Nyala Api Pejuang Buruh Beno Widodo
Oleh Fredy Wansyah
Di seberang jalan sana tanah lapang
penuh kaos dan bendera berwarna merah. Tanggal 16 September 2012. Di tengahnya
sebuah panggung menyurakan suara-suara politik buruh. Mereka seakan curhat yang
cerdas, cerita tentang keluhan ekonomi hidup. Suara realitas kehidupan buruh.
Di bawah pohon trotoar jalan, ia
duduk bersila. Matanya tajam. Ia menyatakan, “Mati suri gak kerasa apa-apa.”
Pernyataan tentang pengalamannya
sendiri. Tentang sakit. Sekitar beberapa bulan sebelumnya, ia mengidap
penyakit. Itu seakan puncak, setelah sebelumnya, beberapa tahun yang lalu, beberapa
kali ia mengeluh encok. Rumah sakit jadi pelabuhan. “Antara kerasa dan gak
kerasa di rumah sakit, tapi pas sadar-sadar udah diimpus.” Ia pun melanjutkan,
“Terus diceritai, aku sempat kritis. Garis komputer, kayak film-film itu loh,
udah lurus aja.” Sambil menggenggam balckberry ia melanjutkan, “Jantungku
sempat gak jalan. Untung waktu itu saudaraku jaga aku di samping kan, langsung
dia manggil orang rumah sakit, terus dipompalah jantungku.” Ia semangat hidup
di kala kritis. Ia semangat hidup di kala sakit.
