Jatinangor - Cianjur (Sindangbarang)

Aku dan Waktuku

Pagi, aku tak suka dengan pagi. Karena pagi mimipi-mimpiku hilang. Karena pagi aku harus berdiri dari kasur. Karena pagi pula suara sunyi hilang. Ketika itu pukul tujuh pagi aku harus bergegas ke kamar mandi, dengan tubuh yang dimeriahkan kuman-kuman. Kuusir kuman-kuman itu dengan sebilah sabun. Hah. Seperti pemimpin otoritarian di negara ini yang mengusir pejuang-pejuang merah di pulau Bali di zaman kuasanya.

Aku dikejar waktu. Roy, dia seorang lelaki yang belum kukenal sudah berani aku berjanji dengannya untuk melakukan survei lapangan KKN. Hari ini aku akan mengembara ke desa Jatisari karena permintaan teman-temanku. Ah, mengapa tubuhku digerakkan oleh keinginan-keinginan teman. Tubuh kita digerakkan oleh urat-urat dan otak kita sendiri.

Pukul delapan kurang bus menuju Cianjur kudapati. Desakan orang-orang tak mengurungkan niat aktifitasku dengan pagi. Pagi waktu yang tak kusuka. Merancang pikiran-pikiran yang berserak, aku harus memenuhi kewajiban dari dua puluh enam orang. Di jalan pula aku selalu melakukan kontak dengan lelaki itu, Roy. Dia pemimpin kelompok lain, pada sebuah kegiatan KKN yang entah kebetulan atau tidak berada di Kecamatan yang sama, Sidangbarang.

Waktu. Ya, waktulah yang dapat mngatakan manusia hidup atau mati. Seperti diriku, pukul setengah sebelas sudah berada di daerah Jebrot, Cianjur. Hingga tepat pukul sebelas aku baru bertemu dengan lelaki itu.

Perjalanan hidup ini masih panjang, hingga tak ada yang mampu mengirakan. Begitu pula aku dan Roy, perjalanan menuju Sindangbarang tidak tahu sama sekali, hanya memiliki tekda dan kewajiban. Kami berdua digiring ke sebuah angkutan umum, yang disebut mereka dengan heleb. Ha? Mengapa helep? Apakah mereka menamakan jenis angkutan itu dari bahasa inggri, Help, apa hubungannya?

Dalam perjelan di dalam heleb, aku berteriak ‘help…!’, ketika kondektur mengatakan besarnya ongkos adalah empat puluh ribu dan jauhnya perjalanan dalam heleb ini memakan waktu kisaran 4 – 5 jam. Ya, benakku berteriak ‘help, help, help, dan help..!’. perjalanan di tambah ‘help’ dengan suguhan jalan yang membuat badan geol-geol. Menari dan goyang geol. Kami di dalam bus itu memutar-mutar badan mengikuti iringan penonton. Bukan disko, bukan pula aliran rock ataupun dangdut, tetapi aliran jalan yang rusak.

Dan, tibalah aku dan Roy di sebuah kantor camat pada pukul setengah empat. Aku berhitung seperti anak SD, 16 kurang 11 sama dengan berapa? Jawabnya dalam imu sains adalah 5. Ya, kondektur itu tidak salah. Perjalanan memakan waktu sekitar empat sampai lima jam.

Sebelum kami berdua sampai pada tujuan, desa masing-masing, tujuanku adalah desa Jatisari. Kami berdua berbincang sejenak dengan pegawai kecamatan.

Dalam perjalanan menuju desa, kami diantarkan dengan sebuah ojek. Ya, ojek ala Indonesia. Sebelum melewati jembatan yang lumayan panjang, benakku berpikir “Adakah ojek di luar negeri sana? Kalau ada berapa ongkosnya?”

“Hey ojek, mari kita bicara hutan Jati ini”

Pengojek itu diam

“Mang, mang, mang, kenapa diam? Kenapa hutan-hutan jati ini ditebangi dan diangkut dengan truk-truk tanggung itu?”

Dia masih diam. Ah, ternyata aku berkata dalam hatiku sendiri. pantas saja pengojek itu tidak bersuara. Ingin bertanya pada Roy, dia sudah sampai dahulu di desa kertasari, tempat tujuannya. Kunikmati perjalanan dengan ojek ini dengan memandang menjulangnya daun hijau. Segar. Mata menari bagai negeri Victorian di kerajaannya. Jalan pun melebihi aliran dari jalan ketika naik heleb tadi. Tubuhku dipaksa untuk bisa bergoyang keras ala Mayhem 1983. Huh, pengojek ini ingin kusepak terjang bagai CR7 yang berubah menjadi CR9 menendang bola. Membawa motor dan tubuhku tak peduli dengan penumpangnya. Hancurlah tubuhku. Apa pengojek ini bekas pesaing Valentino Rossi? Tak mungkin, dia bertutur dengan nada sunda.

“Di sini, De. Itu kantor desanya” Katanya menghentikan motor sambil menunjuk arah kantor desa Jatisari.

“Oh, iya. Makasih, Mang”

Dan, waktu memamerkan angkanya di pukul lima kurang. Perjalanan hampir memakan waktu satu jam. Huh. Lalu, yang kutemui bukanlah kepala desa, elainkan sekretaris desa. Sekretaris desa yang ramah. Langsung disambutnya dengan suguhan air putih. “Ah, kenapa tak air es saja yang disuguhkan. Tubuhku kering dan panas pun” kata hatiku. Itu saja aku harus ucap terima kasih padanya “Makasih, Pak. Ditampi ya, Pak” Kataku pada sekretaris desa itu.

Waktu telah memulangkan tubuhku lagi di kamar kecilku. Jatinangor aku pulang. Dan, waktu itu berbisik di telingaku “Tidurlah, kau lelah. Aku selalu perhatikanmu. Sudah larut malam. Sekarang pukul dua malam”

-Fredy Wansyah

Catatan perjalanan



1 komentar:

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

Jatinangor - Pantai Kalapaan

Pantai Kalapaan

Suasana desa. Debu-debu saling kejar. Tetapi, padi-padi di sawah riang menari. Manusia sibuk dengan sibuknya sendiri, dengan sepeda, motor, dan jalan kaki. Lebih sering kulihat manusia di sini menggunakan motor, hingga debu semakin saling kejar.

Kata mereka, saat aku mendapati tepi pantai, waktu menunjukkan sekitar pukul empat sore. Entah dari mana waktu itu berasal. Sampai-sampai semua manusia terpengaruh. Hebat, manusia yang menciptakan waktu, sebab tak satu pun manusia saat ini melepaskan pengaruh waktu. Hidup dengan waktu, mati dengan waktu, bahkan bergerak dengan waktu. Setiap gerak adalah waktu. Ombak di depan sana pun melambai mengucapkan ‘selamat datang’ padaku dengan waktu.

Kadang, ingin aku menjadi ombak, ingin aku menjadi air laut, ingin aku menjadi nelayan itu, ingin aku menjadi matahari. Tapi, itu cuma cerminan aku sebagai manusia.

Angin sepoi-sepoi, yang seorang warga katakan ini adalah pantai Kalapaan desa Patimbang, mengelus-elus tubuhku. Sudah lama aku inginkan suasana ini. Sudah lama aku tak mendapatkan belaian, inilah angin pantai. Aku hirup angin pantai ini dengan sebatang rokok, padahal pemerintah sudah mengingatkan bahaya rokok, bahkan belakangan akan memberikan peringatan melalui gambar di bungkus rokok. Ah, tak peduli aku dengan itu, karena ini pantaiku, pantai milik semua. Duduk di atas batu-batu yang membatasi laut dengan daratan menjadi tempat istirahatku sementara, bersama tas sandang yang penuh.

Sudah. Kulalui kisah di bibir pantai itu. aku beranjak sedikit ke arah daratan, pada sebuah warung dengan plang di depannya ‘Sedia Ikan Bakar’. Akau pesan sepucuk kopi untuk kunikmati dengan mengarah ke lautan luas.

Baru beberapa menit aku hinggap di warung ini, keributan sudah terjadi. Ada apa? Mengapa? Tanya-tanya itu berduel dalam kepalaku.

Ternyata, sepasang belia melakukan mesum di sebuah joglo. Kata seorang yang kutanya, pasangan itu masih berusia 15 tahun dan 14 tahun. Ah, sudahlah. Toh mereka juga manusia. tak seharusnya mereka disalahkan. Hingga pemilik warung pun menyandera motor mereka. Konyol memang. Tapi, setelah bernego, akhirnya pemilik warung hanya menyandera ponsel genggam mereka, dengan alasan agar orang tua mereka datang menemui pemilik warung. Pemilik warung, ketika aku tanya, dia tak ingin warungnya dinodai. Dan, penyanderaan barang itu mengakhiri permasalahan. Pasangan belia pun pergi, tetapi wajah imut si gadis seperti terkurung dalam terali besi. Menangis tanpa berkaca-kaca.

Dan, malam menyambutku pula. Dengan alunan ombak. Siapa sangaka ombak laut masih berteriak? Ketika seabad ke depan, ombak pasti sudah marah.

Dengan sebatang pancing, aku menjadi teman laut pada malam hari. Hingga waktu menjelang subuh. Memancing, memancing, dan memancing di tengah malam. Layaknya pelacur menggembala di tepi jalan. Sambil menghabiskan rokok setengah bungkus, ketika itu, aku pegang ponsel genggam karena tak ingin kulewatkan waktuku dengan sepucuk daun. Tapi sayang, kekuatan energi ponselku tak bersahabat, terputus disaat pembicaraan lewat pesan belum usai. Ayam berkokok, petanda aku dan mang Ejo harus meninggalkan laut. Hanya beberapa ikan yang kami dapat. Dari hasil tanganku hanya seekor ikan, karena aku belum mahir memancing. Kata mang Ejo, memancing tak asal memancing. Dia mengajariku memancing, bahkan dia yang memiliki istri dua menyangkutkan cara memancing ikan dengan memancing perempuan. Kalau sudah terasa dipatok gertak saja sedikit, begitu kata mang Ejo menambahkan. Hentakan atau gertakan itu penting untuk memancing, begitu pula memancing perempuan. Begitulah yang kutangkap dari kata-kata mang Ejo. Sambil meninggalkan laut, aku berpikir bagaimana perempuan mematok?

Pagi dan kopi. Tak kuminta, kopi sudah tersedia. Sepertinya wajahku sudah tersurat bahwa aku adalah kopi. Aku, mang Ejo, dan seorang pemilik warung bercerita tentang desa Patimbang, khusunya warga pesisir pantai Kalapaan. Dimulai pembicaraan lelucon hingga serius.

Desa ini sedang mengalami masalah. Warga pesisir di sepanjang pantai tak memiliki kebebasan hidup. Mereka diikat dengan retribusi. Tindakan aparat pun semena-mena, Bahkan, tanda bukti pembayaran retribusi tidak pernah mereka dapatkan. Itulah salah satu pemicu keresahan warga pantai Kalapaan. Keresahan lainnya adalah uang-uang retribusi setiap rumah / warung di tepi pantai, uang portal (yang dimaksud uang portal adalah uang masuk setiap pengunjung, dengan minimal Rp.2.500,- per kepala), dan uang tahunan dari pemilik warung. “Dipikir-pikir kemana semua uang itu, mas?” Kata seorang pemilik warung kepadaku. Sejak pembenahan pantai Kalapaan tahun 2001, tak pernah terealisasi uang itu, begitu menurut pemilik warung. Janjinya akan membuat jalan menuju pantai dari jalan raya lebih baik. Tetapi, penantian perbaikan jalan oleh warga pantai tak pernah ada. Dan, seorang warga pun resah bila suatu saat nanti mereka akan diusir oleh pemerintah. “Seperti yang di tv-tv itu, mas” Kata seorang warga. Sebab, warga pesisir pantai hidup di tanah pemerintah, bukan tanah pribadi. “Saya gak punya tempat tinggal lagi kecuali di sini” Pemilik warung itu mengeluh. “Saya Cuma modal papan dan paku mendirikan rumah ini, tapi kan setidaknya saya tinggal di negara saya sendiri kan, mas” Tambahnya.

Dengan semangatnya mereka bercerita padaku. Tentang keluh kesah warga pesisir. Sudah sering mereka mendatangi kepala desa setempat, bahkan mereka telah melakukan unjuk rasa ke kecamatan, tapi hasilnya ‘nol’. Malah, belakangan mereka dimintai uang keamanan dari Kapolsek.

**********

Perjalanan ini kututup dengan sehelai daun..



0 komentar:

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

Jakarta - Jatinangor

Daun. Ya, dia kusebut daun. Terpaksa aku harus mengondisikan jadwal dari kerumunan, seperti semut yang beriring di atas tanah. Karena aku ingin menjadi batangnya. Dia membuat ‘status’ di dindingnya “Bingung weekend mau kemana”, kurang tambah seperti itulah.
Berawal dari kegiatanku, salah satunya adalah berdiskusi ‘Puisi’ di Langkah. Wahid, Ijul, dan beberapa yang lainnya mempercayakan aku untuk mengisi, maksudnya memandu diskusi itu. Usailah, usailah, usailah. Dalam hatiku geyal-geyol kata-kata itu saat diskusi, sebab aku ingin cepat beranjak untuk mengisi kegiatan lainnya. Malam-malam di sebuah kota Jakarta yang menurut temanku, Gemy Mohawk kota itu tak lagi banyak cinta, hingga dia ingin sirami Jakarta dengan cinta melalui puisi-puisinya. Ya, salah satunya adalah Gemy, dia menjadi pengisi acara untuk mengenang Marsinah. Sebelum aku beranjak, ku katakan pada si ‘kecil’ tapi tak sebanding dengan nyalinya, Alfa (Apa hubungannya dengan Alfamart?), “Kalau aku pacar Marsinah//aku banjiri Indonesia dengan spermaku”.
Tapi, sayang. Aku tak sempat mengisi acara untuk mengisi Marsinah itu. padahal mereka telah memberikan kepercayaan padaku sebagai pembaca puisi. Tibanya ditempat adalah kekecewaan pada bus. Bus itu yang membuat aku telat, memakan waktuku sampai tertinggal bijinya.
Ah, ah, ah, ah. Kubuat jalan sendiri antara hatiku dengan almarhum Marsinah. Maafkan aku sayang, begitu kata dalam hatiku. Aku tak mampu memberikan suaraku.
Malam adalah ketenanganku. Malam yang menidurkan mataku. Malam itu pun aku duduk di bawah patung kehormatan. Patung Indonesiais. Sampai nanti aku berbincang-bincang dengan pejuang baru. Pejuang yang tidak akan menjadi patung pada zamannya. Tak perlu mungkin kusebut namanya. Mereka tetap pejuang, bukan aktivis. Lalu, aku menyerahkan tubuhku kepada waktu, hingga nanti mengeluarkan matahari.
Ya, tak salah aku berpikir seperti itu. Kubelalakkan mata, matahari keluar. Entah siapa dokter yang membantu mengeluarkannya. Pastinya, kehadirannya adalah kehidupan. Kehidupan bagi mahluk hidup. Harapan bagi matahari itu sendiri.
Siang menjadi hujan. Apakah ini yang diinginkan temanku itu, Gemy Mohawk, membanjiri Jakarta? Bukan, dia ingin membanjiri Jakarta dengan cinta, bukan dengan air. Ingin bertemu tapi tak diinginkan, seperti itulah ungkapku saat melihat hujan menangis. Ku pandang dari tepi pintu. Di air itu satu persatu terlihat wajah daunku. Bukan, dia belum menjadi daunku, tapi akan menjadi daunku. Ah, aku ingin sekali bertemu dengan Sujiwo Tejo untuk memainkan materanya agar hujan ini tak berhenti. Sayang, aku tak bertemu semalam dengan budayawan itu. Sebab, aku terlalu lama di jalan menghabiskan waktu. Akhirnya ku telentangkan saja tubuhku di atas badai Jakarta itu. Menunggu reda untuk bertemu teman-temanku lainnya.
Reda, waktu itu dialah yang membangunkan aku. Tak sanggup berdiri, aku masih baringkan tubuh. Namun, suara temanku, Kika, melalui alat canggihku dia menarik tubuhku dari Pisangan hingga Kota Tua. Beberapa kali Kika meneleponku. Lalu, aku beranjak cepat dengan Joko Sumantri. Joko Sumantri adalah salah satu teman yang ku katakan pejuang. Tubuhnyanya besar dililiti oleh keinginan rakyat kecil. Dalam kaca mata yang dipakainya bertulisakan “Sosialismekan Indonesia”. Aku pun berharap begitu.
Aku tiba juga dengan Joko di Kota Tua. Kota yang penuh kenangan, sebab beberapa bulan lalu aku menguji nyali di taman Kota Tua, membacakan puisi di antara keramaian. Berlari-lari pula bersama tim Lenting, seperti berlarinya orang-orang kecil mengejar hak-hak mereka yang kunjung dapat. Di Kota Tua, sebelumnya aku melihat paras kota di dalam busway dihiasi dengan perempuan-perempuan yang sedang mencuci mataku. Tidak, tidak, pikirku saat itu. karena aku harus berdaun dengannya.
Aku bertemu dengan Gemy Mohawk di awal kakiku melangkah di sebuah acara Sastra Reboan. Sastra yang diadakan setiap hari rabu, tapi enatah kenapa waktu itu tidak menandakan hari rabu. Lelaki pejuang itu bertopi hitam. Ada apa dengan topi hitamnnya? Mungkin, aku menandakan hitamnya topi di atas kepala itu adalah hitamnya dunia ini.
Tak berapa lama, tak sempat ku biarkan waktu menggerogoti tubuhku lagi, aku bertemu dengan Kika. Dialah yang menarik aku, mungkin juga salah satu orang yang menarik aku dari kota kecilku, Jatinangor.
Ku curi-curi pemandangan di dalam. Pemandangan sastra. Pemandangan yang ramai dengan penggiat sastra, di dalam Museum Mandiri. Layaknya kota sastra. Aku ingin kota kecilku, juga negara boneka ini riuh dengan sastranya. Jauh sekali dari kenyataan sastra negara boneka saat ini. Padahal beberapa pendiri negara boneka ini adalah penggiat sastra. Salah satunya adalah mas Marco.
Sepertinya Kika mengetahui mataku yang mencuri-curi. Dia mengajak aku masuk ke dalam ruangan. Aku injakkan kaki ke dalam. Oh, hati aku disiram dengan air panas. Meletup-letup melihat para Puan-puan di dalamnya. Di anata ramainya itu, aku mencari cupit-cupit yang mungkin saja terbang di dekatku, agar dia memanah salah satu di antara keramaian itu. sudahlah, cupit itu hanya klise kehidupan. Tak mungkin bisa.
Kakiku membaku tubuh ke tempat peraduan sementara Bamby Cahyadi dan Khrisna P. Mereka berdua tak tahu aku sedang mengintai mereka. Aku cermati gerak-gerik mereka. Mereka menyambutku dengan salam. Salam, salam, dan salam. Apakah salam bisa menyambut kemanusiaan? Ah, biarlah salam terus duduk di kepala manusia-manusia. kini aku bisa berbicara langsung dengan Bamby dan Khrisna. Berbincang tanpa klise, sebab aku dan mereka berbincang mengenai cerpen. Salah satunya adalah cerpenku yang berjudul “Ruang Kosong”. Perbincangan sampai pada perbincangan rencana Khrisna P. yang akan menelurkan bukunya. Disela-sela itu ada garis-garis di dalam tubuhku berdenyut tepat saat hadirnya pembaca puisi yang baru saja beraksi.
Aku keluar dari ruangan itu, mulutku tak bersahabat. Ingin menelan asap-asap rokok. Ah, lebun aku. Tak ada tersisa rokok di kantungku. Tak apa, aku memiliki teman. Aku bisa menghisap rokok. Asap-asap itu menari-nari, seperti tarian tor-tor, tarian yang kurindukan karena sudah beberapa tahun aku tak menyaksikan tarian itu. Tapi, mengapa yang hadir di balik asap itu lelaki berambut panjang? Seharusnya yang menari tor-tor adalah perempuan. Dia lelaki berambut panjang, menempel pula bercak hitam di wajahnya. Apa bercak itu? Mengapa hitam juga, seperti warna topi Gemy Mohawk? Aku kini yakin, dunia ini sudah hitam, maka mereka membuat tanda itu hitam. Lelaki itu bercanda, membuka mulutnya lebar, berfoto ria. Ada apa pula dengan dirinya? Apakah dirinya akan meninggalkan dunia ini? Tak mungkin, dia masih sehat. Oh, dia ternyata Nurudin Ashadi. Dialah seorang penggiat sastra, namanya sudah tertempel di setiap komputer, dan tidak hanya komputer tetapi kertas. Aku ucapkan salam padanya, entah kenapa manusia seperti semut. setiap bertemu selalu bersalam. Tak salah aku menyebut diriku adalah semut.
Modar-mandir, tak ingin tahu kemana ruangku. Di mana pula ruang kosongku. Setelah aku berbincang banyak dengan para penggiat sastra itu. Tiba-tiba, si Abang, ya si Abang, karena dia terlahir dari budaya tor-tor pula. Tapi, aku tak tahu apakah dia merindukan tarian tor-tor juga. Dia yang dulu hadir bersama Putri Sarinande, Dino Umahuk, Yonathan R, di kampusku. Dia yang disebut dengan Sihar Ramses Simatupang. Loh, apa itu simatupang? Aku tak tahu, karena aku juga punya yang lain di namaku, Sihotang. Tapi, itu tak ku lekatkan di namaku. Karena aku Fredy Wansyah, bila di akta disebut Fredy Wansyah Putra.
Malam ini, malam usai pertemuan kecil di ruang sastra reboan, tepat di Kota Tua, aku terpaksa mengejar keinginan. Mengejar si bakal Daunku. Aku tak tahu kalau nanti dia tak jadi daunku, aku mendapatkan suplai klorofil dari mana. Maka, aku bergegas kembali dari perselingkuhanku oleh Jakarta. Jatinangor, aku kembali malam apapun itu. Malam jahat. Ya, malam jahat kusebut, karena aku dipaksa berdiri dari kota Jakarta hingga kota kecil Jatinangor, di dalam bus. Tak apa, karena aku ingin memiliki daun agar tak kering tubuhku.
Malam di tempat peraduanku setelah mengembara ke kota besar kulakukan, adalah bagian dari cintaku untuk Jatinangor.


0 komentar:

Silakan tinggalkan komentar Anda di sini. Semoga komentar Anda menjadi awal silaturahmi, saling kritik dan saling berbagi.

Copyright © 2013 Fredy Wansyah | Sitemap Fredywp | Pasang Iklan
UA-41482955-1