ARTIKEL PINTASAN
Showing posts with label wacana kekerasan. Show all posts
Showing posts with label wacana kekerasan. Show all posts

Friday, January 27, 2017

Ilham Korban Mapala Unisi di Mata Keluarga


Ilham Nur Padmi Listiadi merupakan satu dari tiga korban kekerasan Mapala UII. Ilham dinyatakan tewas di RS Bethesda, Kota Yogyakarta, Senin (23/1) tengah malam, setelah dirawat beberapa hari.
Syafii, bapak Ilham, menyayangkan peristiwa yang dialami anaknya tersebut. Di mata Syafii, Ilham merupakan anak yang penurut. "Baik, penurut sama orangtua," katanya di RS Bethesda, Kota Yogyakarta, Selasa (24/1).
Ilham merupakan anak terakhir Syafii dan Syafaah. Ilham memiliki tiga orang kakak. Ilham juga tergolong rajin beribadah. Di kehidupan keluarganya, mahasiswa Fakultas Hukum UII itu dikenal telah lama menyukai dunia anak gunung. Permintaan izin mendaki gunung menjadi hal yang biasa dilakukan Ilham.
Namun nahas, ketika izin mengikuti kegiatan great camp untuk tanggal 14 hingga 22 Januari, Ilham diketahui pulang dengan kondisi yang tidak baik. Ia diketahui terjatuh di kamar mandi kosnya setelah pulang dari kegiatan di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Ia pun trpaksa dirawat di RS Bethesda, hingga akhirnya dinyatakan tewas. "Di tangannya itu babak belur. Di tangan kiri sampai pundaknya itu memar. Di bagian kepala, ada beberapa yang luka," papar Syafii kepada wartawan.
Ilham merupakan mahasiswa aktif Fakultas Hukum UII. Kini ia telah memasuki jenjang pendidikan semester IV. Ia termasuk mahasiswa perantau di Yogyakarta. Ilham berasal dari Rapi Gubuk Barat, Desa Pringgasela, NTB.
Seperti diketahui, peristiwa kekerasan Mapala UII ini menewaskan tiga orang mahasiswa. Selain Ilham, dua mahasiswa lainnya ialah Fadil dan Syaits Bahkan, beberapa mahasiswa lainnya yang diduga mengalami kekerasan juga dirawat di RS JIH Kota Yogyakarta.

Saturday, July 27, 2013

OVJ dan Aspek Kekerasan




Opera Van Java (OVJ)
Suatu kali saat saya naik angkutan kota, saya bertemu dengan seorang anak kecil (bersebelahan dengan ibunya) yang berusia sekitar 5 tahun menyanyikan lagu tembang OVJ (Opera Van Java). Dengan santai anak kecil tersebut melantunkan lirik “kite lagi kite lagi kite lagi kite lagi nongol di tivi.” Bahkan, anak kecil tersebut tampak fasih melantunkan lirik-lirik lainnya. Melihat realitas itu saya khawatir dengan kondisi anak-anak lainnya yang mungkin saja seperti itu. Secara representatif, anak kecil tersebut sedang mengidentifikasikan dirinya sebagai penonton aktif –inilah salah satu keberhasilan OVJ menempatkan jam tayang di waktu sahur dan waktu malam keluarga di bulan ramadhan kemarin, 2011- OVJ hingga lagu tersebut mampu melekat di pikirannya, cerita komedi di Trans7.
            Saya sangat khawatir terhadap realitas seperti itu. OVJ bukanlah komedi yang layak bagi anak-anak. Sebenarnya tidak layak pula bagi kita semua, tanpa batas usia. Sebelum lebih jauh, saya akan paparkan sedikit perihal sejarah komedi.
            Sejak zaman Yunani kuno bentuk-bentuk potensi drama komedi sudah muncul serta menjadi bagian seni klasik pada masa itu. Dalam perkembangannya, komedi merupakan salah satu aliran drama (pementasan) teater. Dalam studi-studi literatur kesastraan maupun studi seni pertunjukan, komedi diposisikan setara dengan tragedi, romance, dll.
            Pada zaman sebelum pesatnya perkembangan kapitalisme yang mengomersilkan serta mengaburkan nila-nilai seni tertentu, komedi dijadikan sebagai media kritik terhadap penguasa. Kisah ceritanya diangkat dari kehidupan latar sosial menengah ke bawah. Kemudian pementasannya disajikan dengan kelucuan-kelucuan (lawak) atas realitas sosial yang dianggap tidak sesuai terhadap kehidupan masyarakat menengah ke bawah. Saya sepakat dengan pemaparan Hikmat Budiman (dalam tulisannya “Komedi, Kritik!”), bahwa komedi berurusan dengan karakter, kelas, dan kehidupan yang inferior.
            Dalam tulisan ini akan jadi panjang, jadi saya tidak akan memberikan periode komedi, hanya saja komedi mulai dikenal secara luas dan universal melalui Shakespeare. Shakespeare dikenal sebagai pelaku seni drama yang mengusung bentuk komedi-tragedi. Sejak dikenalnya Shakespeare itulah komedian pun mendapatkan perhatian luas, meskipun sebelumnya komedi jelas sudah ada tetapi kurang mendapat perhatian secara universal.
            Pergeseran tatanan budaya global berdampak pada makna komedi itu sendiri. Kini komedi tidak lagi dianggap sebagai media kritik suatu kelas tertentu, melainkan suatu komoditas yang dikemas dalam nuansa budaya pop yang disajikan melalui saluran-saluran televisi.
            OVJ, yang tampil dengan ikon Sule, Azis, Nunung, Andre, dan Parto hanyalah sajian yang lawak pop yang jauh dari nilai-nilai lawak pada masa Shakespear, bahkan pra Shakespear. Tampilan OVJ disajikan bersama dua orang sinden serta pemain gamelan. Konsep yang diadopsi dari pentas pewayangan itu secara mengejutkan pula sempat memenangi Panasonic Gobel Award.
Azis tampil dengan karakter gagapnya. Sule tampil dengan tampilan (gaya/lifestyle) uniknya yang menurut saya bak icon preman. Parto tampil dengan karakter seorang dalang. Nunung tampil dengan keibuannya dan logat bicara kedaerahannya. Sementara itu, Andre tampil dengan karakter santai. Ketika semuanya telah tampil kita tidak akan melihat semua biasa-biasa saja dalam standar lawakan.
            Ciri utama lawakan OVJ adalah pemukulan-pemukulan yang menggunakan styrofoam, penjorokan (dorongan), hingga pelecehan tubuh. Di layar kaca televisi biasanya muncul penjelasan bahwa adegan pemukulan atau benturan tidak menggunakan benda yang keras. “Properti terbuat dari bahan lunak dan tidak berbahaya,” begitu biasanya kalimat penjelas, yang sesungguhnya sama saja kalimat itu dengan kalimat apologize (meminta maaf kepada penonton).
Sering kali seorang pemain memukul pemain lainnya dengan styrofoam sebagai bahan lawak. Dari pemukulan tersebut, kemudian penonton pun tertawa melihat kesedihan dan kepedihan yang dialami pemain “korban” tadi. Selain pemukulan dengan styrofoam, pemain pun sering didorong hingga jatuh ke tumpukan styrofoam. Lalu, pada saat jatuh itulah penonton tertawa –berdasarkan pengamatan saya, penonton di rumah cenderung terpancing tawanya melalui adanya ‘penonton bentukan’ di dalam layar kaca atau di studio- hingga menganggap bahwa kekerasan adalah lawak.
Pada episode yang bertajuk “Hantu Jalan Tol” misalnya, 2 Februari 2012, Ramzy sebagai pemain bintang tamu, saat melakukan adegan sembunyi, dijorok (didorong) oleh Andre. Spontan Ramzy pun tergeletak dengan kondisi styrofoam berantakan. Di sana posisi Ramzy selayaknya korban pun mendapatkan tawa dari penonton yang ada di dalam studio, yang sudah pasti kebanyakan penonton di rumah pun ikut tertawa. Apalagi para pemain yang ada di panggung, seperti Parto, Azis, Sule, dan Nycta Gina Jengkelin yang menjadi titik sorot kamera ikut tertawa. Adegan yang tergolong sebagai pemancing tawa penonton seperti ini sudah biasa, dan seperti saya katakan tadi menjadi ciri, terjadi di OVJ show. Pun model ini terjadi pada episode teranyar, “Seiring Sejalan Kisah Soes Plus” (7 Maret 2012).
Lebih ironi lagi ialah pelecehan tubuh yang dianggap buruk justru jadi pemancing lawak. Misalnya, pada episode yang sama (“Hantu Jalan Tol”), pun seperti yang terjadi pada tiap episodenya, pelecehan tubuh Nunung yang gemuk dan hidung Sule yang pesek itu dijadikan bahan tawa atau pemancing tawa. Perlu kita ketahui, bahwa bahan tawa seperti itu sama saja menertawakan “pihak” yang menciptakannya sebab orang yang ditertawakan tidak memiliki kuasa untuk memperbaiki bentuk tubuhnya selayaknya bentuk tubuh ideal di mata umum.
            Dengan bentuk komedi seperti itu penonton diajak, selayaknya adigum yang sudah umum, yakni “tertawa di atas penderitaan orang lain”. Saya kadang merasa tidak nyaman melihat adegan-adegan seperti itu, karena hal itu akan berpengaruh terhadap pembentukan mental empati secara enviromentalisme. Tontonan yang dilakukan berulang-ulang akan memengaruhi kepribadian, dan juga berpengaruh terhadap bagaimana kita menghadapi manusia-manusia ‘korban’ di dalam kehidupan nyata. Sadar atau tidak, kita sebagai penonton telah terkonstruksi terhadap cara memandang seorang ‘korban’. Kita diajak menertawakan korban.
            Skinner, salah satu tokoh psikologi berpengaruh dalam kajian-kajian sosial, memaparkan bahwa kepribadian seseorang itu dibentuk oleh lingkungan. Kondisi masyarakatnya, kondisi agama, kondisi sekolah, kondisi sosial politik, dan termasuk kondisi budaya pop yang terwujud dalam sajian televisi. Kondisi-kondisi yang disebut Skinner dengan “enviromentalism”. Kondisi-kondisi itu akan memengaruhi perubahan seseorang, serta berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. Termasuk dalam membentuk potensi-potensi kekerasan di dalam diri.
            Dari pola enviromentalisme kita akan paham bahwa kekerasan dapat dibentuk oleh kondisi apa yang ada di lingkungannya. Erich Fromm memaparkan, kekerasan ada pada tiap manusia. Bentuknya berupa agresi (serangan) terhadap orang lain. Agresi dan narsis adalah dua unsur kekerasan manusia. Keduanya berpotensi merusak relasi antar manusia (istilah ala kapitalis sekarang: merugikan orang lain).
            Begitu pula halnya adegan-adegan di dalam OVJ tadi, secara tidak sadar kita menyaksikan bentuk-bentuk kekerasan yang dikemas dalam wujud lawak. Pemukulan yang menggunakan styrofoam merupakan wujud agresifitas. Pelecehan tubuh merupakan wujud narsisme. Itu artinya, keduanya adalah bentuk kekerasan yang sedang dipertontonkan kepada publik yang berdampak pada karakter penontonnya. Menonton secara terus-menerus atau berulang-ulang akan memengaruhi sikap di dalam kehidupan nyata dan memengaruhi bertambahnya potensi kekerasan di dalam diri. Artinya, bila kita menertawakan bentuk kekerasan dan “korbannya”, maka kita akan bersikap tanpa nilai-nilai manusiawi dan empati terhadap korban-korban dalam kehidupan nyata seperti korban kecelakaan, korban kekerasan, dan korban pelecehan tubuh.
            Setelah memaparkan sedikit uraian mengenai ‘perjalanan’ komedi di atas, tidaklah salah kalau kita tidak membiasakan menyaksikan bentuk acara OVJ yang penyajiannya menghadirkan ‘penonton arahan’ atau ‘penonton bentukan’ demi memancing daya tawa penonton di rumah. Bila kita melihat suatu adegan –menurut pandangan saya, secara umum tayangan OVJ dibantu oleh penonton bentukan tadi untuk membantu adegan lawak hingga penonton merasa adegan tersebut layak ditertawakan- yang tidak lucu, kita akan bisa ikut tertawa karena terbawa (influence) penonton di studio (dalam layar kaca televisi). Alasan utamanya, seperti yang telah saya singgung di atas mengenai pengaruhnya terhadap kepribadian, ialah dehumanisasi (istilah yang sering digunakan untuk memaknai perusakan nilai-nilai kemanusiawian). Kebiasaan-kebiasaan menonton komedi seperti OVJ ini justru tidak memberikan kesegaran bagi diri dengan cara tertawa yang puas, melainkan tertawa di atas penderitaan orang lain, seperti sebuah kejahatan yang kita saksikan dan justru kita menertawakan kejahatan tersebut.

            Oleh karena itu, lebih baik membuat lawakan-lawakan sendiri di dalam rumah terhadap anggota keluarga, kepada sesama teman, maupun tetangga sesuai selera humor masing-masing tanpa tedeng aling-aling menyebarkan atau menanam unsur kekerasan. Membuat lawak sendiri sesuai versi kelucuan kita masing-masing jelas lebih segar dan tidak ada influence untuk tertawa dari penonton bayaran. Atau, lebih baik lagi kita mengembalikan nilai-nilai lawakan pada zaman klasik yang berorientasi pada penyindiran kepada penguasa, yang sifatnya jauh lebih kritis sebagai masyarakat demokratis.



*awalnya tulisan ini tersiar dengan judul "OVJ dan Nilai-Nilai Kemanusiaan"

Tuesday, April 12, 2011

Televisi, Anak-anak, dan Wacana Kekerasan

Anak menonton TV
Oleh : Fredy Wansyah
Salah satu klasifikasi siaran televisi yang mengkhawatirkan bagi penonton adalah berita. Siaran berita adalah suatu penyajian yang menyampaikan fakta.
Fakta, realitas, dan aktualitas merupakan landasanya. Kejadian-kejadian atau isu maupun wacana yang dianggap penting oleh penyaji berita disajikan tanpa batas.
Hal ini terkait dengan sasaran "pemakai" televisi. Bila televisi ada di suatu rumah, maka tidak menutup kemungkinan seluruh anggota keluarga yang berada di dalam rumah menyaksikan sajian berita. Salah satu contoh yang sangat mengkhawatirkan adalah berita kekerasan agama. Sajian visual tampak "telanjang", interaksi kekerasan terjadi tanpa ragu-ragu penyaji menyampaikan berita yang menampakkan perilaku kekerasan (sosial).
Kekerasan pada berita seolah-olah merupakan suatu bentuk (wujud) representasi faktual. Representasi kekerasan tersebut disaksikan dan direkam oleh anak. Berbagai macam bentuk kekerasan yang terjadi, yakni kekerasan fisik, kekerasan simbolik, kekerasan verbal, hingga kekerasan lainnya yang bersifat merusak sifat-sifat kemanusiaan. Salah satu bentuk yang sering muncul ialah melalui visualisasi.
Visualisasi berita berorientasi pada landasan penyajian berita, yakni fakta. Sehingga, hal itu tidak ditutup-tutupi (tanpa sensor). Sajian-sajian visual seperti ini sering kita saksikan di televisi belakangan ini atas terjadinya kasus kekerasan yang terjadi. Seseorang memegang senjata tajam, seseorang memukuli seorang lainnya, hingga pengrusakan rumah yang dilakukan secara massal. Itulah bentuk-bentuk visual yang sering kita cerna atau terima belakangan ini.
Tidak ada batas usia, atau setidak-tidaknya, tidak ada yang menjamin orang tua dalam suatu rumah tangga mampu mengontrol sajian berita terhadap anak-anak. Orang tua yang sibuk secara rutin jelas tidak mampu mengontrol sajian-sajian berita kepada anaknya. Apalagi, berita dianggap suatu sajian yang faktual sehingga dianggap suatu sajian yang biasa saja. Kadang kita temui sajian-sajian televisi berlabel "khusus dewasa", tetapi bentuk pengkhususan ini hanyalah semu.
Anak-anak akan merekam visualisasi kekerasan yang tersaji melalui siaran berita di televisi. Rekam pikiran tersebut menjadi suatu potensi kekerasan yang baru bagi anak-anak. Rekam pikiran tersebut pun menjadi potensi kekerasan baru yang mungkin dapat dilakukan oleh sang anak.
Wacana kekerasan tidak hanya menimbulkan potensi kekerasan baru bagi anak-anak melalui visualisasi televisi semata, tapi melalui elemen-elemen lainnya seperti suara dan bahasa. Oleh karena itu, diperlukan sikap-sikap tegas terhadap wacana kekerasan yang tersaji di televisi. Tindakan mengantisipasi dan mewaspadai wacana-wacana kekerasan seperti ini tidak harus diantisipasi oleh masya rakat semata sebagai penonton televisi.
Proses praktik-praktik wacana kekerasan yang divisualisasi merupakan suatu proses yang membutuhkan pertimbangan batas usia. Dalam hal inilah peran pelaku praktik kewacanaan dibutuhkan untuk meminimalisir kemungkinan munculnya potensi kekerasan yang terinfiltrasi dalam kehidupan anak. Peran ini sangat efektif dibandingkan peran-peran orang tua.
Selain pertimbangan skala usia yang dilakukan oleh dua elemen tadi (pelaku wacana dan orang tua), pertimbangan efektivitas wacana perlu menjadi perhatian berikutnya. Proses-proses wacana kekerasan disajikan sebaik mungkin dengan penyajian yang minim terhadap visualisasi kekerasan, namun tujuan utamanya tetap tersampaikan. Tujuan utama suatu warta adalah informasi, sehingga penonton mampu menerima pesan informatif tersebut sebagai berita yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Televisi bagi anak anak bukanlah media informasi yang menciptakan potensi-potensi destruktif di dalam dirinya. Televisi merupakan media yang informatif, edukatif, dan hiburan.
Oleh karena itu, berita sebagai salah satu bentuk siaran televisi tidak hanya menyajikan informasi semata, melainkan aspek-aspek edukasi dan hiburan dalam berita pun perlu disajikan kepada anak agar anak dapat menerima dengan baik dan seperlunya wacana-wacana berita di televisi.***
Penulis adalah Mahasiswa Sastra Indonesia, dan aktivis sosial.

Tuesday, March 23, 2010

Media Masa dan Munculnya Potensi Kekerasan Sosial





media massa (foto: blogspot)
Media Masa dan Munculnya Potensi Kekerasan Sosial


Oleh : Fredy Wansyah

Beberapa minggu belakangan ini wacana terorisme muncul di berbagai media masa, baik itu cetak maupun elektronik.

Penggerebekan oleh aparat terhadap teroris di Aceh dan termasuk penggerebekan yang menim bulkan kematian Dulmatin menjadi berita hangat. Di media cetak wacana ini menjadi headline. Sementara di media elektronik, seperti televisi, menjadi berita-berita terkini yang muncul dalam skala perjam.

Bila melihat metode pemberitaan yang frekuensinya tinggi hingga kontruksi, terlepas dari segi positif maupun negatif, ini akan mengakibatkan ingatan atau komposisi berpikir masyarakat konsumen wacana di media- lebih tinggi dibandingkan dengan wacana-wacana lainnya. Dan, penyeragaman wacana pun berdampak pada kehidupan sosial sesuai konteks industri wacana dalam industrialisasi media masa.

Televisi dan media cetak adalah penyalur wacana terbesar di dunia, apalagi melihat pola konsumerisme di Indonesia yang memudahkan pertumbuhan media cukup significan. Chris Barker menyatakan dalam bukunya, Cultural Studies, televisi adalah bagian dari prakondisi dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, pembayangan sosial, yang kita gunakan untuk memersepsi dunia-dunia, realitas kehidupan orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita. Pandangan terhadap televisi tersebut tidak jauh beda dengan media cetak, yang mengakibatkan adanya rekontruksi sosial. Indikasinya terlihat dari opini-opini di masyarakat yang seragam dan mengacu kepada media masa (televisi dan cetak). Jadi, dengan munculnya wacana terorisme di media masa, opini-opini masyarakat pun berkembang sesuai pemilihan wacana yang dilakukan oleh pelaku industri wacana.

Secara sadar maupun tidak sadar, berkembangnya wacana terorisme akan menimbulkan dan membekas dalam pikiran masyarakat mengenai teror. Dunia teror merupakan salah satu bentuk kekerasan. Sementara teroris dapat digolongkan menjadi dua bagian berdasarkan konteks pelakunya, yakni teror society dan teror negara. Teror society dilakukan masyarakat terhadap suatu kelompok masyarakat itu sendiri. sedangkan teror negara merupakan teror yang dilakukan kelompok terhadap kenegaraan, yang cenderung mengusik kekuasaan.

Teror sebagai kekerasan yang diungkap di media masa justru menimbulkan pengetahuan masyarakat mengenai dunia teror, bagaimana teroris melakukan teror, seperti apa metode meneror, dan apa saja keperluan meneror, serta perangkat-perangkat teroris. Salah satu bentuk nyatanya adalah, sebelum adanya wacana terorisme di media masa kemungkinan terbesar masyarakat belum mengetahui seperti apa cara-cara kekerasan teroris. Subtansi dalam industri wacana adalah distribusi komoditi, dalam hal ini wacana, seluas-luasnya tanpa mengikat dan mempertimbangkan usia konsumen. Sehingga, yang terjadi adalah penyimpangan kelayakan konsumsi wacana. Wacana-wacana kekerasan yang seharusnya tidak dikonsumsi oleh anak-anak usia dini, namun karena hal tersebut mereka dengan mudahnya menerima dan mengonsumsi wacana yang diterima.

Pada skala usia inilah yang menjadi pemicu yang fatal atas distribusi wacana di media masa. Potensi kekerasan yang telah tertanam di benak anak-anak kemungkinan dapat teralisasi ketika usianya dan fisiknya telah mendukung. Sebab, dalam konteks pengarahan wacana dalam kehidupan masyarakat kita tidak disesuaikan dengan kondisi usia. Seorang anak kecil yang mengonsumsi wacana teroris tersimpan dalam benaknya, sementara pengarahan baik dan buruknya terhadap wacana yang diterima. Bebasnya seorang anak menginterpretasi wacana-wacana media masa itulah yang sangat dikhawatirkan akan muncul dan terealisasi dalam bentuk agresi-individu.

Selain dalam skala usia, yang sangat dikhawatirkan adalah pemilihan wacana serta intensitas penyebaran wacana. Semakin tinggi intensitas munculnya wacana teror, semakin besar pula kemungkinan berkembangnya paradigma teror. Maka, wajarlah bila seseorang mudah direkrut oleh teroris untuk masuk ke kelompok mereka sebagai penambah kekuatan masa dalam merusak atau agresifitas terhadap negara. Sebab tidak ada jaminan seseorang menerima wacana di media masa untuk menghindari sikap-sikap yang merugikan dalam kehidupan sosial.

Dalam hal ini perlu diadakannya kelembagaan dalam memantau wacana di media masa sebagai pengarahan konsumsi wacana, khususnya dalam perspektif usia. Namun, kelembagaan ini harus terlepas dengan ikatan kapitalis agar tidak mementingkan subtansi kelembagaan.*** 


dimuat di harian Analisa Medan
 
Back To Top
Copyright © 2014 Fredy Wansyah. Designed by OddThemes