia ketemu orang-orang lain agama, yang rakyat biasa. Dan Soekarno sebagai manusia biasa, dan ketemu juga dengan para misionaris di sana yang belajar semuanya sampai akhirnya dia menyebut, kemarin waktu Taufiq Kiemas kemarin memperingatinya, itu adalah di bawah pohon sukun itu. Jadi ini adalah jalan kebudayaan yang sebenarnya tiap orang kita itu mengalami keasingannya ketika mereka sehari-hari mencari makan makna hidup semuanya, tukang becak kerja keras semua. Lalu dihabiskan oleh apa? Oleh para koruptor itu loh. Mereka kan semua habis juga itu.



Lalu revolusi mental itu sudah jalan atau belum?

Sebenarnya nawacita itu adalah perwujudan dari jalan kebudayaan yang kita perjuangkan. Kita sudah melaksanakan hampir empat tahun ini. Laku budaya itu. Tetapi nawacita ini sebenarnya menjadi ukuran, apakah jalan kita menuju peradaban atau kembali ke zaman kebiadaban. Apakah jalan kita menuju peradaban mengorangkan orang beda agama beda suku atau kita memperalat mereka untuk kepentingan kita untuk tujuan hidup kita sendiri. Nah kalau jalan kita masih begitu kayak sekarang ini, nawacita harus menjadi semacam pengukur, harus jadi semacam pandu, maka dalam Indonesia Raya kan jelas sekali, pandu ibuku. Kita semua saling memandu. Orang mengalami krisis, tidak mau percaya kanan kiri semuanya. Lalu tidak saling memandu. Padahal kalau kita kembali ke jalan kebudaya coba kita saling memandu kan.Coba lihat, semua kekerasan terjadi ketika semua ekses materialistis sekali. Ketika hidup ini kita perkecil dengan alat kamu bisa menguntungkan saya atau tidak. Nah itu, jadi kamapnye revolusi mental itu jangan sloganistis. Kalau hanya slogan akan parah.
Kalau kita belajar situs-situs kita akan mensyukuri. Gunung merapi misalnya, setiap kali memuntahkan api, yang kita sebut negatif dengan bencana, tapi sebenarnya ini menjadi kekuatan kita, yang kuat sekali. 



Di tengah masifnya globalisasi, lantas seperti apa wujud konkret jalan kebudayaan itu?

Anda bertanya seperti ini berarti Anda sedang menjalankan jalan kebudayaan. Ini Anda tidak seperti orang-orang lainnya semuanya. Hayat menghayati hidup, begitu saja. Banyak yang tidak bertanya, di balik semua itu ada apa. Kita hanya hidup di permukaan saja. Hanya hidup tidak pernah keheningan. Kehidupannya habis di putar oleh waktu. waktu untuk apa? Ya times is money. Lalu bisa happy. Orang tidak pernah menyediakan dirinya untuk berhenti sejenak, untuk mengunyah pengalaman hidupnya menjadi berharga. Lembu dan sapi aja setelah dia makan berhenti kok. Masa orang lebih rendah dari itu. Jadi yang lebih penting itu bukan banyaknya pengalaman, tapi mengolah pengalaman. Lantas memaknainya hubungan dengan Sang Pencipta.



Apakah menurut Romo terkait Gunung, terkait mitologi, apakah ini sudah jauh ditinggalkan masyarakat saat ini, sehingga begitu pentingnya tema ini diangkat (di BWCF 2015)? 

Nah, pola pikir Anda ini jangan memberikan bahwa Anda anak zamannya yang tidak pernah diajari atau dibawa pendidikan yang namanya penyedaran diri. Penyadaran itu apa? Artinya ketika kita di atas gunung, dengan seluruh bencana yang ada, kita selalu menganggap itu bencana, yang merugikan, padahal kita tidak pernah lihat betapa gununga merapi itu memberi kesuburan sampai kita makan yang bagus sekali kan. Kita tidak pernah lihat bahwa air, laut, segala macam itu, dengan seluruh Tanah Air ini. Kita baru memaki-maki setelah para cukong mengambil semua dari tanah kekayaannya dan air semua, hingga kita semua tidak punya tanah dan air. Dan hanya di Indonesia kita punya tanah dan air. Ibu Pertiwi itu. Kita bukan father land, tapi ibu pertiwi. 




Wujud kemanusiaan apa yang sebaiknya dilakukan politikus-politikus saat ini?

Mereka ini tidak tahu bahwa mereka pernah dipilih. Saya pernah jadi anggota KPU. Tahun 2000 sampai 2003, itu supaya saya mengatur partai politik. Politik memang harus dilakukan untuk membuat kesejahteraan. Mereka lupa ini anggota DPR ini bahwa mereka kita pilih. Sekarang mereka menjadi tuan-tuan masa melupakan rakyatnya. Nanti jangan pilih lagi mereka itu. Kalau pemilihan mereka membutuhkan kita, menaiki kepala kita, setelah menaiki kepala kita sampai ke atas lalu ditendang ke luar semuanya. Nah ini politik semacam ini, coba bayangkan. Seharusnya bagaimana seorang tokoh dari DPR mau ngomong memberi penernungan mengenai hari pahlawan dan semacamnya. Sekarang orang lihat, contohnya mana? Itu terbalik semua kan. Dan di situ dibutuhkan gerak-gerak kebudyaaan seperti ini, yang mereka bertemu penyairnya, penulisnya, pemuda, dan mereka yang terus tanpa kata secara sunyi itu menghidupkan terus. Karena kebudayaan yang kita hidupkan adalah pro life culture. Life culture. Jadi kebudayaan yang membela kehidupan. Sementara yang berantem terus itu adalah dead culture. Yang mematikan itu sendiri.
Kalau Anda tidak bisa membantu, untuk Jokowi dan kita semua yang mau melakukan jalan peradaban ini, tolong jangan menganggu. Kalau tidak bisa membantu, ojo ngerusui. Dan tolong yang kedua, wujudkan nawacita sebagai barometer untuk perjalanan peradaban ini, sehingga permainan kekusaaan segala macam yang akan mencelakakan kita tiada lagi.

Friday, October 30, 2015

Media Massa Daring Abal-abal Merebak

ilustrasi (gambar: wordpress)

Tak bisa dipungkiri teknologi informasi (TI) memberi perubahan drastis dalam kehidupan bermasyarakat. Peredaran informasi cepat beredar dan tanpa batas regional. Batasannya hanya pada persoalan bahasa dan infrastruktur. Banyak peredaran informasi dari satu tempat ke tempat lain hingga menyebabkan perubahan gaya hidup masyarakat.
Sayangnya, pertumbuhan TI tak diikuti pemantapan individu dalam menyaring media informasi. Masyarakat dituntut cakap dalam memilah media mana, dalam hal ini ialah media massa daring (online), yang layak dan tidak layak. Tanpa kecakapan tersebut, masyarakat akan terbawa arus pada informasi yang menyesatkan.
Dalam satu waktu, penulis membuka beranda facebook. Di beranda terjejali banyaknya media-media massa. Beragam nama. Beragam pula varian kontennya. Mulai dari ihwal agama, tips dan trik, game, hingga politik. Hal yang membuat penulis mengernyitkan dahi ialah nada kebencian.
 Satu kasus, misalnya, apabila si A membagi tautan artikel agama bernada kebencian di beranda facebooknya, maka potensi tautan tersebut dibaca ialah sebanyak pertemanannya di facebook tersebut. Tentu sangat mengkhawatirkan. Bayangkan apabila ia memiliki pertemanan sebanyak 5.000 pertemanan. Katakanan setengahnya tidak membuka facebook. Itu artinya, 2.500 temannya bakal menemui tautan artikel tersebut di beranda facebook masing-masing.
Media massa merupakan produk profesionalitas. Di dalamnya terdapat struktur organisasi, mekanisme, dan regulasi. Media massa yang dikerjakan berdasarkan profesionalitas tentu akan menghasilkan produk kerja yang berkualitas, meski kualitas tak selalu seiring dengan kadar profesionalisme semata.
Media massa daring yang dikerjakan tanpa mengedepankan profesionalisme layak disebut “media abal-abal.” Beberapa aspek kerap terabaikan. Di antaranya ialah sumber, unsur dasar 5W+1H, keseimbangan, hingga legalitas hukum (media massa). Hal inilah banyak ditemui penulis di dalam tautan-tautan di beranda facebook penulis. Misalnya, artikel A tidak jelas siapa sumbernya. Bahkan, badan hukum media itu pun tidak jelas.
Semua media massa seperti itu tentu harus diwaspadai. Bukan hanya berdampak pada cara berpikir, media abal-abal juga memicu perselisihan antar-golongan. Menurut penulis, lebih dari setengah tautan di beranda facebook penulis yang dibagi teman facebook umumnya bernada negatif.
Diprediksi, pertumbuhan media abal-abal semakin meningkat. Hal ini seiring kelonggaran aturan main di ranah TI. Berdasarkan informasi selentingan dari wartawan di Kemenkominfo, pemidanaan tentang penghinaan dalam UU ITE akan dihapus. faktor lainnya ialah pertumbuhan jumlah pengguna internet. Tahun belakangan ini, pertumbuhan internet di Indonesia mencapai 15-16 persen. Berdasarkan data APJII, 2015, kini pengguna internet aktif telah lebih dari 80 juta pengguna, 70 juta lebih di antaranya merupakan pengguna aktif media sosial facebook.
Kewaspadaan perlu ditekankan sejak dini. Memilah media massa yang kredibel merupakan keharusan agar mendapatkan informasi yang baik dan tepat. Tentu siapa pun tidak ingin terjebak pada arus informasi abal-abal atau menyesatkan. Di dalam kehidupan berkeluarga, kewaspadaan perlu ditekankan sejak di dalam rumah. Khusus bagi Anak-anak, bagaimana mereka diarahkan dapat menyeleksi media-media daring yang layak baca dan tepat guna. Tentu, kita ingin bangsa ini terdidik.

Thursday, October 29, 2015

Suku dan Agama di Sumut

ilustrasi toleransi (foto: blogspot)
Di masa awal perantauan, tahun 2006, dari Pematang Siantar ke Bandung, penulis menghadapi banyak pertanyaan. Begitu menginjakkan tanah di Bandung, rekan-rekan acapkali bertanya seputar identitas keagamaan penulis. “Agama apa, Mas?” atau “Agamanya Islam atau Kristen, Bang?”
Pertanyaan seperti itu muncul di awal-awal perkenalan. Berbeda dengan pertanyaan identitas bila hidup di Sumatera Utara (Sumut). Yang terlontar ialah ihwal identitas suku. “Marga apa, Lae?”
Tentu kedua bentuk pertanyaan tersebut menunjukkan karakter masyarakatnya. Masyarakat Sumut mengedepankan identitas kesukuan. Sementara masyarakat Bandung mengedepankan identitas keagamaan. Begitulah karakter masyarakat Sumut menjaga relasi sosialnya.
Terkait bahasan di atas, ketika penulis membaca opini “Patung Budha di Tanjungbalai Jadikan Destinasi Wisata” di Analisa pada 10 Oktober lalu, seolah karakter masyarakat Sumut telah pudar. Latar munculnya tulisan tersebut mengarahkan penulis pada simpulan bahwa karakter masyarakat Sumut tampaknya telah berubah. Tidak ada lagi relasi sosial yang mengedepankan suku.
Sumut, secara dominan, dihuni masyarakat suku Batak. Selain itu memang terdapat Melayu, China, Jawa, Minang, dan sebagainya. Karena mendominasi, tentu Batak menghegemoni (pola pikir) masyarakat Sumut (meminjam teori Gramschi, relasi dominasi dan hegemoni). Dengan begitu, pola kekerabatan Batak dapat menjadi acuan khusus untuk memahami masyarakat Sumut umumnya.
Bagi Batak, marga sangat menentukan cara relasi antarindividu. Dalam buku Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba, fungsi marga dipahami sebagai asal keturunan atau sabutuha. Hal ini terimplementasi saat orang Batak mengenali sesamanya. Marga menjadi identitas diri. Individu semarga dianggap dekat kekerabatannya.
Acapkali marga juga dipandang untuk memahami cara berpikir seseorang. Seseorang bermarga X, misalnya, identik dengan orang lain bermarga X lainnya. Kedua orang disetara melalui identifikasi marga yang sama.
Seiring perkembangan zaman, marga tak semata penentu pengidentifikasi sabutuha. Masyarakat Batak modern juga memanfaatkan marga untuk bekal ekonomi. Seakan nepotisme memang, namun fakta ini tak bisa dipungkiri.
Di sisi lain, identifikasi keagamaan di Bandung sesungguhnya tak jauh berbeda dengan marga. Agama menentukan relasi sosialnya. Individu yang seagama dianggap “satu kerabat”.
Yang perlu ditekankan, meski tidak mengutamakan identifikasi agama, bukan berarti masyarakat Sumut seperti itu tidak berlandasakan agama. Bukan berarti pula agama dinomorduakan. Langkah semacam ini sesungguhnya demi menjaga keharmonisan antarindividu (relasi). Lebih baik lagi, apabila hal itu didasari keyakinan akan perintah keagamaan untuk menjaga hubungan sesama lebih baik.
Kembali pada persoalan patung Budha, sesungguhnya gaya identifikasi berdasarkan agama tidak menunjukkan karakter masyarakat Sumut. Sentimentil keagamaan akibat pendirian patung Budha meruntuhkan karakter identitas adat istiadat. Sesungguhnya, karakter seperti itu mampu menaungi keberadaan masyarakat agama lain di tengah konteks kehidupan beragama yang ekstrim, sehingga toleransi beragama terjaga.
Pertanyaannya, apakah keutuhan berpikir masyarakat Sumut di Tanjungbalai telah punah? Tampaknya, toleransi beragama di Tanjungbalai perlu dipupuk melalui keutuhan hidup masyarakat Sumut.

Akhir ulasan, penulis ingin mengingatkan pernyataan guru bangsa yang dikenal pejuang toleransi, Abdurahman Wahid (Gus Dur). “Kalau sebenar-benarnya seseorang beriman kepada Tuhan, tentu tidak akan membenci seseorang karena perbedaan agamanya,” demikian mantan Presiden RI itu menggagas kehidupan bertoleransi.


NB: Hanya semacam pengantar ihwal toleransi di Sumut, dan terkait latar merebaknya sentimen keagamaan di Tanjungbalai, Sumut.

Tuesday, October 27, 2015

Ibu Hamil, Asap, dan Sumut

Dampak kabut asap (Foto: Blogspot)

Beberapa hari yang lalu, saya mengantarkan istri ke dokter kandungan. Selain konsultasi kondisi kandungan, saya ingin memastikan bagaimana bila istri saya memasuki kawasan asap di Sumatera Utara.
Awal pekan depan, saya dan istri berencana terbang dari Bandung, Jawa Barat, menuju kampung halaman, Bandar Pasir Mandoge, Asahan, Sumatera Utara. Lantaran asap di Sumatera Utara masih belum hilang, saya bertanya kepada dokter perihal kesehatan istri saya beserta kandungannya. Dokter memang tidak melarang berkunjung ke kawasan terkena asap, namun dokter tetap mewaspadai istri saya. Catatannya, tidak terlalu lama berada di Sumatera Utara. “Kalau bisa, secepatnya pulang lagi. Karena, asap tidak baik bagi kesehatan kandungan yang masih berusia muda,” papar dokter tersebut.
Istri saya hanya satu di antara sekian ibu hamil yang mengkhawatirkan kesehatan kandungannya ketika berada di kawasan berasap. Berdasarkan data BKKBN, jumlah ibu hamil di Sumatera Utara setiap tahunnya sejak 2011 mencapai 300 ribu lebih. Jumlah ini berdasarkan segala bentuk serta usia kehamilan.
Dokter mengatakan, kandungan asap beracun, sehingga berbahaya bagi pertumbuhan janin apabila racun bisa menembus ke dalam tubuh sang ibu. Saya bukan dokter, tetapi saya memahami bagaimana risiko 300 ribu lebih calon penduduk Sumatera Utara terkontaminasi racun asap.
Secara sederhana, racun asap yang terhirup ibu hamil akan berdampak bagi perkembangan janin. Dampak buruknya, yakni bayi menjadi pesakitan atau kematian. Dalam sebuah artikelnya di laman online, terbit bulan lalu, September 2015, dr. Syamsul Bahri Riva’I mengingatkan bahwa racun asap dapat menyebabkan kematian janin. Menurutnya, racun akan mengganggu plasenta janin apabila mampu menembus tubuh sang ibu. Kemudian sirkulasi oksigen janin juga terganggu. Selanjutnya, dampak fatal itu bisa saja terjadi bagi sang janin.
“Diantara racun yang berbahaya yang terhirup oleh kita saat ini adalah nitrosamine, tar, formaldehid, karbon monoksida, ammonia, logam, seperti cadmium, dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT), polonium radio-aktif, hidrogen sianida, dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs). Zat ini dapat menyebabkan mutasi DNA dan kematian sel (apoptosis) yang berakibat terjadinya kanker, diantaranya kanker ovarium, serviks, payudara pada wanita,” demikian paparan dr. Syamsul.
Selain risiko terburuk tersebut, bila janin telah menjadi bayi dan terkontaminasi racun asap, sangat memungkinkan sang bayi terlahir prematur atau bahkan cacat. Risiko ini jauh lebih besar ketimbang risiko fatal tadi, karena bergantung kadar racun yang masuk. Risiko juga disebabkan tingkat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
Dengan demikian, 300 ribu calon bayi yang terlahir di Sumatera Utara berpotensi mengalami gangguan. Sebagian di antaranya bahkan berpotensi terserang gangguan kesehatan. Tentu dapat dibayangkan bila 10 persennya terlahir dengan kondisi tidak normal. Artinya, penduduk Sumatera Utara dengan kelainan kesehatan akan semain tinggi.
Tanpa melapaskan faktor diri sendiri, saya memahami besar faktor yang ditimbulkan akibat kebijakan pemerintah terhadap asap. Persebaran asap dari Riau hingga Sumatera Utara bukan terjadi begitu saja alias “fenomena” yang berdiri sendiri. Kebakaran, ekonomi politik, dan kekuasaan merupakan tiga aspek penting yang secara tidak langsung menyebabkan keberadaan asap. Akibatnya, masyarakat terkena imbasnya. Begitulah, saya memahami, bagaimana perkembangan janin di dalam tubuh istri saya tidak berdiri sendiri. Janin tumbuh dengan faktor-faktor lainnya.


16 Oktober 2015

Thursday, October 15, 2015

Jejak Pawai Budaya Jogja Istimewa

...

Monday, September 28, 2015

Film Leviathan: Relasi

Kolya (Leviathan. Blogspot)
Seorang politikus, selaku walikota di Barents, Pesisir Utara Rusia, berambisi memenangi pemilihan umum di masa usainya era kepemimpinannya. Ia berencana memperluas kekuasaan tanahnya sebelum memasuki masa pemilu. Rencananya, ia akan membangun sebuah apartemen di kawasan Barents.
Tak mudah baginya menguasai kawasan tepi laut. Kolya, salah seorang warga –tokoh utama film Leviathan- berusaha mempertahankan tanah berserta rumahnya. Tanah yang menjadi tempat tinggal turun-termurun dari kakek-neneknya itu tak ingin dirampas sang walikota. Kolya dan sang politikus, Vadim.
Meski sebatas warga di Desa Barents, Kolya melawan lewat adu meja hijau. Kolya maju didampingi kuasa hukumnya, yang tak lain sahabatnya sendiri, Dmitri.
“Kenapa Kolya, apakah kau tak bias melawanku sendiri?” angkuh Vadim kepada Kolya di beranda rumah, sesaat melihat Dmitri, yang asing bagi Vadim. Vadim sempoyongan karena bir, dengan didampingi bodyguard. Kedatangannya ke rumah Kolya untuk menegaskan penggusuran yang telah memasuki babak perseteruan di meja hijau. “Aku akan melawanmu, persetan!” balas Kolya.
Perseteruan membuat Vadim geram. Semakin geram ketika mengetahui Dmitri merupakan pengacara dari Moskow yang memiliki relasi luas. Dmitri membawa berkas-berkas ke meja kerja Vadim. Dengan santai Vadim membaca berkas tersebut.
“Aku hampir mati membaca berkas-berkas itu!” tutur Vadim kepada rekan-rekannya, seperti polisi, pengacara, dan pejabat penting. Obrolan emosional Vadim itu terlontar di dalam ruangan, tak berapa lama Dmitri berkunjung ke kantornya untuk memberi berkas-berkas rahasia keburukan Vadim.
Film Leviathan ini bukan film yang menyuratkan keistimewaan rakyat di hadapan politikus ambisius yang menjabat walikota. Bukan pula film yang mengistimewakan pejabat korup. Kolya hanya laki-laki emosional, yang menghadapi persoalan pelik dengan penguasa. Emosi yang membuat dirinya tak mampu menyayangi istrinya dengan cinta, hingga Lilya selingkuh dengan Dmitri.
Emosi membawa Kolya ke jeruji besi karena dituduh membunuh istri mudanya, Lilya. Rumah tangga semakin pelik, ia dipenjara sementara anak satu-satunya diasuh sahabat Kolya. Rumah Kolya kosong. Sebelumnya, Kolya hidup bersama anak dan Lilya. Kendaraan alat berat merubuhkan rumah Kolya. Vadim menang. Bukan menang di meja hijau, tetapi menang dengan politik, memanfaatkan daya kekuasaannya.
Siapa sangka kerusakan rumah tangga Kolya dimotori Vadim? Meski tak tersurat di tutur dalam film Leviathan, alurnya menyiratkan Vadim adalah politikus ambisius, tak ubahnya mahluk berupa iblis yang hidup di laut. Rakyat tak mungkin menyangka kehancuran rumah tangga Kolya dan penggusuran rumah Kolya dirancang oleh seorang walikota yang dekat dengan seorang pendeta.
Di akhir kisah film unggulan Cannes Festival 2014 ini, Vadim keluar dari gereja beserta keluarganya. Ia ramah dengan sesame jemaat gereja lainnya. Wajahnya sumringah.


Judul: Leviathan
Sutradara: Andrey Zvyagintsev
Pemain: Aleksei Serebryakov (Kolya), Vladimir Vdovichenkov (Dmitri), Elena Lyadova (Lilya), Roman Madyanov (Vadim)

Rilis: 2014

Sunday, September 27, 2015

Mencermati Tuhan dan “Tuhan”

ilustrasi (foto: blogspot)
Ketika saya membaca petunjuk jalan “Awas ada lubang!” tentu saya akan hati. Sebelum melihat lubang, saya tak akan tahu seperti apa kondisi lubang tersebut. Apakah lubang itu kecil, besar, membahayakankah, atau hanya seukuran telapak kaki.
Dalam memahami maksud keberadaan sebuah kata, tentu harus paham asal-muasal terbentuknya kata tersebut. Dengan kata lain, untuk apa kata itu dibuat. Kalau tidak, yang terjadi hanya mereka-reka.
Keseimbangan antara pemahaman tekstual dengan kontekstual itu perlu. Bayangkan jika saya hanya paham teks petunjuk jalan tadi. Apa yang terjadi? Ya, saya hanya mereka-reka besaran lubang dan posisi lubang. Sebaliknya, jika saya menitikberatkan pada makna, maka saya jadi phobia.
Hal ini tak ubahnya pada kasus nama “Tuhan” yang belakangan marak diperbincangkan netizen. Hanya gara-gara seseorang bernama “Tuhan”, lantas orang tersebut disamakan dengan Tuhan sesungguhnya.
Tak cuma netizen, sekelas Ketua MUI Din Syamsudin pun angkat bicara. Tokoh yang katanya intelektual di bidang agama itu menyarankan agar nama tersebut diganti saja atau dibubuhi kata lain. Bukankah pergantian atau perubahan nama orang menyebabkan hal ihwal administrasi juga berubah? Lantas, bagaimana repotnya ia harus mengubah kartu tanda penduduk (KTP), surat izin mengemudi (SIM), akta kelahiran, surat nikah, surat kepemilkan rumah, tanah, kendaraan, hingga harta embel-embel lainnya. Mungkin Din Syamsudin lupa hal ini semua.
Naif bila orang bernama “Tuhan” itu disamakan dengan Tuhan sebenar-benarnya. Penyamaan tak ubahnya akidah ke-Islaman seseorang dipertanyakan. Penyamaan tak ubahnya ilmu tauhid ke-Islamannya juga layak dipertanyakan.
Dalam sejarah Nusantara, kata “Tuhan” berarti sifat kebaikan. Sebaliknya, “Hantu” bersifat keburukan. Kata ini perpaduan dari dua suku kata, “Tu” dan “Han”. Dua kosakata ini merupakan bagian dari kehidupan umat Kapitayan di masa Jawa kuno. “Tu” dimaknai sebagai hal kemagisan atau hal yang bersifat kuat. Karena itu, dalam paparannya pada suatu diskusi, sejarahwan Islam Nusantara, Agus Sunyoto, menejaslakan, di Jawa kuno banyak ditemui kosa kata yang berawal “Tu” untuk menunjukkan kekuatan, seperti “batu”, “tugu”, atau “tuban”.
Jika ditelisik dari pendekatan Islam, abad keenam masehi kata “Allah” telah digunakan banyak suku dan golongan di Arab Jazirah, baik di Madinah maupun pesisir Persia. Sebagian umat mengenal kata “El” untuk memaknai Tuhan. Penggunaannya banyak dipakai orang-orang Yahudi. Begitu pula dengan “Al” yang kini banyak digunakan umat Islam dan Kristen. Kata “Al” berarti esa. Di bahasa Inggris, kata tersebut sepadan dengan kata “The”.
Sesungguhnya kata “Tuhan” bukanlah “milik” umat Islam, melainkan umat Kapitayan. Jika saya mempertahankan nilai sakralitas kata “Tuhan” berarti saya mempertahankan nilai sakralitas umat Kapitan. Dengan demikian, tidak tepat mempertahankan nilai sakralitas kata “Tuhan” demi menjaga kesucian agama Islam atau pun Kristen. Apalagi, bagi umat Islam, kata “Allah Swt” merupakan dua kosakata yang digunakan di dalam kitab suci.
Sungguh saya iba dengan orang bernama “Tuhan” tadi. Dalam wawancara di televisi, ia tampak sopan dan santun berbicara. Lantas saya berpikir bertanya, bagaimana pula dengan orang-orang yang bermana “Muhammad” atau “Ahmad”.
Saya memperkirakan, doa orangtua si “Tuhan” tadi ingin anaknya mendekati sifat-sifat kebaikan Tuhan, asmaul husna. Orangtuanya bukan bermaksud mempersyirik keberadaan anaknya. Tak ubahnya orangtua menamai anaknya dengan “Muhammad”. Mungkin orangtua tersebut ingin anaknya memiliki sifat-sifat kebaikan, kemurahhatian, kedermawanan Nabi Muhammad.
Begitulah memahami nama “Tuhan” tak ubahnya memahami petunjuk jalan tadi. Jika terlalu berat sebelah, yang mungkin terjadi saya akan phobia sebelum melewati lubang atau saya akan terjerumus ke lubang.


Opini dimuat di harian Analisa (Medan)

Friday, September 11, 2015

Moderatisasi Teknologi Romo Mangun

Jumat (4/9) malam lalu, Mustofa Bisri, dikenal dengan panggilan Gus Mus, berseru ihwal dua tipikal manusia. Pertama, kerap berbuat amal, peduli, menghargai kemanusiaan, tetapi tidak pernah beribadah. Kedua, rajin ibadah tetapi tidak peduli dengan sesamanya. “Ini dua hal yang sulit kalau ditanya mana yang baik. Dua pokok persoalan jadi satu,” ujarnya dalam acara Tafakur, Parangtritis, Bantul, Yogyakarta.
Gus Mus menimpali, hal itu sama saja dengan pertanyaan, lebih baik mana ber-Tuhan tapi tidak beragama atau beragama tapi tidak ber-Tuhan. Maksud Gus Mus, beragama tapi tidak ber-Tuhan semacam agama KTP.
Bagi YB Mangunwijaya, dikenal Romo Mangun, bangsa ini diarahkan atas dasar keimanan dan ketaqwaan. Pernyataan ini tertuang di dalam makalah Romo Mangun jelang ajal menjemputnya, 1999, kini menjadi bagian buku Kata-Kata Terakhir Romo Mangun. Amat tepatlah perumusan salah satu GBHN yang disusun dalam Orde Baru, bahwa salah satu ciri manusia Indonesia seutuhnya ialah beriman dan bertaqwa. Tidak disebut: yang beragama (hal 44).
Namun, sayangnya, pernyataan di GBHN itu tidak sejalan dengan pengajaran di sekolah-sekolah. Selama Orde Baru yang diajarkan kepada pelajar hanyalah perintah-perintah dan hokum agama. Padahal yang jauh lebih penting daripada pengenalan hokum agama justru dimensi imannya (hal 44).
Romo Mangun seakan khawatir jika bangsa ini hanya dikenalkan pada batas hokum agama semata. Baginya, pemahaman iman merupakan hal dasar untuk menghadapi perkembangan zaman di bawah kendali teknologi.
Teknologi, sebagai rangkaian dari sain, tidak perlu dihindari. Di sisi lain, teknologi tidak perlu pula diagung-agungkan. Ia bagai dua mata sisi uang, bersifat netral dan berpihak. Tidak semua produk iptek terang benderang kejam dan menakutkan seperti nuklir. Kebanyakan tampak netral-netral saja, bahkan anugerah dan berkat (hal 32).
Di dalam hal keberpihakannya, teknologi seakan “menghamba” pada industri. Hampir semua produk teknologi saat ini hidup atas pergerakan industri. Bahkan, berpihaknya teknologi memberi dampak nilai tambah bagi negara maju.
Iptek yang mengabdi kepada industri perang sangat memperkuat dugaan yang berkembang menjadi tuduhan, bahwa praktiknya, konkret factual, iptek tidaklah netral, akan tetapi lebih mengabdi kepada para penguasa ekonomi, politik, sosial, dan cultural daripada melaksanakan yang sudah lama digembar-gemborkan oleh para filsuf utilitarian dan pragmatis, serta para pemuja liberal sains dan teknologi: “the greatest good for the greatest number.” (hal 35).
Pada prinsipnya, penulis Burung-Burung Manyar ini tak perlu memandang teknologi sebagai benda yang harus dimusuhi. Romo mengajak kita berpikir moderat menghadapi dunia teknologi. Mawas diri perlu, karena teknologi di bawah kendali industri sejatinya aktualisasi dari ketertindasan manusia.
Di sanalah Romo mangun menganggap pentingnya pemahaman iman dan taqwa. Bukan sebatas agama. Karena dalam konteks sosial, muara agama tak lain ialah budi pekerti dan rasa sayang terhadap sesama dan alam.

Kembali pada Gus Mus, bahwa dua tipikal manusia itu menunjukkan realitas bangsa. Lantas, mampukah bangsa ini berkepribadian iman dan taqwa di tengah industri teknologi? 


Judul Buku: Kata-Kata Terakhir Romo Mangun
Halaman: 190 halaman
Tahun Terbit: 2014
Penerbit: PT Kompas Media Nusantara

Wednesday, September 9, 2015

Dari Operasi Klub hingga Pablo Escobar

Operasi BNN Cirebon, Sabtu (22/8/2015), di salah satu klub elit, Jalan Cipto, Cirebon. (Dok. BNN Kota Cirebon)
Sabtu (22/8) tengah malam, saya ikut serta operasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cirebon. Target operasi malam itu ialah salah satu klub (semacam tempat diskotik) elit di kawasan CSB, Jalan Cipto, Kota Cirebon.
Seluruh petugas BNN mulai menuju target operasi sekira pukul 00.30 WIB malam. Tentu, bagi penulis, yang sejatinya bukan petugas BNN, mereka-reka bagaimana operasi berlangsung karena ini pengalaman pertama ikut gerebek-menggerebek.
Sebelum sampai di lokasi, saya bingung dan khawatir. Bingung, apa yang akan saya perbuat jika kericuhan terjadi saat penggeledahan berlangsung. Khawatir akan ada orang yang cuap-cuap mengancam sembari membawa senjata tajam atau pisau selayaknya film-film Hollywood. Masa iya saya jadi superhero dengan menendang dada orang tersebut seperti film IP Man. Atau juga, masa iya saya cuma nonton mematung seperti adegan film Casino di depan meja judi.
Tak berapa lama, saya dan para petugas BNN tiba di lokasi. Singkat cerita, semua petugas BNN mengeluarkan alat tes urine dan hal ihwal yang berkaitan.
Singkat cerita lagi, karena kalau saya ceritakan di sini, akan banyak kalimat yang harus disensor. Semua pengunjung dan wanita-wanita pelayan berhasil dites urinenya. Hasilnya, 5 orang dinyatakan positif.
Oh iya, ada peristiwa unik saat penggeledahan ruangan. Salah satu petugas BNN awalnya curiga dengan satu ruangan. Merasa penasaran, lantaran di depan ruangan tersebut berdiri dua orang wanita celingak-celinguk. Saat dipaksa buka, eng eing eng. Hasilnya, wanita-wanita pelayan berjajar jongkok. Sebanyak 15 orang. Uniknya lagi, ruangan itu bukan sembarang ruangan. Di ruangan yang tingginya tak sampai semeter itu berisi jenset. Luas ruangan pun tak seberapa. Jadi, kebayang juga ya ke-15 wanita itu jongkok-jongkok cari kehangatan. Seakan-akan, tak ada pria hidung belang, jenset pun jadi.
Selanjutnya, ke-5 orang tadi digiring ke kantor BNN Kota Cirebon di Jalan Sunyaragi. Entah apa yang ditanyai petugas BNN kepada ke-5 wanita itu, yang jelas mereka diinterogasi. Istilah kepolisian, mereka di-BAP.
Di akhir, ya saya pulang. Karena waktu sudah menunjukkan hampir waktu subuh. Di jalan menuju pulang, benak saya teringat ujaran ketua tim petugas operasi itu, Dwi. "Lokasi klub ini dipilih karena banyak laporan warga. Tempatnya dicurigai ada banyak narkoba," ujarnya.
Lantas saya bergeming, kalau kecurigaan untuk pemberantasan konsumen, upaya operasi ini memang berhasil. Di lain hal, kalau untuk pemberantasan narkoba hingga bersih, mengapa tidak produsennya saja diincar? Saya jadi teringat film tentang kartel narkoba Kolombia, Andreas Escobar. Bukankah film ini mengajarkan saya, Anda, dan semua penontonnya untuk melihat realitas produksi-distribusi-konsumsi narkoba?

Rupiah Lemah, Blogger Bahagia

Rupiah dan Dolar (Foto: Blogspot)
Rupiah melemah. Rupiah loyo. Rupiah keok. Harga komoditas impor naik tajam. Biaya transportasi ekspor naik. Begitulah sekelumit suara-suara lirih belakangan ini di tengah realitas kapitalisme.
Ekonomi Indonesia terpuruk. Nilai tukar rupiah mencapai Rp14 ribu per dolar. Nilai yang cukup fantastis sejak era reformasi bergulir.
Pengamat bilang, masyarakat jangan panik. Tetap tenang. Tetaplah mengonsumsi sewajarnya, maksudnya jangan menurunkan tingkat konsumsi. Tukarlah dolar, jangan ditimbun. Juga sekelumit celotehan lainnya.
Dipikir-pikir soal dolar, blogger sesungguhnya bisa jadi penyelamat. Meski itu tak setangguh Iron Man atau Batman. Paling tidak, Doraemon tak selalu dihrapkan hadir di kala kesusahan.
Beberapa stasiun televisi sempat menayangkan liputan seputar blogger meraup untung di masa pelemahan rupiah ini. Mereka menulis lepas, dibayar dolar. Mereka membuat aplikasi lepas, dibayar dolar. Mereka mereview produk, dibayar dolar. Mereka bekerja, dolar pun mengalir ke Tanah Air.
Bayangkan, jika mereka mendapat 100 dolar AS per bulan. Itu artinya, saat ini mereka bisa meraup Rp1.400.000. Kalau sebelumnya, mungkin hanya berkisar Rp1.200.000. Ada kenaikan pendapatan sebesar Rp200.000. Ini impact yang mereka rasakan secara langsung. Tentu di sisi lain aliran angka berdasarkan nilai dolar tadi masuk ke Indonesia. Akumulasinya, meski kecil, berdampak terhadap perekonomian nasional. Bayangkan saja, ada berapa blogger di Tanah Air ini?
Memang rasio blogger masih kecil dibanding bisnis atau industri penyedot dolar lainnya. Cuma industri kreatif yang masih dianggap "mistis" bagi sebagian masyarakat. "Di rumah mulu kok bisa dapat duit? Macam mana bisa?" begitu uangkapan sebagian masyarakat. Untung tidak pemerintah yang berceloteh demikian.
Pemerintah sudah "menolong" blogger? Paling tidak menciptakan regulasi yang membuat mereka adem ayem. Paling tidak memberi jaminan agar blogger tetap hidup di Tanah Air. Kalau bukan pemerintah, siapa lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?
 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes